Kisah & Hikmah

Makanan Yang Menentukan Nasib

Memperhatikan makanan yang dikonsumsi oleh manusia adalah merupakan anjuran-anjuran dari Al-Quran. Allah subhanahu wata’ala berkata: {Falyandsuril insaanu ila tha’ aamihi} “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.”  Dan ini adalah perkara pasti dan tidak dapat ditolak, sebab sejarah menyaksikan dan membuktikan bahwa pengalaman para ilmuan dalam ilmu-ilmu keislaman menemukan bahwa makanan yang bersih dan halal merupakan sarana yang penting dalam pertumbuhan dan perkembangan manusia dan apabila berhadapan dengan makanan yang tidak bersih dan haram, maka akan memunculkan kerusakan dan penyelewengan terhadap wujud manusia itu sendiri.

******

Pada zaman khalifah Mahdi Abbasi, seorang alim bernama Syarik, dia adalah termasuk salah satu musuh dari musuh-musuh khalifah, lalu khalifah menyiksa dan menghukumnya dengan apa saja. Akan tetapi  derajat dan kedudukan syarik semakin mendapat banyak tempat di hati masyarakat. Pada akhirnya khalifah memutuskan untuk melakukan sebuah rencana sebagai uji coba. Kemudian khalifah dengan segala cara mengundang Syarik untuk hadir dalam pertemuannya. Ketika Syarik hadir di depan dia, khalifah berkata: Apakah kamu tahu bahwa hukuman adil atas pemilik hak akan sampai kepada haknya sendiri? Dan apakah ini juga adalah suatu pemberitahuan di mana para hakim melakukan kerusakan? Oleh karena itu saya memuji bahwa rahasia untuk menolong umat adalah anda harus menerima kedudukan sebagai pemimpin hakim.

Syarik menjawab: Saya tidak bersedia menjadikan diri saya binasa dikarenakan menolong orang lain. Khalifah berkata: Ini adalah anak saya, ajarilah kepadanya pelajaran yang berlaku di saat ini! Sebab pekerjaan ini menjadikan penolak atas sebuah perangkap dari masyarakat, dan karena setelah saya dia akan menjadi khalifah masayarakat. Syarik juga menolak permintaan khalifah ini. Dengan dalil hari telah siang khalifah mengundang Syarik untuk menyantap makanan siang, dan setelah berkali-kali didesak akhirnya Syarik menerima juga undangan itu.

Khalifah memerintahkan untuk membawakan makanan khusus untuk dirinya kepada Syarik, Syarik sangat tertarik dengan makanan itu dan menyantapnya sampai habis. Setelah pembantu itu datang untuk membersihkan meja makan, dia menanyakan kepada hadirin yang hadir dalam pertemuan itu bahwa apa yang di lakukan Syarik terhadap makanan tadi? Mereka mengatakan kepada pembantu: Syarik menghabiskan makanannya, pembantu menjawab: Demi Tuhan setelah ini Syarik tidak lagi seorang yang benar. Ketika alim yang kalah itu merasakan nikmatnya makanan haram, dia menengok ke arah khalifah dan berkata: Sekarang saya mengerti bahwa perkataanmu adalah hak, oleh karena itu saya bersedia mengajarkan kepada anakmu metode penyimpangan dan pelanggaran dan juga saya bersedia menerima kedudukan sebagai pemimpin kehakiman dan kementerian, khalifah menjadi senang.

Beberapa bulan pertama syarik membawa gajinya ke rumah tetapi setelah beberapa bulan kemudian dia sendiri yang berangkat ke baitul mal untuk mengambilnya.

(Diterjemahkan oleh Ummu Jausyan)

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: