Irfan & Akhlak Utama

Pelajaran Tentang Agenda Hidup

Ketahuilah wahai putraku, bahwa di hadapanmu terdapat jalan yang  panjang dan tantangan serta kesulitan yang berat, sungguh perlu bagimu  untuk mencari yang baik serta berusaha yang benar. Bawalah bekal secukupnya dengan mempertimbangkan keringanannya, (sehingga engkau  dapat sampai pada tujuan dengan beban yang ringan). Jangan kau pikul  beban yang melampaui kemampuanmu agar beratnya tidak menjadi bencana atas dirimu. Apabila engkau mendapatkan orang yang membutuhkan untuk membawakan bekalmu sampai hari kiamat lalu dikembalikan padamu kelak di kala kau memerlukannya, maka janganlah kau buang kesempatan baik itu.

 

Anggaplah sebagai keuntungan bagi dirimu orang yang meminta pinjaman padamu di saat kayamu dan  dibayarkan di kala sulitmu. Sebanyak mungkin berikan bebanmu pada orang lain dan berikan padanya bekal yang banyak sementara engkau masih mampu untuk melakukan itu, karena adakalanya, engkau mencari (orang yang mau menerima pemberianmu), namun kau tidak lagi bias menemukannya.

Ketahuilah bahwa di hadapanmu terdapat jalan mendaki yang sulit dilalui, di mana orang yang ringan bebannya jauh lebih baik keadaannya dibandingkan dengan yang bebannya berat dan yang berjalan lamban jauh lebih buruk keadaannya dibandingkan dengan yang berjalan cepat, sementara titik akhir dari perjalanan ini, mau tidak mau, adalah surga atau neraka. Maka persiapkan dengan baik dirimu sebelum tiba di sana dan perbaikilah tempat tinggalmu sebelum kau huni, karena pasca kematian, tidak ada lagi peluang untuk meminta ampunan dan tidak ada jalan untuk kembali ke dunia.

Telah kami singgung, bahwa bagian pokok dari wasiat Imam Ali adalah berkaitan dengan menjelaskan kehidupan manusia di dunia dan juga perbandingan antara dunia dan akhirat. Masalah penting ini juga dapat ditemukan pada banyak sabda beliau dan para Imam suci lainnya. Mungkin hampir semua khotbah dalam Nahj al-Balaghah  telah menyinggung tentang masalah ini. Yang perlu menjadi perhatian kita di sini adalah mengetahui rahasia di balik berbagai penekanan yang diberikan pada masalah dan topik ini.

Mengapa Dunia Dihina?

Kecintaan dan perhatian besar manusia pada kehidupan duniawi, kerja keras untuk mendapatkan kedudukan serta kekayaan dunia sehingga membuat manusia lupa terhadap akhirat atau bahkan mengingkarinya, semua itu mungkin adalah alasan mengapa para Imam memberikan pernyataan yang bersifat menghina atas dunia. Pada hakikatnya, dunia dihina dan direndahkan karena bisa menjadi sebab kelalaian manusia terhadap akhirat. Beragam pemandangan dan suara penuh godaan serta rayuan dunia ini selalu tersuguhkan di hadapan manusia dan ibarat petir, kilatan dan

cahayanya telah memengaruhi seluruh wujud manusia dan membuatnya bersemangat untuk mendapatkan serta meraihnya. Sementara akhirat, karena jauh dari jangkauan sensasi manusia dan memang berada di luar hal-hal yang bersifat indrawi, maka sudah barang tentu kurang mendapatkan perhatian darinya. Oleh sebab itu, para Imam suci melakukan upaya keras untuk membuka rahasia kehinaan dunia agar kehidupan akhirat tak terlupakan dan tertipu oleh tipuan serta rayuan dunia.

Dengan kata lain, karena akhirat tidak dapat dispensasi di dunia, maka lumrah bila  dia kurang mendapatkan perhatian dari manusia. Kalaupun ada orang yang memerhatikan akhirat berdasarkan dalil rasional (burhan ‘aqli) atau keterangan para nabi dan rasul as, maka tetap saja pengaruhnya sangat lemah bagi manusia yang cenderung melihat sisi lahir kehidupan dan sangat mudah baginya untuk melupakan akhirat. Pada saat yang sama, terpampangnya beragam kenikmatan dunia di hadapan mata telah secara kuat menarik dan menjerat manusia ke dalamnya. Tidak ada seorang muslim yang meragukan dan tidak mengenal akhirat atau perbandingan antara dunia dan akhirat, tetapi karena pengetahuan ini tidak diperbaharui setiap hari atau tidak diketahui secara mendalam, maka dalam tataran amal, mereka tidak begitu memerhatikan kehidupan akhirat.

Sehingga pada sebagian besar waktunya, mereka lalai dan berpikir bahwa yang penting adalah kehidupan beberapa saat dunia yang digeluti setiap hari. Mereka  menjadi lalai dan lupa bahwa ada kehidupan akhirat yang merupakan tujuan hidup yang sesungguhnya. Hanya para nabi dan wali yang sama sekali tidak pernah melupakan masalah-masalah ukhrawi, namun sebagian besar manusia lupa dan lalai.

Oleh sebab itu, masalah pentingnya kehidupan ukhrawi harus senantiasa diingatkan kepada manusia, agar dia menyadari bahwa kehidupan dunia yang sementara tidak dicintai secara buta hingga tenggelam dalam berbagai usaha, pekerjaan,  penyusunan rencana dan mencari kedudukan serta kekuasaan duniawi. Dunia hanyalah perjalanan beberapa saat dan tujuan berada di tempat lain. Karenanya, di dalam Al-Quran, sabda Rasul SAW, Nahj al-Balaghah dan seluruh keterangan para Imam suci telah ditekankan tentang rendahnya nilai dunia dan meruginya orang-rang yang tertipu oleh godaannya. Seperti disebutkan dalam al-Quran, “Wa mal hayat al-dunya illa la’ibun wa lahwun…”, (QS. Al-An’am [6]:32) yakni bahwa kehidupan dunia tidak lebih dari sekadar permainan dan kesenangan sesaat.

Dalam ayat lain dinyatakan,  “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.  Mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan atas apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Yunus [10]:7-8)

Dalam ayat yang lain lagi ditegaskan, “Celakalah orang-orang kafir karena siksa yang amat pedih, yaitu orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari \kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (QS. Ibrahim [14]:2-3)

Al-Quran telah menerangkan masalah ini secara berulang-ulang. Alasannya adalah karena dunia mempunyai tampilan yang menipu dan menggoda, sementara akhirat tidak tampak seperti halnya dunia. Manusia dapat memahami serta merasakan dunia melalui panca inderanya dan tampilan luar selalu hadir di hadapan matanya. Sementara pemahaman manusia tentang akhirat tidak  dia dapatkan melalui panca indera  dan akhirat tidak tampak secara fisik baginya. Karenanya, perhatian manusia lebih banyak tertuju pada dunia dan berbagai godaannya. Hal ini dapat membuatnya lalai dari tujuan asli dan akhirnya. Maka dari itu, manusia memerlukan kepada orang yang mengingatkan serta membangunkannya dari kelalaian.

Dalam rangka ini pula, Imam Ali pada beberapa bagian wasiatnya kepada Imam Hasan dan secara berulang-ulang telah menjelaskan perbandingan  antara kehidupan dunia dan akhirat dan bahwa akhirat jauh lebih berharga daripada dunia. Berikut ini adalah bagian lain dari wasiat beliau yang juga berbicara tentang masalah ini:

Wahai putraku, di hadapanmu terbentang jalan yang panjang, penuh bahaya  dan menakutkan yang harus kaulalui.

Oleh sebab itu, alasan di balik semua pengulangan ini adalah melenyapkan kelalaian dari atmosfer pikiran dan hati, agar manusia yang tertidur lelap dalam kelalaian oleh berbagai godaan dunia, dapat terbangun dan kembali sadar.

Jalan Kehidupan

Sebagaimana yang telah dibahas, kehidupan dunia hanyalah jembatan yang mengantar manusia menuju akhirat. Dunia tidak lebih dari sekadar tempat lewat yang penuh bahaya serta rintangan dan mau tidak mau harus dilalui oleh manusia. Jarak panjang (masafah ba’idah) yang dimaksud di sini bukanlah panjangnya jarak geografis, di mana manusia bertolak dari satu titik menuju titik yang lain dan berapa kilometer yang telah ditempuhnya. Akan tetapi, yang dimaksud dengan masafah di sini tidak lain adalah umur manusia yang dijalani.

Perjalanan ini memiliki dua keistimewaan: Pertama, Perjalanan ini sangat panjang yang bentangan-Nya di luar bayangan kita dan belum diketahui akan berhenti kapan dan di mana. Sekalipun akal manusia ditambah energi serta kecepatannya, tetap saja tidak akan dapat memahami dan mencapai batas akhirnya. Keistimewaan lain dari perjalanan ini adalah beragam bahaya, ketakutan yang ditimbulkan dan rintangan-Nya. Sedemikian rupa rintangan itu, sehingga saat demi saatnya, detik demi detiknya, dapat membuat manusia tergelincir, tersesat dan merebut ketenangan dan ketenteraman  hidupnya. Lalai sesaat dapat berakibat penyesalan seumur hidup dan bermil-mil terjauhkan dari kebenaran. Kondisi kehidupan yang

seperti ini, tentu menuntut kehati-hatian yang lebih dari manusia. Dia harus senantiasa mengawasi tingkah  laku dan amal perbuatannya, karena kesalahan sesaat dapat berakibat kerugian berabad.

Harus jujur dikatakan, bahwa hanya para nabi, washi dan wali yang dapat memahami perjalanan ini sebagaimana adanya. Imam Ali dan para Imam suci lainnya mengetahui dengan baik di mana letak tujuan manusia, berapa panjang jaraknya dan jalan mana yang harus dilalui untuk sampai pada tujuan. Adapun kita, semaksimal apapun berpikir, tetap saja hanya sedikit yang kita mengerti. Mungkin lantaran pemahaman yang mendalam inilah, kawan dan lawan menyatakan ketidakmampuannya untuk memahami hakikat kehidupan Imam Ali. Sehari-hari beliau berada di ladang atau di medan perang. Ketika berada di pucuk pimpinan, beliau tetap turun mengurusi beragam masalah seluruh lapisan masyarakat. Seluruh waktunya, selain yang beliau gunakan untuk ibadah wajib dan sebagian mustahabbat, dihabiskan untuk menyelesaikan segala urusan dan kebutuhan rakyat.

Aktivitas beliau di siang hari sangatlah padat. Di malam hari, aktivitas beliau berubah bentuk. Sebagian dari waktu  malamnya,  dia gunakan untuk mengurusi fakir miskin dan para yatim, sebagian malam yang lain beliau gunakan untuk ibadah dan hanya sedikit dari waktu malam beliau gunakan untuk beristirahat dan tidur. Selain sedikit waktu tidur, beliau menghabiskan waktu malamnya dalam ibadah. Ibadah  yang penuh dengan jeritan dan tangisan yang mengeluhkan panjangnya perjalanan dan sedikitnya bekal. Beliau menyadari bahwa perjalanan ini panjang, namun bekal yang dimiliki hanya sedikit. Beliau mengerti bahwa tujuan yang hendak didatangi oleh  manusia sangatlah jauh. Akan tetapi, aku dan kamu sebanyak apapun berpikir, tetap saja apa yang kita ketahui sedikit.

Singkat kata, dari keterangan para Imam suci dapat disimpulkan bahwa jauh jarak perjalanan ini berada di luar jangkauan pemikiran manusia dan kita tidak akan dapat memahaminya dengan baik. Mereka telah memahami hal-hal yang kita tidak mampu untuk memahaminya. Apakah seseorang yang menyadari bahwa di hadapannya terbentang jalan yang panjang dan perjalanan yang jauh dapat duduk tenang, membuang-buang waktu, berbicara yang tidak berguna, …? Seseorang harus sedemikian tidak mempunyai pekerjaan dan tujuan dalam hidupnya, sehingga berkesempatan untuk melakukan hal-hal yang tidak berguna di atas! Dengan mencermati sebuah contoh sederhana dari sekian banyak aktivitas yang kita lakoni, kita dapat menguji dan menilai perilaku kita: apabila pada suatu hari kita mempunyai tugas untuk pergi dari satu kota ke kota yang lain (yang berjarak sekitar 100 kilometer), tentu sebelum kita sampai  pada tujuan, kita tidak dapat duduk tenang dan terus berusaha dengan penuh kehati-hatian agar bisa lebih cepat sampai ke kota yang dituju. Apabila kendaraan yang dinaiki adalah kendaraan pribadi, kita akan lebih berhati-hati, sehingga dalam beberapa kilometer kita berhenti guna mengontrol dan melakukan tindakan-tindakan antisipatif yang perlu pada kondisi mobil. Begitulah watak dan pemikiran manusia. Dia akan bersikap hati-hati dalam perjalanan dan pada kendaraan yang dinaiki, dan tidak akan tenang sebelum sampai pada tujuan. Nah, apabila memang watak manusia seperti itu adanya, bagaimana dia bisa duduk tenang tanpa mengkhawatirkan apakah dia tertinggal dari kafilah atau tidak dalam sebuah perjalanan yang akhirnya belum diketahui!!

Apa yang telah dijelaskan di atas, hanyalah satu sisi dari masalah, dan masih ada kesulitan yang lain. Permasalahan bukan hanya terletak pada jauhnya jarak perjalanan, tetapi jalan ini adalah sebuah jalan yang penuh bahaya. Setiap saat kita dapat jatuh dalam kesalahan dan kekeliruan. Di hadapan kita masih terbentang jalan panjang berliku pegunungan yang penuh rintangan. Sedikit saja kelalaian, dapat membuat kita terlempar ke lembah yang sangat dalam.

Singkat kata, di hadapan kita terbentang jalan yang panjang dan penuh bahaya, di  mana setiap waktu ada ribuan rintangan yang menghadang. Apabila kita mau mencermati dengan baik dan teliti, melihat ke kanan dan ke kiri, tentu kita akan dapat mengetahui betapa banyak orang telah tersesat, jatuh dan tergelincir. Kita akan menemukan orang-orang tersesat yang sama sekali tidak pernah kita duga bahwa mereka akan sedemikian menyimpang dan menyeleweng. Mereka jatuh dalam keraguan, ketidakpastian dan bahkan sampai pada titik pengingkaran. Hal ini hanyalah sebagian kecil dari penyimpangan yang bisa kita  pahami, sementara masih banyak lagi penyimpangan dan penyelewengan yang masih tertutup, karena Allah memang berkehendak untuk meletakkan hijab atas berbagai kekeliruan dan kesalahan hamba-hamba-Nya. Maka dari itu, kita harus selalu waspada dan tidak lalai dari berbagai macam bahaya yang menghadang sepanjang perjalanan hidup. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perjalanan kehidupan mempunyai dua kriteria: Pertama, berjarak panjang dan yang lain adalah, penuh bahaya dan sangat menakutkan. Imam Ali menegaskan,Ketahuilah wahai putraku, bahwa di hadapanmu terbentang jalan yang panjang dan tantangan serta kesulitan yang berat.

(Dari buku “21 Nasihat Abadi Penghalus Budi” oleh :  Syaikh Muhammad Taqi Mishbah)

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: