Irfan & Akhlak

Mengenal Hakikat Haji

Apabila seseorang mengetahui bahwa hakikat shalat adalah malaikat, maka ketika mendirikan shalat, ia akan memasuki shalat dengan niat yang kuat dan lebih baik. Demikian pula, apabila seseorang mengetahui bahwa hakikat dan batin haji adalah malaikat, dan ia ingin terbang bersama malaikat, maka ia akan melaksanakan haji dengan ikhlas dan kesadaran yang tinggi. Sebab, semua ini berasal dari sumber yang gaib, dan di dunia gaib tidak ada sesuatu yang lain selain malaikat.

Dalam istilah agama, keberadaan metafisik yang terjaga dari kekurangan, cela, maksiat, lupa dan pelanggaran disebut dengan malaikat. Malaikat adalah makhluk suci yang tidak melakukan dosa dan tidak mati. Tak ada kekurangan dan cela pada dirinya. Seperti inilah batin shalat dan haji. Bila seseorang menunaikan shalat dan haji yang sejati, maka ia akan bercengkrama dan berjalan-jalan bersama para malaikat. Ia akan hidup bersama malaikat dan malaikat pun akan mengakrabinya.

Dalam menafsirkan ayat: Maka segeralah kembali (menaati) Allah (Al-Dzariyat : 50), beberapa riwayat menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perjalanan (kembali) menuju Allah dalam ayat ini adalah ibadah haji. Dalam pada itu, ke mana pun manusia menghadap, maka ia akan menemukan “wajah” Allah. Maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah (Al-Baqarah : 115). Ya, manusia mampu melihat “wajah” Allah, ke mana pun ia menghadap.

Adakalanya, manusia sampai pada suatu tempat: …..dan ia telah diliputi oleh dosanya (Al-Baqarah : 81), maksudnya, ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah setan. Atas dasar ini, berarti, manusia telah menciptakan lingkungan dan batasan bagi dirinya sendiri. Apabila ia melakukan dosa, maka di sekitarnya akan dipenuhi dengan setan, ular dan kalajengking. Ke arah manapun ia menghadap, disitulah ia melihat setan, ular dan kalajengking. Sebab, kesalahan dan dosa telah meliputi dirinya dan pintu tobat telah tertutup di hadapannya.

Terkadang, dosa (masih) terdapat di luar pintu hati manusia. Ia memahami bahwa ia tengah melakukan keburukan, sementara (masih) ada kemungkinan bertobat dalam dirinya. Suatu saat lain, pendosa tak menemukan jalan dari dalam ke luar. Artinya, ia menciptakan kondisi: Yaitu api yang disediakan Allah yang dinyalakan, yang membakar sampai ke hati (Al-Humazah : 6-7). Dalam kondisi seperti ini, ia tidak melihat bahwa dirinya melakukan keburukan. Bahkan ia melihat keburukan sebagai kebaikan. Al-Quran menyebutkan: Dan mereka menyangka bahwa mereka berbuat kebaikan.(Al-Kahfi : 104).

Oleh karena itu, setiap perbuatan dosa dan maksiat yang dilakukannya, ia menganggapnya sebagai perbuatan baik. Lantaran ia menyangka bahwa itu perbuatan baik, maka ia tidak akan melakukan tobat. Sebenarnya ia bisa bertobat. Namun, ia tidak melihat bahwa perbuatannya itu buruk sehingga harus bertobat karenanya. Begitulah, orang seperti ini memenuhi bagian dalam dan luar rumahnya dengan setan, ular dan kalajengking. Orang yang menanami kebun rumahnya dengan ilalang, ke mana pun ia pergi akan menjumpai ilalang. Bahkan kamarnya pun telah dipenuhi ilalang.

Adakalanya, kondisinya tidak seperti itu. Ia tidak menanam rerumputan di kebunnya, malah ia membersihkan dan “menyucikan”-nya. Ia benar-benar menjaga agar rumput tidak memiliki kesempatan untuk tumbuh. Disinilah: Maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Benar, ke arah mana pun ia menghadap, di situlah ia akan melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Tindakan yang dilakukannya, selain menguntungkan dirinya sendiri, juga mendatangkan keuntungan bagi orang lain.

Dalam keadaan seperti itu, manusia ini berjalan dengan membawa cahaya yang menerangi jalannya sendiri dan jalan orang lain. Kami jadikan baginya cahaya yang ia gunakan berjalan di tengah manusia. Dalam tahap ini, manusia selalu berada pada kondisi melangkah menuju Allah. Dengan kegigihan dan upaya keras, ia akan berusaha untuk tidak terpengaruh oleh kejahatan. Inilah arti kembali kepada Allah.

Adapun, bila seseorang memenuhi dimensi internal dan eksternal dirinya dengan “rumput”, maka itu berarti ia sengaja menutup jalan dirinya. Maksudnya, ia membelenggu kaki, tangan, mulut, telinga dan matanya. Lalu mereka menutupkan tangannya ke mulutnya (karena kebencian).(Ibrahim : 9).

Di masa silam, sekelompok masyarakat, ketika mendengar ucapan para nabi, menutupi kepala mereka dengan pakaian dan menutupi telinga mereka dengan jemari agar suara nabi tidak terdengar oleh telinga mereka. Ingatlah, di waktu mereka menyelimuti dirinya dengan kain…(Hud : 5), Mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya (Al-Baqarah : 19). Mereka beranggapan, ucapan para nabi adalah sihir dan dongeng belaka. Mereka adalah orang-orang yang: dan ia telah diliputi oleh dosanya.

Di antara manifestasi paling nyata dalam perjalanan menuju Allah adalah pelaksanaan ibadah haji. Artinya, yang menunaikan ibadah haji adalah melakukan perjalanan menuju Allah. (Syeikh Jawadi Amuli)

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: