Perspektif

Perbedaan Wanita dan Pria

Kaum wanita merupakan separuh dari populasi umat manusia. Bila pandangan detil manusia ditujukan untuk membanding-bandingkan peran mereka dengan peran yang lainnya, maka akan terlihat bahwa peran separuh dari umat manusia ini paling sensitif, paling halus, paling abadi dan paling berpengaruh dalam gerakan sejarah manusia dan perjalanan manusia menuju pada kesempurnaan. Demikianlah Allah menciptakan wanita. Bila struktur penciptaan manusia dan alam dibagi menjadi dua; pekerjaan-pekerjaan yang halus dan pekerjaan-pekerjaan yang kuat yang menurut istilah para tukang bangunan adalah pekerjaan keras, maka bagian pertama yang merupakan pekerjaan halus dan kecil, membimbing perasaan dan kasih sayang umat manusia ada di tangan wanita. (5/5/1384)

Inilah perspektif ilahi terkait masalah pria dan wanita. Dalam penciptaan wanita dan pria adalah sebuah noktah yang telah menjadi sumber penyimpangan, kesalahan dan cara-cara yang salah. Sayangnya hal ini ada selama berabad-abad dan saat ini juga masih ada. Noktah itu adalah wanita dan pria dalam struktur alami mereka memiliki perbedaan. Dalam struktur alami yakni dalam struktur jasmani dan materi, dan struktur perasaan, spiritual dan kejiwaan. Perbedaan ini terkait dengan kemungkinan dan wajibnya melaksanakan tugas khusus dan tepat pada tempatnya. (22/8/1374)

Suami di mata istri adalah simbol kepercayaan, titik sandaran dan kepercayaan. Istri menggambarkan kasih sayang suaminya kepadanya dalam bingkai ini. Keduanya memiliki dua peran yang berbeda dan kedua-duanya diperlukan. Mencampur dua peran ini sama dengan menentang alam dan merusak sarana yang baik. Ibaratnya seperti sebuah taman bunga, sebuah kebun yang dibuat oleh seorang pakar, kemudian kita datang menginjak-injak, mencampuraduk dan mengacak-acaknya sesuai dengan selera kita, demikianlah. Istri saat memandang suaminya dengan pandangan kasih sayang dan cinta, ia memandang suaminya sebagai sebuah sandaran yang bisa menggunakan kekuatan jasmani dan pikirannya untuk memajukan kehidupan seperti sebuah mesin.

Suami ketika memandang istri, ia memandanganya dengan pandangan sebagai simbol keindahan, kelembutan, simbol keakraban yang bisa memberikan ketenangan kepadanya.

Bila suami adalah titik sandaran dalam urusan lahiriah kehidupan, istri titik sandaran untuk masalah-masalah kejiwaan dan spiritual kehidupan. Istri adalah lautan keakraban dan kasih sayang. Ia bisa mengeluarkan suaminya dari segala kesedihan dan masuk ke dalam suasana penuh kasih sayangnya.  Semua ini adalah kemampuan suami dan istri. Kemampuan kejiwaan keduanya. Alam juga demikian, mereka punya pekerjaan. Hanya saja kita tidak memahaminya. Kita tidak saling soal jawab dengan alam.

Terkadang suami dengan sikap-sikapnya yang kasar tidak berakhlak, dengan memaksakan pekerjaan-pekerjaan yang berat, dengan harapan yang tinggi, dengan menghina, ia telah menyingkirkan sumber energi ini dari dirinya sendiri. Istri yang mengalami perlakuan seperti ini tidak lagi menjadi simbol istri yang bisa memberikan ketenangan dan ketentraman dari sisi spiritual, ia akan keluar dari kondisi yang sebenarnya, terkadang ia bahkan menjadi seorang penuntut.

Istri juga bisa demikian, ia terkadang melakukan kesalahan ini terhadap suaminya. Yang seharusnya ia memandang suaminya sebagai sebuah sandaran yang bisa disandari, malah ia memberikan sandaran kepada suaminya. Yang seharusnya istri memandang suaminya sebagai sosok yang bisa dimanfaatkan karena resistensinya, karena kewibawaannya, terkadang malah istri memandangnya sebagai pembantu. Terkadang malah memandangnya sebagai pelawak. Macam-macam model istri. Sebagian istri melakukan kesalahan. Segala bentuk kesalahan mungkin saja dilakukan. Yang seharusnya ia memanfaatkan sumber kekuatan dan energi ini, malah ia mengubahnya menjadi sebaliknya. Perselisihan semacam ini bisa terjadi. Jangan dibiarkan.

Islam menilai pria sebagai pemimpin dan wanita sebagai bunga. Hal ini tidak menyinggung wanita dan juga tidak menyinggung pria. Tidak mengabaikan hak wanita dan juga tidak mengabaikan hak pria. Bahkan melihat dengan baik tabiat keduanya. Timbangan keduanya kebetulah berbanding sama. Yakni bila kita meletakkan sesuatu yang lembut, indah dan menjadi penyebab ketenangan dan hiasan spiritual lingkungan hidup dalam sebuah timbangan dan meletakkan sesuatu yang bisa mengatur, bisa dipercaya dan bisa menjadi sandaran bagi seorang istri di bagian lain dari timbangan itu, maka timbangan ini akan menjadi seimbang dan sama. Tidak yang itu lebih utama dari yang ini dan juga tidak yang ini lebih utama dari yang itu.

Sebagian wanita ingin mencari pekerjaan yang bukan spesialisasinya. Orang-orang lelaki juga demikian. Mereka ingin mengatakan mari kita tukar peran wanita dan pria, ketika sudah kita tukar, apa yang akan terjadi?

Yang bisa kalian lakukan hanyalah melakukan kesalahan. Dan merusak penciptaan yang sudah indah dan bagus. Tidak lebih. Kalian tidak berbuat apa-apa selain merusak. Kalian tidak memanfaatkan faedah masing-masing. Kalian merusak kepercayaan lingkungan rumah tangga. Menjadikan suami meragukan istri dan sebaliknya istri meragukan suaminya. Merusak kasih sayang dan cinta yang selama ini menjadi modal utama kerja. Demikianlah.

Terkadang di dalam rumah seorang suami memainkan peran sebagai istri. Istri menjadi pemimpin secara mutlak dan mengatur suami; lakukan ini! lakukan itu! Sang suamipun menerima dengan pasrah. Ini satu model. Nah, suami seperti ini tidak bisa lagi menjadi tempat sandaran bagi istrinya. Seorang istri senang bila memiliki tempat sandaran yang baik. Yang demikian itu sudah tidak ada faedahnya lagi.

Terkadang dari sisi lain, suami memaksakan hal-hal tertentu. Katakanlah, bahwa semua urusan belanja, pekerjaan dan berurusan dengan orang lain menjadi tanggung jawab istri. Suami memaksakan, mengapa? Karena saya ada urusan di universitas, karena saya ada urusan di kantor, saya tidak punya waktu. Alasannya adalah karena tidak punya waktu.

Dia katakan, saya harus pergi ke kantor. Sang istri yang harus mengerjakan semua pekerjaan. Yakni pekerjaan-pekerjaan yang berat, yang tidak menarik bagi istri; tentu saja dalam sehari dua hari hal ini bisa menyibukkan dan menjadi hiburan bagi sang istri, namun ini bukan tugas dia.

Sumber: Khanevadeh; Be Sabke Sakht Yek Jalaseh Motavval Motavva Dar Mahzar-e Magham Moazzam Rahbari

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: