Dari Redaksi

Kesadaran Baru Di Kalangan Kaum Muslimin

Pembaca budiman, untuk mewujudkan persatuan yang dicita-citakan, paling tidak ada dua hal yang mesti di perhatikan. Pertama, niat tulus dari berbagai pihak dan kalangan dalam merealisasikannya. Kedua, keterbukaan terhadap pemahaman dan pandangan orang yang berbeda dengan kita. Sikap keterbukaan di kalangan umat Islam, sebetulnya bukan hal yang baru, hal ini bisa kita lacak dari kisah kehidupan para ulama dan Imam-Imam Mazhab dahulu, yang senantiasa saling menghargai, saling memahami dan saling takzim di antara mereka. Perbedaan yang ada, tidak membuat mereka bermusuhan, apalagi memutuskan silaturrahmi. Zaman kegelapan Islam terjadi, ketika umat Islam terperosok dalam kotak-kotak mazhab yang sempit. Saat dimana pikiran kritis dibungkam, perbedaan paham dianggap tabu, dan yang pahamnya tidak sama dianggap sesat. Orang Islam tidak lagi belajar dari seluruh pelosok bumi, bahkan tidak ingin belajar dari saudara-saudara mereka sendiri yang berlainan mazhab. Maka sejak itu tirai ketertutupan jatuh menutupi jendela dunia umat. Namun seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, kini sudah muncul pula kesadaran baru di kalangan kaum muslimin. Gelombang peradaban baru tengah lahir, yaitu peradaban Islam yang terbuka, yang mau belajar dari mana pun dan mencintai dialog. Fajar keterbukaan nampaknya telah terbit kembali, semoga tidak terselubungi lagi dengan tirai ketertutupan. Rasulullah SAW berkata, “Ambillah hikmah, dan tidak perlu merisaukan kamu dari mana hikmah itu keluar (Khudzil hikmah wa la yadhurruka min ayyi wia-in kharajat).”

Wassalam

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: