Kisah & Hikmah

Membasuh Debu Maksiat

Abu Yazid Al-Bustami adalah seorang sufi terkenal di Irak. Di akhir hayatnya, Abu Yazid maju ke mihrab untuk shalat dengan baju dan kopiahnya yang sengaja dia pakai terbalik. Di mihrab, sebelum shalat, dia bermunajat,

“Ya Allah, aku tidak membanggakan zuhud yang telah kuupayakan selama hidupku, shalat yang kulakukan sepanjang malam, puasa yang telah kujalankan selama hidupku, dan aku tidak menonjolkan diriku karena telah beberapa kali aku khatam Al-Quran. Aku tidak akan mengatakan pengalaman-pengalaman ajaib yang telah kulihat, doa yang telah kupanjatkan, dan betapa rapat hubunganku dengan-Mu. Engkau pun mengetahui aku tidak mungkin membanggakan segala sesuatu yang telah kulakukan itu, Semua yang kukatakan ini bukanlah untuk memamerkan diri atau meminta kepercayaan dari-Mu. Semua ini kukatakan kepada-Mu lantaran aku malu atas segala perbuatanku. Engkau telah menumpahkan rahmat-Mu sampai aku dapat mengenal diriku sendiri. Semuanya tidak berarti, anggaplah tidak pernah terjadi. Aku adalah orang Persia yang berusaha selama tujuh puluh tahun dengan rambut yang telah memutih dalam kejahilan. Dari padang pasir aku datang sambil berseru-seru, ‘Tangri!Tangri!. baru sekarang inilah aku dapat memutuskan ikat pinggang ini. Baru sekarang inilah aku dapat melangkah ke dalam kehidupan Islam. Baru sekarang inilah aku dapat menggerakkan lidah untuk mengucapkan syahadat. Segala yang telah Engkau perbuat tidak bisa dipertanyakan. Engkau tidak menerima seseorang karena kepatuhannya dan Engkau tidak menolaknya hanya karena pembangkangannya. Segala sesuatu yang kulakukan hanyalah debu. Atas setiap perbuatanku yang tidak berkenan di sisi-Mu, aku memohon ampunan-Mu. Basuhlah debu maksiat dalam diriku karena aku juga telah membasuh debu prasangka mematuhi-Mu.”

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: