Irfan & Akhlak

Hakikat Kenabian (1)

Oleh : Syamsunar

 

Apakah kenabian para Nabi karena mereka menjadi orang-orang pilihan Tuhan ataukah karena mereka urafa reformis? Apakah para Nabi mempunyai akses dalam kenabiannya ataukah mereka murni dipilih dari sisi Tuhan supaya menjadi media bagi hidayah manusia? Apa hakikat dari kenabian dan apa kebutuhan kita kepada mereka?.

Sebelum pembahasan ini dikupas lebih jauh yang pertama perlu kita ungkapkan apa kenabian itu atau paling minimal apa yang kita maksud tentang kenabian. Sebab jika berpijak pada satu pandangan untuk menentukan esensi kenabian, kemungkinan besar akan berada pada suatu kondisi keragu-raguan dan tidak memecahkan permasalahan. Oleh karena itu, cukuplah permasalahan dibatasi pada pendekatan apa yang akan ditinjau dalam masalah kenabian, sehingga dapat diungkapkan defenisi-defenisi yang beragam tentangnya (dalam hal ini yang dimaksud dengan defenisi adalah penjelasan, bukan defenisi hakiki). Dalam pembahasan ini terdapat dua pendekatan mendasar yang akan menjadi penelitian dan kita akan berupaya mengupas defenisi-defenisi yang diungkapkan sesuai dengan dua dasar pendekatan tersebut.

Di sepanjang sejarah telah bermunculan para Nabi benar dan para Nabi palsu, yakni orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai Nabi secara dusta. Kita harus mengkonstruksi suatu defenisi yang dapat mewadahi dua model klaim kenabian ini sehingga kita dapat membuka jalan untuk mengetahui para Nabi hakiki dan para Nabi palsu dan dusta.

Secara pendekatan logikal terdapat empat klasifikasi yang dapat dibedakan dari orang-orang yang mengklaim dirinya dengan kenabian, dimana empat kemungkinan ini diperoleh dari gejala dan fenomena berikut ini, para pengklaim kenabian dalam ucapannya, benar (jujur) ataukah bohong, dan benar serta bohong ini dapat dinisbahkan dari sisi pelaku dan juga dari sisi perbuatan itu sendiri. Dengan kata lain para pengklaim kenabian: 1) Terdapat padanya kebaikan perbuatan dan pelaku perbuatan, 2) Keduanya tidak dimiliki, 3) Pertama dimiliki dan kedua tidak dimiliki, 4) Pertama tidak dimiliki dan kedua dimiliki. Kondisi pertama, berdasarkan satu landasan mempunyai realitas dan banyak para Nabi berdatangan disepanjang sejarah dimana mereka memiliki kebaikan pelaku perbuatan dan juga memiliki kebaikan perbuatan. Para Nabi agama Ibrahimi dapat dikategorikan dalam kelompok ini. Kondisi kedua juga tanpa diragukan mempunyai sampel dan contoh, serta ada kemungkinan sesudah ini juga masih terjadi. Para Nabi dusta dan palsu yang kebohongan mereka adalah jelas, seperti Musailamah Kadzab dan pembuat bid’ah-bid’ah lainnya merupakan misdak-misdak dari kelompok ini. Kondisi ketiga, yakni kenabian mempunyai kebaikan perbuatan dan tidak mempunyai kebaikan pelaku perbuatan, model seperti ini tidak pernah terjadi dalam sejarah. Kondisi keempat, yakni seseorang menyangka bahwa benar-benar dirinya mendapat tugas dari Tuhan dan pesan Tuhan harus ia sampaikan pada seluruh masyarakat dunia. Akan tetapi dalam kenyataannya sama sekali tidak ada pesan dan tidak ada tugas dari Tuhan, hanya ia sendiri yang jatuh dalam kesalahan dan kekeliruan serta berada dalam persangkaan. Kondisi ini mungkin terdapat contoh dalam sejarah tetapi sulit untuk menemukan secara pasti misdak luarnya.

Siapakah Nabi itu?

Permasalahan sekarang adalah siapakah Nabi itu? Nabi adalah seseorang yang dibangkitkan dan diutus dengan tujuan memberi hidayah pada manusia, yang mendapatkan makrifat-makrifat dari mabda Ilahi tanpa perantara manusia lain dan kemudian menyampaikannya. Dalam defenisi ini terdapat delapan syarat niscaya bagi seorang Nabi yang menurut kami urgen diuraikan secara singkat:

  1. Nabi adalah seseorang yakni ia adalah manusia. Syarat ini diungkapkan dengan maksud mengeluarkan malaikat perantara wahyu atau wujud  yang tahu akan makrifat-makrifat tersebut (wahyu yang datang dari Tuhan),
  2. Dengan tujuan memberi hidayah pada manusia, berkehendak baik dan memberi hidayah merupakan kekhususan penting dari para Nabi. Sampai-sampai para Nabi palsu pun menampakkan diri mereka pada masyarakat sebagai pemberi hidayah,
  3. Dibangkitkan dan diutus yaitu bi’tsah adalah suatu peristiwa urgen yang  dengannya momen kenabian dimulai. Para Nabi memandang diri mereka sebagai manusia yang diutus dari sisi Tuhan. Dengan kata lain mereka merasa sebagai utusan dimana perutusan mereka ditetapkan dari sisi alam yang tinggi dan mereka merasa wajib untuk merealisasikan tugas tersebut.

“Dan sungguh telah Kami utus (bangkitkan) pada setiap umat seorang Nabi (yang menyerukan) bahwa hendaklah engkau semua menyembah Allah.” (QS. An-Nahl : 36)

  1. Makrifat dan pengetahuan yakni warisan para Nabi tidak lain berbentuk kumpulan  pengetahuan teoritis dan makrifat praktis khusus yang mengungkapkan pandangan baru dan metode lain dalam kehidupan manusia. Kumpulan pengetahuan dan makrifat ini biasanya terkumpulkan dalam bentuk kitab-kitab suci dan diperlakukan secara khusus dan spesifik oleh pengikut-pengikut para Nabi. Kumpulan makrifat dan pengetahuan ini mengambil bentuk dalam mental pengikut-pengikut para Nabi dan mendidik mereka dalam cara dan metode khusus.

“Dan mengajarkan kamu sesuatu (makrifat dan pengetahuan) yang belum kamu ketahui….” (QS. Al-Baqarah : 151)  

  1. Tanpa perantara orang lain yakni para Nabi tidak mendapatkan makrifat dan pengetahuan mereka lewat pembelajaran dari orang-orang lain. Para ulama setiap agama dan mazhab juga mempunyai suatu bentuk kemungkinan dibangkitkan untuk memberi hidayah pada manusia (misalnya dari jalan perintah dan perutusan para Nabi), demikian pula mereka alim terhadap sekumpulan makrifat dan pengetahuan (dengan perantara pengajaran dari Nabi mereka), akan tetapi mereka ini tidak disebut sebagai Nabi.
  2. Mabda Ilahi yakni para Nabi memandang sumber pengetahuan dan makrifat  mereka dari alam Ilahi dan berkeyakinan tidak dihasilkan oleh akal dan mental manusia. Pengetahuan dan makrifat ini dalam bentuk dimana kaki akal manusia tidak dapat menjangkaunya, sebab memiliki dimensi langsung dari sumber Ilahi.

“Dan Allah menurunkan kepada kamu kitab dan hikmah dan mengajarkan padamu apa yang tidak kamu ketahui dan adalah fadhlullah atasmu sangat besar.” (QS. An-Nisa : 113)

  1. Mendapatkan yakni salah satu bagian penting dari kenabian adalah mendapatkan makrifat serta pengetahuan ketuhanan dari Tuhan. Mereka mengklaim bahwa pengetahuan dan makrifat itu diberikan kepada mereka dari tempat lain (baca, alam lain) dan mereka merupakan orang-orang yang mendapatkan dan mengikutinya serta mereka sama sekali tidak menambahkan sesuatu atasnya.

“Katakanlah: sesungguhnya aku mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku.” (QS. Al-A’raf : 203)

  1. Menyampaikan yakni para Nabi merasa bahwa mereka mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menyampaikan kepada manusia makrifat yang mereka dapatkan. Perasaan ini sangat kuat pada diri mereka. Para Nabi palsu juga mengklaim kalau mereka itu bertugas memberi hidayah pada manusia dan memandang bahwa diri mereka ditugaskan dari sisi Tuhan untuk menjelaskan pesan-pesan mabda (causa prima/awal penciptaan) serta berusaha menampakkan diri mereka secara lahiriah memiliki seluruh kekhususan-kekhususan Nabi hakiki. Para Nabi hakiki memandang inti perutusan mereka dari sisi Tuhan adalah menyampaikan pesan Tuhan dan memberi peringatan kepada manusia.

Berasaskan ini maka kenabian adalah dibangkitkannya seseorang dengan tujuan memberikan hidayah kepada manusia lewat pengetahuan dan makrifat yang didapatkan dari Tuhan tanpa perantara orang lain dan disampaikan kepada manusia.

Pilihan Tuhan atau Urafa Reformis 

Sebagaimana yang diungkapkan bahwa terdapat dua tinjauan yang dapat ditujukan terhadap para Nabi, tinjauan pertama memandang kalau para Nabi adalah urafa yang mempunyai kekhawatiran kemasyarakatan dan melakukan pembaharuan terhadapnya serta mereka tidak hanya mencukupkan pada keselamatan diri mereka, karena itu jalan dimana mereka lalui juga ditujukan dan diperuntukkan kepada yang lain. Tinjauan kedua memandang kalau para Nabi adalah pribadi-pribadi istimewa yang dipilih di sisi Tuhan dan memperoleh tugas dari Tuhan untuk melakukan perbaikan dan pembaharuan pada masyarakat manusia. Selanjutnya kami akan menjelaskan secara singkat tentang kedua tinjauan ini:

  1. Urafa reformis

Bentuk tinjauan ini merupakan produk zaman kontemporer. Yakni diproduk dalam periode dimana manusia menginginkan segala sesuatunya dijelaskan dengan pendekatan natural dan empiris serta memotong tangan metafisika dalam menjelaskan fenomena-fenomena yang ada.  Bentuk tinjauan ini berhubungan dengan periode dimana manusia meletakkan Tuhan di antara dua busur dan tanpa mengetengahkan eksistensi-Nya. Dalam periode ini tidak satupun yang  jadi sandaran kecuali eksperimen terhadap alam ini.

Demikian pula harus diungkapkan bahwa keberadaan masalah kenabian dalam periode zaman ini dikarenakan manusia mencoba mencari manfaat dan mudharat dari fenomena-fenomena alam dunia ini, masalah alam akhirat, balasan, dan azab bukanlah menjadi inti kekhawatiran mereka. Jika mereka mengutarakan masalah agama dan kenabian, pada dasarnya bukan untuk meraih kebahagiaan akhirat, akan tetapi dikarenakan untuk menggapai kemakmuran dunia dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan alam dunia ini.

Di antara asumsi-asumsi yang ada dalam tinjauan ini yaitu manusia sanggup mencukupi diri sendiri dan mampu memecahkan segala problema dan permasalahannya, meskipun mungkin sebagian dari problema itu dengan cepat dan mudah dapat dipecahkannya dan sebagian lagi lebih lambat dan lebih sulit terpecahkan. Tidak satupun sumber lain yang muktabar kecuali kemampuan manusia sendiri yang dengan bersandar padanya dapat memecahkan seluruh problema-problema yang dihadapi manusia. Akal dapat mengidentifikasi dan mengetahui kebutuhan-kebutuhan manusia dan juga mengetahui jalan menuntaskannya.

Kenabian merupakan suatu peristiwa yang muncul secara bertahap dalam kehidupan manusia. Manusia, ketika memasuki medan kehidupan merasakan adanya berbagai kebutuhan-kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan ini adalah beragam dan banyak. Mulai dari kebutuhan-kebutuhan primer, seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pekerjaan, dan pernikahan sampai pada kebutuhan-kebutuhan sekunder, seperti seni, kesusastraan, kesibukan yang menyenangkan, aktivitas sosial, rekreasi, dan lainnya. Manusia memahami bahwa tanpa memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini semua, mereka tidak mungkin dapat melanjutkan kehidupannya, atau minimal mereka tidak dapat mengangkat derajat kehidupannya. Memenuhi sebagian kebutuhan-kebutuhan ini adalah mudah dan semua orang mengetahui bagaimana cara berhadapan dengan masalah-masalah ini. Akan tetapi sebagian kebutuhan-kebutuhan tidak mudah dalam pemenuhannya dan tidak untuk semua orang. Sebagian mereka berada dalam tingkatan khusus dari kehidupan, dimana sebelum sampai pada tingkatan tersebut, manusia tidak merasakan adanya kebutuhan seperti itu. Problema-problema seperti perasaan keterasingan diri, siksaan nurani, masalah keabadian, pembedaan dan diskriminasi yang tak terpecahkan dalam alam tabiat, dan kekurangan makrifat serta kepincangan akhlak, bukanlah merupakan problema yang dirasakan oleh semua orang. Sebagian orang telah terbebaskan dari kekhawatiran yang sifatnya biasa dalam kehidupan, seperti kekhawatiran makanan, minuman, tempat tinggal dan lainnya, kemudian mereka  menghadapi kekhawatiran dan masalah yang lebih besar. Mereka tidak mencukupkan diri pada kehidupan dalam tingkatan rendah dan mencari kehidupan yang tingkatannya lebih tinggi.

Manusia yang berada pada kehidupan tingkatan tinggi, mempunyai kekhawatiran dan kerisauan besar, dan secara perlahan menemukan semacam keterasingan dari masyarakat. Mereka baru tahu akan keberadaan masalah-masalah yang lebih penting dalam kehidupan manusia, dimana tingkatan biasa kehidupan keseharian tidak mampu memberi penyelesaian terhadap masalah-masalah tersebut. Perlahan-lahan mereka memperhatikan alam yang lebih tinggi dan berusaha mencari jawaban dari persoalan-persoalan dari alam ini serta berharap memperoleh pengetahuan tentang kebagaimanaan perkara-perakara alam tinggi ini. Lahiriah alam tabiat tidak memuaskan mereka. Mereka mencari jalan untuk mengarungi batinnya dan menemukan pengetahuan akan rahasia-rahasia hakikat eksistensi. Dengan jalan ini mereka berharap dapat mengamankan kebutuhan-kebutuhan tinggi maknawi  mereka.

Orang-orang ini dengan jalan melakukan satu rentetan latihan dan riyadhah khusus, secara berangsur-angsur menemukan kondisi yang sangat sedikit terjadi pada diri orang-orang biasa. Kemudian mereka menyaksikan dan mendengarkan sesuatu yang tidak disaksikan dan didengarkan orang lain. Mereka merasakan kondisi-kondisi yang tidak dirasakan orang lain. Orang-orang yang mendapatkan pengalaman batin seperti ini, berhubungan dengan kejiwaan diri mereka, terbagi atas dua kelompok. Kelompok pertama dari mereka tinggal dalam kondisi kesendirian diri dan menyibukkan kalbu pada penyingkapan-penyingkapan dalam diri. Kebanyakan para ârif masuk dalam kelompok ini. Mereka tidak mempunyai tujuan untuk memperbaharui masyarakat, akan tetapi sebatas berusaha mendapatkan hâl (sesuatu yang masuk dalam kalbu pesuluk yang datangnya dari alam gaib).

Mengasingkan diri (khalwat), memperoleh hâl (keadaan), menyibukkan diri dengan ibadah, zikir, wirid, memuji mahbub (kekasih) dan doa, merupakan kesibukan dari para ârif. Mereka sekiranya bermikraj maka tidak berkeinginan lagi untuk kembali.

Kelompok kedua dari orang-orang yang mempunyai penyaksian batin adalah mereka yang secara peristilahan disebut sebagai Nabi. Mereka ini mempunyai pengalaman-pengalaman maknawi yang tinggi. Mereka juga mendapatkan jalan pada stasiun ‘isyq (cinta) dan fana dalam ma’syuq (kekasih), akan tetapi mereka tidak hanya berdiam dan berhenti pada ketertarikan ma’syuq. Mereka merasakan adanya tanggung jawab dan tugas dalam dirinya untuk membebaskan manusia dari kungkungan kegelapan dan mengajak mereka untuk naik dan sair serta suluk. Oleh karena itu, menurut tinjauan ini, para Nabi adalah orang-orang ârif yang mempunyai keprihatinan pada masyarakat dan bermaksud memperbaiki dan memperbaharui mereka. Dari dimensi ini, mereka mendapatkan dalam dirinya tugas dari sisi Tuhan kepada makhluk dan memulai sair (perjalanan) dari Haq SWT menuju khalk (makhluk), sehingga untuk yang kedua kalinya kembali kepada Haq SWT dengan disertai beban umat atau umat mengikut padanya.

Kedua kelompok dari ahli kasyf dan syuhud ini mempunyai satu kesamaan mukasyafah, dan dari dimensi makrifat dan akhlak, mempunyai makrifat dan hâl yang sama. Satu-satunya perbedaan di antara kedua kelompok ini adalah kekhususan-kekhususan ruhiah dan jiwa serta kepribadian dari mereka. Satu kelompok dari mereka tertarik dengan khalwat kesendirian dan satu kelompok lainnya terbawa di tengah-tengah masyarakat. Semua mereka bergerak dikarenakan kekhawatiran dan kerisauan individual dan bermaksud menemukan jawaban serta jalan pemecahan dari problema-problema mereka. Dengan perbedaan bahwa kelompok kedua, setelah menemukan jalan pemecahan dan jawaban terhadap problema mereka, mereka juga meletakkan jawaban tersebut pada ikhtiar dan kehendak yang lainnya dan mengajak mereka untuk mendatangi jalannya, akan tetapi kelompok pertama tidak melakukan perbuatan ini. Kedua kelompok mempunyai pergerakan busur naik, yakni pergerakan mereka dimulai dari bawah dan berakhir pada atas.

  1. Manusia-Manusia Pilihan Tuhan       

Bentuk pandangan ini masyhur (populer) di antara pengikut-pengikut kebanyakan agama-agama. Pemikiran yang banyak dianut para agamawan mendapat tempat dan merupakan pandangan tradisional. Dari periode-periode sebelumnya hingga sekarang, tinjauan seperti ini dalam masalah kenabian senantiasa ada. Berasaskan pandangan ini, wujud Tuhan atau setiap maujud lain yang diterima sebagai tujuan tertinggi, telah menjadi sesuatu yang postulat (asumsi dasar yang tak perlu dibuktikan lagi). Tanpa asumsi dan postulat, atau penetapan maujud seperti ini maka masalah kenabian tidak akan mendapatkan penjelasannya yang benar. Demikian juga hikmah dan keinginan baik Tuhan sudah menjadi asumsinya. Berasaskan bentuk pandangan ini, hikmah dan keinginan baik Tuhan meniscayakan bahwa untuk mengantarkan manusia ke alam tinggi maka Tuhan mengadakan hubungan dengan sebagian manusia-manusia khusus, dimana hubungan ini disebut dengan wahyu.

Dalam bentuk pandangan ini, proporsi terbesar perbuatan, berada di tangan Tuhan. Yang memulai hubungan Tuhan terhadap manusia adalah Tuhan. Dia yang merealisasikannya dari alam tinggi. Pergerakan asli adalah turun, yakni turunnya wahyu, dan Tuhan menurunkan wahyu dengan maksud memberi hidayah kepada manusia. Jika tidak ada Tuhan sebagai pemberi hidayah, manusia tidak akan sanggup mengenal perjalanan asli kesempurnaannya dan tidak akan dapat mendapatkan kebahagiaan abadi. Akal manusia tanpa dibantu dengan wahyu tidak memiliki kemampuan cukup untuk mengenal alam gaib dan perjalanan menuju ke alam ini. Akal tidak sanggup mengidentifikasi kekhususan tempat akhir manusia, melainkan akal butuh terhadap pertolongan wahyu untuk dapat mengenal kekhususannya. Berdasarkan pandangan ini, akal tidak hanya tidak sanggup secara sendiri mengentaskan seluruh kebutuhan-kebutuhan manusia, bahkan ia juga tidak mempunyai kemampuan untuk mengidentifikasi seluruh kebutuhan-kebutuhan nyata manusia, sebab kekurangan akal demikian itu, sampai ia tidak mampu mengetahui secara mendalam dirinya, mabda (pencipta), maad (eskatologi), dan menemukan perjalanan untuk sampai pada kebahagiaan abadinya. Keseluruhan pengetahuan dan kemampuan akal tidak sampai pada batas dimana ia sanggup menyampaikan rancangan besar ini  kepada tujuan. Oleh karena itu, Tuhan yang Maha Pengasih menurunkan bantuannya kepada akal dengan menurunkan wahyu terhadap orang-orang yang dipilih-Nya, sehingga dengannya Dia dapat menunjukkan jalan benar kepada manusia serta memotivasi mereka untuk meraih kesempurnaan dan kebahagiaan abadi dengan cara menempuh jalan ini.

Hubungan pewahyuan Tuhan dengan manusia-manusia mengambil bentuk pada sejumlah khusus dari mereka yang disebut dengan Nabi-Nabi Tuhan. Tidak terdapat kemungkinan terjadi hubungan langsung dengan jalan satu persatu antara manusia dengan Tuhan, sebab kapasitas ruhiah, maknawi, rasioanalitas, dan emosional semua manusia tidak berada pada batas dimana tersedia kemungkinan berhubungan langsung dengan Tuhan. Syekh Isyraq Suhrawardi dalam hal ini mengisyaratkan permasalahan pembagian kerja di antara manusia: “Ketahuilah bahwasanya dikarenakan setiap orang dari masyarakat tidak dapat merealisasikan seluruh pekerjaan-pekerjaan dan kepentingan-kepentingannya, sementara itu tidak ada jalan lain harus terjadi muamalah, qishash, dan pernikahan, serta sebagian masyarakat tidak mungkin menjauh dari sebagian, maka harus ada syariat yang ideal dan undang-undang yang kokoh. Oleh karena itu, keberadaan  pembuat dan penetap hukum adalah daruri dalam setiap periode, dan (mereka itu) kaum yang memiliki keutamaan jiwa, mengetahui hakikat-hakikat, memiliki legalitas dari alam cahaya dan jabarût, serta memiliki kekhususan terhadap perbuatan-perbuatan dimana masyarakat lainnya dalam hal itu tidak memilikinya“.

Oleh karena itu harus ada orang-orang pilihan yang mendapatkan firman Tuhan dan mendapatkan tugas dari-Nya, dan mereka inilah yang menjadi Rasul-Rasul Tuhan yang menyampaikan pesan hidayah Tuhan kepada manusia. Syekh Isyraq dalam masalah ini berkata: “Kenabian memiliki syarat-syarat, salah satu di antaranya mendapatkan tugas dari alam tinggi untuk merealisasikan risalah, dan ini merupakan syarat khusus bagi para Nabi”.

Dalam tinjauan ini tujuan asli dari kenabian adalah akhirat bukan dunia. Jika terdapat juga topik tentang memakmurkan dan mensejahterakan dunia, itu hanya sebagai dimensi mukaddimah dan percabangan.

Demikian pula berasaskan tinjauan ini, jika manusia dibebaskan dan dilepaskan dengan kondisinya sendiri, mungkin tidak seorangpun yang sampai kepada pengetahuan rahasia-rahasia alam gaib dan akhirat. Hidayah Tuhan dalam bentuk wahyu, telah memberikan makrifat dan pengetahuan kapada para Nabi tentang alam gaib dan dari jalan mereka (para Nabi), manusia yang lainnya mendapatkan informasi tentang Tuhan, akhirat, surga, neraka, dan lainnya. Jika manusia mendapatkan pengetahuan irfani, itu dikarenakan mereka dalam didikan maktab para Nabi. Penyingkapan dan penyaksian urafa, diperoleh dari hasil merealisasikan perintah dan aturan agama. Karena itu, Penyingkapan dan penyaksian ini tidak bisa dipandang sama dan satu dengan hakikat wahyu, sebab wahyu merupakan penyebab didapatkannya agama, sementara Penyingkapan dan penyaksian urafa diperoleh dari  hasil merealisasikan jalan agama, karena itu tentu saja di antara keduanya ini terdapat banyak perbedaan.

(Sumber : “Manifesto Kenabian: Rahasia dan Khatamiyyah Kenabian” oleh Syamsunar, Penerbit Chamran Press)

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: