Info Islam

PBB dan Kondisi Mengenaskan Warga Gaza

Nikolay Mladenov, koordinator khusus PBB di proses perdamaian Timur Tengah Rabu (19/4) mengungkapkan keprihatinannya atas eskalasi krisis energi di Jalur Gaza.

Ia mengatakan, krisis energi saat ini di Jalur Gaza merupakan dampak dari kebijakan rezim Zionis Israel dan blokade keras yang dipaksakan rezim ini membuat kehidupan warga Gaza sangat sulit.

Jalur Gaza sejak tahun 2007 hingga kini diblokade Israel. Blokade ini menimbulkan dampak serius bagi warga Gaza dan salah satunya adalah krisis energi. Selain itu serangan sporadis militer Israel dan perang beberapa bulan yang dilancarkan Tel Aviv ke Gaza telah merusak infrastruktur di kawasan ini termasuk infrastruktur energi.

Dampak dari krisis energi di Gaza adalah pasokan listrik terputus. Padahal Jalur Gaza setiap harinya membutuhkan 450 hingga 500 megawatt listrik. Sementara pasokan listrik yang ada hanya 180 megawatt, di mana 30 megawatt didapat dari satu-satunya pusat pembangkit listrik di kawasan ini dan 30 megawatt dari Mesir serta 120 megawatt dari Israel.

Meski demikian, pasokan tersebut tidak selalu ada, karena dari satu sisi, biaya listrik yang dipasok Mesir dan Israel dibayar oleh pejabat Palestina di Tepi Barat dan ketika tagihan listrik tersebut tidak dibayar dengan berbagai sebab, maka aliran listrik diputus oleh Kairo dan Tel Aviv. Di sisi lain, peristiwa seperti perang Israel terhadap Jalur Gaza dan tujuan politik rezim ini terhadap Hamas mendorong pemutusan aliran listrik menjadi prioritas agenda kerja Tel Aviv.

Mengingat kondisi ini, warga Gaza yang sebelumnya setiap hari rata-rata menikmati listrik selama delapan jam, dalam beberapa bulan terakhir merasakan pemutusan listrik berulang di mana kekurangan listrik di Gaza mencapai level tertinggi selama 10 tahun terakhir. Isu penting di sini adalah, menurut Ashraf al-Qudra, juru bicara Departemen Kesehatan Palestina pemutusan dan kelangkaan listrik membuat rumah sakit mengurangi pelayanannya kepada warga Gaza.

Hingga kini, sejumlah negara memberikan bantuan sedikit untuk meringankan kendala energi di Jalur Gaza, namun mengingat bantuan ini bersifat sporadis, maka hanya mengurangi kelangkaan energi di Gaza dalam waktu tertentu saja. Sementara menurut keterangan pejabat Palestina, rekonstruksi jaringan listrik di Gaza memerlukan dana sekitar 500 juta dolar. Bahkan jika dana tersebut terkumpul, blokade Gaza oleh Israel membuat impor peralatan yang dibutuhkan untuk membangun infrastrukur listrik sangat sulit.

Oleh karena itu, selian koordinator khusus PBB di proses perdamaian Timur Tengah menyatakan bahwa krisis energi telah mempersulit kehidupan warga Gaza, Ashraf al-Qudra pada 19 April lalu menyatakan bahwa kehidupan warga Gaza mencapai titik tersulit karena krisis energi akibat blokade 10 rezim Zionis Israel.

Sumber : www.parstoday.com

Komentari Artikel Ini

comments