Irfan & Akhlak

Hakekat Tanah Suci Arafah dan Mina

oleh : Syaikh Jawadi Amuli

IMAM al-Sajjad (berdasarkan sebuah hadis yang dinisbahkan kepada penafsiran Imam Hasan al-Askari) berkata kepada Zuhri, “Berapakah jumlah peziarah haji tahun ini?” Zuhri berkata, “Empat ratus ribu atau lima ratus ribu orang.”

Kemudian Imam as-Sajjad membukakan tabir gaib bagi Zuhri, sehingga ia melihat hakikat batin orang-orang yang menunaikan ibadah haji. Ternyata, mereka terlihat sebagai binatang. Saat itulah Imam al-Sajjad berkata, “Betapa sedikit orang yang berhaji dan betapa banyak suara gemuruh teriakan.” Benar, pelaku haji sejati sangatlah sedikit.

Haji Sejati

Imam kemudian berkata, “Orang-orang yang batinnya Anda lihat dalam bentuk malakut (jelmaan malaikat), mereka adalah orang-orang yang meyakini Al-Quran dan Ahlul Bait, wahyu, dan wilayah (kepemimpinan orang-orang suci)”. Bentuk lahir mereka manusia dan bentuk batin mereka juga manusia. Mereka adalah manusia yang sebenar-benarnya. Ya, mereka adalah orang-orang yang lahir dan batiniahnya dijaga oleh agama. Adapun orang-orang yang tidak menerima masalah-masalah ini, mereka mengatakan bahwa Rasulullah SAW melakukan ijtihad (menarik kesimpulan sendiri) dalam menentukan kepemimpinan. Mereka berpendapat bahwa Al-Quran dan Ahlul Bait terpisah satu sama lain.

Lantaran Al-Quran dan Ahlul Bait adalah cahaya tak terpisahkan, dengan demikian bila seseorang menerima Al-Quran dan meninggalkan Ahlul Bait, pada hakikatnya ia menerima (pendapat) bahwa Al-Quran terpisah dengan Al-Quran. Padahal, Al-Quran tidak akan terpisah dari Ahluil Bait, yang merupakan hakikat dari Al-Quran. Sebab, keduanya tidak akan terpisah selamanya. Barangsiapa yang tidak menerima Ahlul Bait, pada hakikatnya ia tidak menerima Al-Quran. Sebab, ia telah menjadi manifestasi dari ayat yang berbunyi : “Kami beriman kepada sebagian al-Kitab (Al-Quran) dan kami mengingkari sebagian lainnya.” Mereka adalah : Mereka hendak mengambil jalan lain di antara jalan (yang benar) itu.  

Batin mereka pada hakikatnya adalah penentangan dan pengingkaran terhadap kebenaran. Dan orang yang mengingkari kebenaran akan nampak dalam wujud binatang. Manusia yang menjadi binatang adalah manusia yang buruk. Imam Sajjad lalu menjelaskan tentang rahasia-rahasia haji kepada Zuhri. Beliau berkata. “Wahai Zuhri! Orang-orang yang lahiriah dan batiniah mereka menerima agama dari semua seginya, mereka adalah orang-orang yang bercahaya.”

Iman memiliki tingkatan-tingkatan, sebagaimana firman Allah : Bagi mereka tingkatan-tingkatan (iman).(QS. Al-Anfal : 4) Maksudnya, terdapat tingkatan-tingkatan tertentu bagi orang-orang yang beriman. Iman adalah pembentuk hakikat manusia. Ketika keimanan memiliki tingkatan, maka orang-orang yang beriman juga bertingkat-tingkat. Imam Sajjad berkata, “Mereka yang terbagi menjadi tiga kelompok adalah kelompok orang-orang yang lemah imannya, kelompok orang-orang yang kuat imannya, dan kelompok ketiga adalah orang-orang yang imannya berada di pertengahan.”

Kelompok orang-orang yang memiliki iman lemah, cahaya dan wajah batin mereka memancar sejauh perjalanan 1000 tahun. Tidak jelas, 1000 tahun menurut perhitungan dunia atau perhitungan akhirat. Orang-orang yang iman mereka sempurna dan kuat, cahaya mereka memancar sejauh perjalanan 100.000 tahun. Sementara, kelompok ketiga yang iman mereka menengah, derajat mereka berada di antara perjalanan 1000 tahun dan 100.000 tahun. Kekuatan cahaya mereka berbeda-beda. Selama cahaya mereka masih bersinar, Allah SWT akan menganugerahkan kepada mereka hak (memberikan) syafaat. Inilah orang-orang yang melaksanakan ibadah haji secara benar dan meyakini bahwa Al-Quran dan Ahlul Bait adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Orang-orang yang mengenal rahasia wilayah, mengetahui rahasia-rahasia haji, sudah dan akan melaksanakan haji sejati. Mereka adalah orang-orang yang bercahaya dan memiliki hak (untuk memberikan) syafaat. Wilayah syafaat mereka sejauh pancaran cahaya mereka yang menerangi.

Benar, sejauh mata memandang, mereka memegang hak (memberikan) syafaat. Seakan-akan, Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang berbuat baik kepadamu di dunia, melakukan kebaikan terhadapmu, menyelesaikan masalahmu, membantumu dan menghalau musuh-musuhmu, atau bergaul berdasarkan keadilan dan kebaikan, singkatnya, ia mencintaimu dan berbuat baik kepadamu, maka pada hari ini (hari kebangkitan), apabila mereka memiliki kesulitan, engkau dapat membalas kebaikan mereka dengan cara memberikan syafaat kepada mereka dan syafaatmu (pasti)akan diterima.”

Jadi, seorang haji sejati adalah orang yang pada hari kiamat mampu menerangi wilayah yang sangat luas dan memberikan syafaat, menyelamatkan orang-orang kesusahan, dan menyelesaikan kesulitan mereka pada hari kiamat. Hari itu, orang-orang yang tidak memiliki hak (memberikan) syafaat adalah orang-orang yang lemah. Ketika itu, tidak ada hubungan pertalian keluarga. Saat itu, manusia lari dari saudara, ibu, dan bapaknya. Allah berfirman:

Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu bapaknya.(QS. ‘Abasa : 34)

Ini tak ubahnya seperti tempat yang terlanda kebakaran atau banjir dan angin topan. Dalam keadaan seperti ini, tidak akan ada orang yang memikirkan orang lain, mereka hanya akan berpikir untuk menyelamatkan diri sendiri. Saat itu, orang-orang yang memikirkan orang lain adalah orang-orang yang mengetahui rahasia wilayah dan haji, serta mukmin sebenarnya dan pelaku haji sejati. Mereka tidak akan lari dan akan berusaha menyelamatkan orang-orang yang malang.

Seorang laki-laki bertanya kepada Imam al-Sajjad, “Ketika kami melaksanakan amal ibadah Arafah, Masy’ar, dan Mina, dan menemukan waktu luang, di tanah suci Mina kami mengingat kerabat dekat, kakek, dan orang tua kami. Kami mengingat keutamaan mereka dan kami tidak mempunyai tujuan untuk menyombongkan diri. Sebaliknya, kami ingin memenuhi hak mereka. Apakah perbuatan ini baik atau buruk?” Imam al-Sajjad menjawab, “Anda bisa menempuh jalan yang lebih baik lagi dan mendapatkan pahala lebih banyak serta memenuhi hak-hak mereka dengan cara yang lebih mulia.”

Mina, Tempat Tergapainya Harapan

Ketika para peziarah mempunyai waktu luang di Mina—siang hari mereka melaksanakan amal ibadah dan malam harinya mereka hanya bermalam—maka Al-Quran memberikan perintah, “Bermalamlah kalian di Mina dan gunakanlah waktu kalian untuk berzikir kepada Allah, meraih ilmu, bermunajat, dan berdoa.” Benar, tanah tersebut adalah tanah untuk menggapai harapan-harapan.

Di sini, poin penafsirannya adalah bahwa orang-orang yang pergi ke Mina terbagi dalam beberapa kelompok:

Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, “Ya Allah, Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia” dan tiadalah baginya bahagian yang menyenangkan di akhirat. (QS. Al-Baqarah : 200)

Di masa sekarang, para peziarah Baitullah dan orang-orang yang datang ke Arafah dan Mina, terdiri dari dua kelompok:

Sebagian hanya menginginkan dunia dan perubahan nama (status). Mereka datang ke Baitullah untuk melancong, berdagang, mencari popularitas, dan sebagainya. Na’udzubillah, logika mereka adalah dunia. Ya, mereka tidak berkata, “Berikanlah kepada kami kebaikan di dunia.” Sungguh, mereka tidak menginginkan kebaikan dunia, namun mereka mengejar dunia itu sendiri.

Karena itu, halal dan haram tak ada bedanya bagi mereka. Dalam pandangan mereka, majelis hiburan dan mejelis ilmu tak ada bedanya sama sekali. Mereka lebih mengutamakan majelis hura-hura ketimbang majelis penyucian jiwa. Kelompok manusia ini, logika mereka adalah, “Ya Allah, Tuhan kami, berilah kami di dunia.” Mereka tidak berkata, “Ya Allah, Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia.” Mereka berkata, “Ya Allah, berikanlah sesuatu kepada kami di dunia.” Halal atau haram, baik atau buruk, semuanya mereka terima. Kelompok ini adalah orang-orang yang tidak memiliki saham kenikmatan Ilahi di alam akhirat. Dan mereka tidak mendapatkan bagian apapun di akhirat.

Dan di antara mereka ada yang berkata, “Ya Allah, Tuhan kami, berikanlah kapada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta peliharalah diri kami dari siksa api neraka.” (QS. Al-Baqarah : 201)

Mereka adalah orang-orang berakal, yang mengucapkan kalimat di atas tatkala mereka bermalam di tanah suci Mina. Di tempat-tempat lain, mereka juga mengucapkan kalimat yang sama. Logika mereka adalah, “Ya Allah, Tuhan kami, di dunia ini kami tidak menghendaki segala sesuatu yang bersifat duniawi, namun kami menghendaki kebaikan di dunia.”

Harta halal termasuk di antara kebaikan dunia. Memiliki istri, anak, ayah, saudara dan saudari, teman, keluarga, dan kabilah yang mulia dan beriman, bergabung dalam majelis ilmu dan kajian, membantu orang lain yang kesusahan, dan mengabdi kepada masyarakat secara adil merupakan bagian dari kebaikan dunia. Demikian pula dengan acara hiburan yang mendidik, mengajarkan Al-Quran dan hikmah, penyucian jiwa, pertemuan yang baik, silaturahmi, dan lain sebagainya merupakan bagian di antara kebaikan dunia. Jika tidak demikian, maka semua hal duniawi adalah sama dan tidak memiliki kebaikan-kebaikan seperti yang dijelaskan di atas, yang diminta sebagai kebaikan duniawi dari Allah. Apabila seseorang memperoleh taufik, ia akan dapat menjadi pembaca Al-Quran, ahli tafsir, pengajar, mahasiswa, pelaku kebaikan, dermawan, pengabdi sosial, dan sebagainya. Ini semua merupakan bagian di antara kebaikan dunia.

Orang-orang berakal adalah orang-orang yang logika mereka disebutkan dalam Al-Quran. Mereka berkata, “Ya Allah, Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia.” Akhirat juga memiliki kebaikan dan keburukan. Selain memohon kebaikan dunia, mereka juga meminta kebaikan akhirat, “Dan (berikanlah kepada kami) kebaikan di akhirat, serta peliharalah diri kami dari siksa api neraka.”

Para peziarah Baitullah harus berhati-hati agar menjadi kelompok kedua. Maksudnya, mereka tidak memohon kepada Allah, di tanah suci Arafah dan Mina, kecuali kebaikan dunia dan akhirat. Mereka menghendaki sesuatu yang abadi dan tidak menginginkan sesuatu yang akan meninggalkan manusia sendirian dan manusia pun akan meninggalkannya. Bersambung….

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: