Sosok

Al-Syahid Ahmad Iwadh

Al-Syahid Ahmad Rajab Iwadh lahir pada tanggal 2 Pebruari 1976 di kampung al-Zaitun sebelah timur kota Gaza. Mengenyam pendidikan di sekolah dasar milik Lembaga Internasional untuk pengungsi Palestina (UNRWA).

Setelah tamat di sekolah dasar al-Zaitun dengan nilai sangat baik (8,01-8,99) kemudian ia melanjutkan pendidikanya di sekolah menengah pertama dan umum al-Syajaeyah. Selesai di Syajaeyah kemudian al-Syahid

melanjutkan studinya di Universitas Islam jurusan Biologi. Selain tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Islam di Gaza ia juga aktif di organisasi faksi Islam pada Universitas tersebut .

Setelah ia keluar dari Universitas Islam, ia bekerja sebagai pembantu administrasi di Kejaksaan Tinggi Palestina. Karirnya terus menanjak hingga menjabat direktur umum, mengingat dedikasi dan kemampunya dalam bidang tersebut. Bahkan menurut informasi yang bisa dipercaya, Menlu Mahmud Zehar telah menunjuk al-Syahid sebagai direktur umum di departemennya. Sebelumnya al-Syahid juga menjabat sebagai direktur umum kepresidenan, sebelum Hamas menjadi pemimpin di Palestina.

Peristiwa ini hanya beberapa pekan sebelum pesawat Israel membombardir mobil yang ditumpanginya bersama saudara seperjuanganya pada hari Ahad 8 Nopember 2006.

Semua orang tersentak, bahwa suami dari putri menlu Palestina Dr. Mahmud Zehar adalah seorang arsitek militer di brigade Al-Qossam, sayap militer gerakan perlawanan Hamas.

Status Sosial

Al-Syahid adalah suami dari putri Menlu Palestina, Mahmud Zehar. Dikaruniai dua orang putra masing-masing Muadz baru berumur satu setengah tahun dan Rajab yang baru berumur empat bulan.

Ketika Al-Syahid datang ke rumah Zehar untuk meminang putrinya, Zehar menanyakan dahulu pada putrinya, apakah ananda mau terima bila kehidupan ananda dimasa yang akan datang penuh dengan bahaya karena selalu diincar oleh Israel seperti keadaan sekarang ?

Aktivitas Dakwah

Al-Syahid sebagai penanggung jawab sejumlah aksi massa, seperti aksi di Masjid Shalahuddin masjid terbesar di Gaza yang paling banyak melahirkan kader-kader intifadhah pertama dan kedua. Ia juga sempat menjadi pimpinan di dalam organisasi kemasjidan tersebut sebelum ia melanjutkan kuliahnya di Universitas Islam Gaza. Saat itu ia tahu bahwa ia harus merahasiahkan betul identitasnya dalam wadah kegiatan yang penuh resiko. Apalagi untuk memangku sebagai pimpinan organisasi tersebut.

Pada awal- awal tahun di Universitas Islam Gaza ia bergabung dengan kelompok Ikwanul Muslimin. Padahal ia baru menginjak di usianya yang ke 18 tahun. Karena salah satu persyaratan ikut organisasi IM bila umurnya sudah mencapai 18 tahun. Namun karena wawasanya dan kemampuanya ia diterima menjadi anggota IM walau dengan syarat umur minimal.

Bergabung Dengan Al-Qossam

Al-Syahid bergabung dengan kelompok Izzuddin Al-Qossam pada awal tahun 2000. Pada saat awal terbentuknya Brigade Al-Qossam, setelah mendapat berbagai gempuran dari dinas keamanan pemerintahan. Peristiwa tersebut sebelum meletusnya intifadhah kedua.

Namun namanya tidak tercantum di dalam jajaran pimpinan Brigade Al-Qossam, tetapi masuk dalam jajaran para konseptor dan insinyur pembuat bom pada awal tahun 2001, namun itu baru awal, masih jauh dari tujuan.

 

Pengembangan alat-alat perang

Al-Syahid merupakan profil muslim yang cerdas, inovator, punya ekses besar dalam perkembangan bom Yahudi dari sekedar meledak hingga yang berbentuk elektronik seperti sekarang, yang bisa diledakkan secara otomatis seperti yang pernah dilakukan oleh saudara seperjuanganya Al-Syahid Ahmad Musytaha.

Setelah beberapa bulan kemudian ia berpindah ke bagian pengembangan roket al-Qossam menyusul penciptanya Al-Syahid Komandan Nidhal Farhat yang berhasil membuat roket jenis baru yang dinamakan roket Qossam. Al-Syahid Ahmad bekerja denganya dan berhasil mengembangkan roket yang diberi nama Qossam 1 yang mampu membawa hulu ledak setara dengan 1 kg TNT yang mampu meluluhlantakan satu wilayah dalam radius satu kilo meter.

Setelah Komandan Nidhal Farhat syahid sebagai pencipta roket Qossam serta pembuatnya Muhammad Salami maka bidang pengembangan roket dipimpin oleh Mujahid Tito Mas’ud dan wakilnya al-Syahid Suhail Abu Nahl keduanya kemudian menjadi tawanan Israel pada tahun 96 an bersama sejumlah anggota lainya, seperti Ahmad Iwadh, Mufid Bal, Shabir Abu Ashi dan Akram Nasher, Mahdi Musytaha yang kemudian mereka meninggal syahid.

Menyusul syahidnya Tito Mas’ud dan wakilnya Suhail Abu Nehel di perkampungan Syajaeyah, maka kepemimpinan beralih kepada komandan syahid Mahdi Musytaha dan menjadikan Ahmad Iwadh sebagai wakilnya sebagai ketua pengembangan dan perancang roket-roket Qossam.

Kemudian setelah Mahdi Musytaha meninggal syahid, maka ketua pengembangan dan pembuatan Qossam beralih kepada Ahmad Iwadh.

Maka mulailah Ahmad Iwadh atau dikenal dengan nama Abu Muadz menyusun program pengembangan serta merekrut sejumlah mujahid yang mempunyai bakat inovasi dan berhasil mengembangkan qossam hingga menjangkau 7 km dengan hulu ledaknya bisa menjangkau 5 km. Saat ini tim Qossam berhasil mengembangkan roketnya yang dapat menjangkau 12 km dengan hulu ledak beradius 8-10 Km. tim Al-Qossam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Brigade Izzudin Al-Qossam.

Yang berhasil mengembangkan roket Qossam seperti saat ini adalah, al-Syahid Ahmad Iwadh Abu Mu’adz. Ia berhasil mengembangkan roket ini dalam waktu kurang dari 5 tahun.

Beberapa sumber menyatakan, bila Ahmad Iwadh tidak bergabung dalam sejumlah operasi militer, karena ia konsen dalam masalah pengembangan roket. Maka tak heran bila pembawaannya penuh rahasia, tenang dan jauh dari pusat perhatian massa.

Keadaan ini terus berlangsung hingga saat pembunuhannya. Namun tatkala para penjagaan keamanan tertangkap oleh pemerintah Israel terkait aksinya menyerang permukiman Sederot termasuk yang ditangkap saat itu, keturunan Nidhal Farhat, seorang mujahid ke tiga, maka tekuaklah bahwa Ahmad Iwadh bekerja di bidang pengembangan roket, namun tidak diketahui di mana tinggalnya. Kecuali beberapa saat sebelum penembakan terhadap mobil yang ditumpanginya.

Kesyahidannya

Pada hari Rabu tanggal 17 Syawal 1427 H atau bertepatan dengan tanggal 8 Nopember 2006, Al-Syahid menemui Tuhannya, bersamanya seorang mujahid Al-Qossam Ramzi Yusuf Suhaiber (36 tahun). Keduanya meninggal digempur rudal Israel yang ditembakkan dari pesawat pengintai mereka di Jalan Ahmad Yasin kampong Al-Zaitun Kota Gaza.

Brigade Izzuddin mengumumkan kesyahidanya serta mengangkat kedua jenazah tersebut seraya berjanji akan terus melanjutkan perjuangan kedua mujahid ini, hingga menjemput salah satu dari dua kebaikan, “Hidup Mulia Atau Mati Syahid”

Ahmad Iwadh bukanlah mujahid biasa, tetapi beliau termasuk kepada jajaran pejuang pengukir sejarah. Apakah ada saat ini seorang pejuang yang dengan pengorbanannya kecerdasannya serta keuletannya mampu memberikan semangat kepada para mujahid lainya dalam rangka membela hak-hak mereka merebut kemerdekaaan dari tangan penjajah Yahudi laknatullah dan dapat menggetarkan musuh-musuh (Israel) dengan roket buatannya.

Apakah ada seorang mujahid yang tidak pernah kelihatan bahkan ia berjuang dengan diam. Tiba-tiba semua orang terhenyak dengan keberadaannya dan dengan jejak kepahlawanannya yang mulia.

Semoga Allah merahmatimu wahai Abu Mua’adz serta menerima amal jihadmu dan mengumpulkanmu bersama para syuhada, para nabi, para shadiqin dan orang-orang shaleh lainya. Serta mudah-mudahan Allah mengaruniakan kesabaran kepada keluarga, saudara seperjuangan dan setiap orang yang mencintaimu. Mudah-mudahan Allah memuliakanmu dengan syafaat dan menaungimu pada saat tidak ada nauangan kecuali naungan Allah.

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: