Irfan & Akhlak

Keutamaan Hajar Aswad

(Sambungan “Rahasia Haji dalam Kata-Kata Imam Al-Sajjad)

Orang yang melaksanakan thawaf wajib, hendaknya berusaha mencium Hajar Aswad. Orang yang melakukan haji dan thawaf wajib hendaknya juga menyibukkan diri  dengan thawaf mustahab. Ketika mencium Hajar Aswad, hendaknya ia tidak menggangu orang-orang yang tengah melaksanakan thawaf wajib.

Imam al-Sajjad, berdasarkan hadis di atas, ketika sampai pada penyebutan nama Hajar Aswad , berteriak dan hampir pingsan. Disini, Imam al-Sajjad bertanya kepada Syibli, “Tahukah Anda, apa Hajar Aswad itu? Hajar Aswad adalah tangan kanan Allah!”

Meskipun pada hakikatnya tidak bisa dibayangkan bagi Allah adanya tangan kanan dan kiri karena Allah tidak bertangan; Ia Mahasuci dari (sifat) fisik tangan dan sebagainya. Namun Hajar al-Aswad adalah (dapat diumpamakan sebagai) tangan kanan Allah. Melalui tangan ini, manusia melakukan hubungan. Benar, Zat Allah bukanlah sesuatu yang bersifat fisik, bukan pula sesuatu yang bisa dilihat. Ia bersifat metafisik murni dan merupakan hakikat keberadaan. Agar di alam materi terdapat contoh (yang bisa diraba manusia), maka Allah pun menciptakan Kabah. Dan berdasarkan perintah-Nya pula, pada salah satu rukun sudut, diletakkanlah sebuah batu khusus yang disebut dengan tangan kanan Allah.

Imam al-Sajad berkata, “Makna menyentuh Hajar Aswad adalah, Ya Allah! Aku berjanji untuk tidak menyentuh perbuatan dosa lagi; aku tidak akan merestui kebatilan lagi. Aku tidak akan mengambil dan memberikan riba lagi; aku tidak akan memberi dan mengambil suap; aku tidak akan memukul orang lain tanpa alasan yang benar…”

Rahasia dibalik kesungguhan para Imam dalam berusaha menyentuh Hajar Aswad adalah bahwa mereka hendak menandatangani perjanjian, Ya Allah, aku tidak akan menyentuh perbuatan dosa lagi,” jelas, pabila Hajar Aswad tidak memiliki rahasia dan ruh, ia tidak akan memiliki keutamaan yang telah disebutkan.

Ya, para Imam suci berusaha keras untuk mencium dan menyentuh Hajar Aswad ini, sebab, terdapat rahasia dalam menyentuh dan mencium batu hitam tersebut. Rahasia tersebut adalah, “Tuhanku! Tanganku telah sampai pada tangan-Mu; aku tidak akan menyentuh tangan asing lagi,” Bagi seorang pejabat negara, bila ia berhasil menyentuh Hajar Aswad, maka dalam dunia politik, ia tidak akan memberikan tangannya kepada kekuatan Barat ataupun Timur. Ia tidak akan membiarkan tangannya bersentuhan dengan politik kotor.

Saat itu, Imam al-Sajjad berkata, “Tahukah anda makna berdiri dan melakukan shalat di samping maqam Ibrahim? Apakah anda telah melaksanakan perbuatan ini?”

Syibli berkata, “Perbuatan lahirnya telah saya lakukan, tapi sisi batin perbuatan sebagaimana yang anda jelaskan, belum saya lakukan.”

Imam al-Sajjad berkata, “Anda sama sekali belum melakukan thawaf, belum menyentuh sudut-sudut Kabah, belum menyentuh Hajar Aswad, dan belum melaksanakan shalat thawaf.  Sebab, amal perbuatan anda dilakukan tanpa (mengetahui) rahasia dan ruh (perbuatan itu).”

Dalam Al-Quran disebutkan bahwa setelah melakukan thawaf, hendaknya anda mendatangi maqam Ibrahim dan memilih tempat untuk melakukan shalat.

Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat (Al-Baqarah : 125)

Riwayat- riwayat menjelaskan tentang shalat di belakang maqam Ibrahim, sementara Al-Quran Al-Karim menyatakan : Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Karena itu, hendaklah Anda memilih tempat shalat di belakang maqam Ibrahim.

Berdasarkan hadis tersebut, Imam al-Sajjad berkata, “Perbuatan ini mempunyai sebuah rahasia, yaitu, “Tuhanku! Aku telah berdiri di atas tempat di mana Nabi Ibrahim pernah berdiri di atasnya.Dengan demikian, ini memiliki dua hukum, yaitu hukum lahir dan hukum batin. Sementara, hukum batin tersebut merupakan rahasia dari hukum lahirnya. Di sini, hukum lahirnya adalah bahwa manusia berada di atas tempat berdirinya Nabi Ibrahim dan mengerjakan shalat dua rakaat. Sementara hukum batinnya adalah bahwa manusia mencapai kedudukan (spiritual) tersebut dan menetap di dalamnya serta melakukan shalat sebagaimana shalat Nabi Ibrahim. Begitulah, terdapat dua subjek disini; yang satu berhubungan dengan manasik haji dan yang lain berkaitan dengan rahasia-rahasia haji.

Imam al-Sajjad berkata, “Ketika seseorang sampai ke maqam Ibrahim, maka maksudnya adalah, “Ya Allah, aku menginjakkan kaki di atas tempat berdirinya Nabi Ibrahim Al- Khalil as.” “Ya, aku akan tetapkan kakiku di atas ketaatan dan menjauhkan diriku dari segala perbuatan maksiat.” Sebagaimana yang pernah diucapkan Nabi Ibrahim as: Dan aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi. Aku juga akan berbuat seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim, yang akan melakukan setiap bentuk ketaatan dan menjauhkan diri dari setiap perbuatan maksiat.

Imam al-Sajjad (dalam hadis tersebut) bertanya kepada Syibli, “Apakah anda telah melakukan shalat Ibrahim dan mengalahkan setan?” Benar, orang yang sedang dalam keadaan shalat namun tidak konsentrasi, tidak memiliki keikhlasan dan kekhusyukan, maka sebenarnya ia tidak berdiri di atas tempat berdirinya Nabi Ibrahim!.

Dalam pada itu, orang-orang yang pergi ke Mekah dan thawaf mengelilingi Kabah, sedikit demi sedikit, setapak demi setapak, akan menghormati tata cara ritual dan tempat-tempat suci tersebut. Disanalah para nabi, wali-wali (kekasih) Allah, dan para imam suci pernah menjejakkan kaki. Orang-orang yang mengetahui rahasia-rahasia haji akan mengatakan, “Saya meletakkan kaki saya di atas tanah tempat para wali dan imam pernah menjejakkan kaki-kaki mereka. Saya menyentuh sesuatu yang pernah disentuh para nabi dan imam.”

Sebaliknya, orang-orang yang tidak mengetahui rahasia-rahasia haji, tidak akan jelas bagaimana kondisi mereka ketika menuju Mekah dan slogan apa yang mereka ucapkan. Mereka mengelilingi seputar Kabah, sebagaimana orang-orang musyrik sering melakukan thawaf. Al-Quran menyatakan :

 

Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan (Al- Anfal : 35)

 

Orang-orang yang menyembah berhala juga sering mengelilingi Kabah. Di masa itu, banyak sekali para penyembah patung yang mengelilingi Kabah. Di zaman jahiliah, mereka thawaf mengelilingi Kabah itu!

Pabila seseorang lebih banyak mengetahui rahasia-rahasia haji, maka ia akan melihat bahwa para nabi dan imam pernah menjejakkan telapak kaki mereka di atas tanah suci tersebut. Imam al-Sajjad berkata, “Barang siapa yang sampai ke maqam Ibrahim, maka (sebenarnya) ia berdiri di atas tempat Nabi Ibrahim dan melakukan shalat Nabi Ibrahim serta mengalahkan setan.”

Kelompok manakah yang mampu mengalahkan setan? Mereka adalah kelompok-orang-orang ikhlas. Orang-orang ikhlas adalah orang-orang yang mampu mengalahkan dan menghancurkan setan. Maksudnya, bisikan kejahatan tidak mempengaruhi hati mereka, Rayuan-rayuan setan tidak menemukan jalan untuk menembus jiwa mereka, dan bujukan-bujukan asing tidak mampu menembus benteng pemikiran mereka. Merekalah orang-orang yang mampu mengalahkan setan. Adapun orang-orang yang terpengaruh oleh bujukan dan bisikan jahat setan dan mengamalkan politik kotor adalah orang-orang yang telah dipecundangi oleh setan.

Nabi Ibahim adalah ayah kita semua. Kita dan kaum muslimin adalah putera-putera Nabi Ibrahim, dalam Al-Quran, dibagian akhir surah Hajj, Allah SWT menghubungkan nasab dan pohon keturunan kita, kaum muslimin, dengan Nabi Ibrahim. Kepada muslimin di seluruh dunia, Allah berfirman, “Wahai kaum muslimin di dunia, kalian adalah putera kekasih-Ku. Kalian adalah putera Nabi Ibrahim dan Nabi Ibrahim adalah ayah kalian; ikutilah agama orang tuamu Ibrahim,” sementara, setiap anak mewarisi warisan ayahnya.

Imam al-Sajjad (dalam hadis tersebut) berkata kepada Syibli, “Jadi, anda belum melaksanakan shalat maqam Ibrahim,” Benar, Syibli dan orang-orang sepertinya adalah orang-orang yang mengetahui upacara dan manasik haji serta mengamalkannya. Namun, Ziarah tanpa ruh sama halnya dengan meninggalkan ziarah (itu sendiri).

Disunnahkan, setelah melakukan thawaf dan shalat Tawaf, mendatangi sisi sumur Zamzam dan meminum sedikit airnya, membasuh kepala dan wajah dengan sedikit airnya, untuk meraih berkah. Rasulullah SAW pernah menggunakan air Zamzam ini. (Disunnahkan pula), ketika ke kota Madinah membawa hadiah. Maksudnya, para peziarah yang pulang dari Mekah, hendaknya membawakan hadiah bagi Rasulullah SAW berupa air Zamzam. Beliau pasti akan menerima air Zamzam hadiah itu. Ya, air Zamzam penuh dengan berkah dan Nabi SAW akan menerimanya sebagai hadiah dengan senang hati.

Zamzam adalah mata air yang memancar melalui berkah bayi Ismail as dan hingga sekarang masih terus mengalir, bahkan setelah ribuan tahun. Padahal, Mekah merupakan daerah tanpa hujan dan salju di dalamnya. Memancarnya air ini selama ribuan tahun merupakan hal yang sangat menakjubkan. Sementara sumur-sumur dan mata air lain telah kering dan surut airnya, air Zamzam tetap memancar sampai sekarang ini.

Imam al-Sajjad bertanya, “Apakah anda telah menemukan air Zamzam? Apakah Anda telah meminum sedikit airnya? Apakah ketika anda mendatangi dan meminum air Zamzam, ketika anda naik ke atas sumur ini, (anda) berniat, “Tuhanku! Aku menerima apapun yang merupakan bentuk ketaatan kepada-Mu dan aku meninggalkan apapun yang merupakan bentuk kemaksiatan kepada-Mu?” Inilah pengertian meminum air Zamzam dan mendatangi sumurnya.

 

Syibli menjawab, “Tidak”

 

Imam al-Sajjad berkata, “Itu berarti anda belum menemukan kemuliaan sumur Zamzam.”

Orang yang berziarah ke rumah Allah dan memahami rahasia-rahasia haji, ketika ia menuangkan air Zamzan ke kepala, dada, dan wajahnya, Ia akan berniat, “Ya Allah! Apapun yang menjadi bentuk ketaatan kepada-Mu, aku akan meminumnya. “Benar, aku akan minum dari gelas ketaatan dan akan meninggalkan gelas kemaksiatan.

Setelah itu, tibalah giliran sa’i (berlari kecil) antara Shafa dan Marwah. Imam al-Sajjad berkata kepada Syibli,“Apakah anda telah melakukan sa’i antara Shaf dan Marwah?”

Syibli berkata, “Ya, saya telah melakukannya.”

Imam al-Sajjad berkata, “Ketika anda melakukan sa’i, apakah terlintas sesuatu di benak anda? Saat anda sampai di Shafa dan Marwah, terlintaskah sesuatu di benak anda? Saat anda melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah, apakah terlintas sesuatu yang disebut haji dan ziarah di benak anda?”

Syibli berkata, “Tidak”

Imam al-Sajjad berkata, “Itu berarti anda belum melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah.”

Memang, banyak hal yang harus diingat ketika sesorang melakukan sa’i antara Shafa dan Marwah. Al-Quran Al-Karim menyebutkan tentang Shafa dan Marwah dengan gamblang dan menganggap itu sebagai syiar Allah :

Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. (Al-Baqarah : 158)

Imam al-Sajjad berkata, “Pengertian sa’i adalah (bahwa) manusia lari dari maksiat menuju kepada ketaatan dan mengamalkan ayat : Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. (Al-Dzariyat : 50). Ya, usaha keras, susah payah, dan lari, memiliki makna berupaya melarikan diri dari kemaksiatan menuju ketaatan; dari pelanggaran menuju kepatuhan.

Para peziarah melakukan sa’i secara bolak-balik (pulang-pergi) antara Shafa dan Marwah. Sekaitan dengan ini, Imam al-Sajjad berkata kepada Syibli, “Apakah anda tahu rahasia mondar-mandir ini? Apakah arti (dibalik) berlari di antara dua gunung itu? Artinya adalah, “Ya Allah! Aku posisikan diriku di antara takut dan harapan.”

Benar, aku tidak hanya memiliki rasa takut atau hanya memiliki harapan. Aku tidak hanya takut tanpa harapan, atau tidak hanya berharap tanpa rasa takut. Ya, mondar-mandir antara Shafa dan Marwah merupakan mondar-mandir antara ketakutan dan harapan. Seorang mukmin harus hidup antara takut dan harap; ia takut amal ibadahnya serba kekurangan dan ia berharap Allah menerima amal ibadahnya. Dalam surat Az-Zumar, Allah berfirman :

(Apakah kamu, hari orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah,“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Az-Zumar : 9)

Seorang ahli ibadah, diakhir perbuatannya, akan selalu merasa takut terhadap siksa Allah dan senantiasa mengharap rahmat-Nya. Mereka adalah : sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya. Ia tidak takut kepada Allah, karena Allah adalah keindahan murni (total). Tidak perlu ada rasa takut terhadap Tuhan yang Maha Indah dan Mahakasih. Seorang mukmin merasa takut akan siksa akhirat, bukan kepada Allah. Sebab, Allah adalah Tuhan yang dicintai, bukan ditakuti.

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa seorang mukmin merasa takut terhadap akhir dari perbuatannya dan mengharapkan rahmat Tuhannya. Seorang mukmin hidup antara takut dan harap. Semakin panjang umurnya, semakin bertambah besar pula rasa takutnya. Di akhir usianya, harapannya kepada rahmat akan selalu hidup antara takut dan harap. Ia tidak hanya takut atau hanya berharap. Dan rahasia ini tersimpan dalam aktivitas sa’i antara Shafa dan Marwah.

Ketika ia mendatangi Shafa, ia berusaha membersihkan hatinya. Dan ketika ia sampai di Marwah, ia berupaya mencari kemuliaan. Marwah berarti mencari kemuliaan atau harga diri, Sementara Shafa berarti mencari pembersihan dan kesucian jiwa. Masing-masing memiliki rahasia tertentu, meskipun asalnya pulang-pergi antara Shafa dan Marwah ini dilakukan oleh Siti Hajar, ketika mencari air untuk anaknya yang tengah kehausan.

Wanita (Siti Hajar) itu berteriak, “Adakah yang kan menghiburku? Masih adakah Penghibur hati?” Berkat doa Nabi Ibrahim as, dari bawah kaki Nabi Ismail yang masih bayi kemudian memancar mata air Zamzam. Sampai sekarang, mata air tersebut tetap mengalir, bahkan setelah ribuan tahun. Rahasia kegiatan sa’i adalah bahwa seseorang akan mencapai kesucian hati (Shafa) dan kewibawaan (Marwah). Laki-laki yang berwibawa dan pemberani tidak akan pernah tunduk di bawah kekuasaan para penguasa zalim. Sebagaimana yang pernah diucapkan pemimpin para syuhada, Imam al-Husain bin Ali, “Aku tidak akan menyerah seperti orang yang hina dan tidak akan melarikan diri bagaikan budak!” Ya, haji memberikan pelajaran tentang kepahlawanan, keberanian, dan kewibawaan kepada umat manusia.

Kami berharap, semua orang yang berziarah ke rumah Allah akan mendapatkan (pahala) haji dan ziarahnya diterima Allah serta mampu melewati perjalanan spiritual itu dengan baik.

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: