Kisah & Hikmah

Hud-Hud Airways

Fariuddin Attar (1114-1220) adalah salah seorang penyair sufi yang paling berpengaruh di Persia. Dia pernah belajar ilmu kedokteran, bahasa Arab, dan teosofi di sebuah perguruan tinggi di Masyhad, Iran.  Puluhan buku dan ribuan bait syair telah dia goreskan. Dia termasuk sufi yang percaya bahwa fitrah adalah pencitraan Allah dalam diri manusia.

Dalam karya utamanya, Mantiq al-Thayr (Musyawarah Burung), Attar mengumpamakan macam-macam watak manusia dengan beragam jenis burung, semua burung ini sama-sama bertujuan mencari raja sejati (Tuhan) yang bernama Simurgh. Perjalanan mereka harus melewati tujuh lembah yang melambangkan tujuh macam keadaan yang pasti dilalui oleh manusia: pencarian, cinta, pemahaman, pelepasan dan kemerdekaan, kesatuan, ketakjuban, dan terakhir kematian.

Di lembah pertama, semua burung menemui seratus kesulitan yang menindih, mereka harus menemui banyak ujian saat mencoba melepaskan diri dari apa yang mereka kira sebagai berharga dan mengubah keadaan mereka. Begitu berhasil, mereka dipenuhi dengan kerinduan yang meluap-luap.

Di lembah kedua, burung-burung itu meninggalkan nalar demi cinta dan dengan kesiapan mengorbankan seribu hati, melanjutkan pencarian mereka untuk menemukan Simurgh. Saat memasuki lembah ketiga, semua pengetahuan duniawi yang pernah mereka miliki kini tak lagi berguna. Ada pemahaman baru yang sama sekali berbeda sehingga mereka tertimpa kebingungan untuk membedakan baik dan buruk. Sesuatu yang sebelumnya dianggap baik, seperti harta benda dan tahta, kini terlihat begitu menjijikkan.

Lembah keempat adalah lembah pelepasan diri dan kemerdekaan, yakni kemerdekaan dari hasrat untuk memiliki dan keinginan untuk menemukan. Tiba-tiba burung-burung itu merasa seperti lolos dari kurungan kecil dan membesar seluas alam semesta. Dalam keadaan baru itu, dunia fisik terlihat kecil seperti percikan api dan gajah tak bisa dibedakan dari semut.

Ketika memasuki lembah kelima, barulah burung-burung itu menyadari bahwa kesatuan dan keberagaman sama saja. Dan, yang lebih penting, mereka menyadari bahwa Allah berada di atas kesatuan, keberagaman, dan keabadian. Memasuki lembah keenam, burung-burung itu langsung pingsan menyaksikan keindahan Allah. Mengalami keindahan mutlak secara langsung membuat mereka mendadak bodoh, tak mengerti apa-apa, dan tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan, mereka tidak lagi menyadari keberadaan diri mereka masing-masing. Inilah lembah kematian yang mereka masuki, yakni keadaan tak mengenali diri sendiri dan sirna dalam keindahan mutlak Sang Ilahi.

Di akhir perjalanan, rupanya hanya tersisa tiga puluh burung yang sampai di singgasana Simurgh. Akan tetapi, tak ada Simurgh di sana. Pengurus kerajaan membiarkan burung-burung itu cukup lama sampai mereka sendiri akhirnya menyadari bahwa mereka itulah Si(tiga puluh) Murgh (burung).

Perumpamaan Attar ini sebenarnya menunjukkan bahwa fitrah manusia sebenarnya adalah cap jari Allah. Jika mereka cukup sungguh-sungguh mencari dan mengarungi berbagai kesulitan dan tantangan hidup, di ujung perjalanan itu mereka akan menyadari bahwa Allah selalu bersama mereka, bahkan hadir di dalam fitrah mereka.

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: