Info Islam

Putus Aliran Air, Kejahatan baru Israel terhadap Warga Palestina

Pemutusan air terhadap bangsa Palestina di Tepi Barat Sungai Jordan kembali menyadarkan dunia akan esensi anti kemanusiaan dan rasisme rezim Zionis Israel.

Mustafa Barghouti, sekjen Inisiatif Nasional Palestina terkait hal ini mengatakan, aksi rezim Zionis memutus aliran air ke berbagai desa dan kota Palestina merupakan tindakan anti kemanusiaan dan rasisme. Menurutnya, Israel merampas sebagian besar sumber air di Tepi Barat dan merelokasi aliran air berbagai kawasan Palestina ke distrik Zionis.

Saat ini Israel menguasai 800 juta meter kubik sumber air Tepi Barat. Sementara warga Palestina di kawasan tersebut hanya memiliki 130 juta meter kubik air. Parahnya lagi, warga Palestina harus membayar untuk mendapatkan air. Menurut para pengamat, satu warga Israel mengkonsumsi air sama dengan warga Palestina. Meski berdasarkan kesepakatan Oslo, Israel diharuskan keluar dari Tepi Barat dan menyerahkan sumber air kepada bangsa Palestina, namun ketidakpatuhuhan Israel membuat warga Palestina tidak memiliki akses ke sumber air di bumi pendudukan.

Untuk saat ini, saham setiap warga Palestian dari air yang ada di bumi pendudukan tahun 1967 sebesar 50 meter kubik setiap tahun. Sementara saham setiap warga Israel untuk waktu yang sama sebesar 2400 meter kubik. Artinya saham warga Israel lima kali lipat dari warga Palestina.

Selain itu, rezim Zionis memaksa warga Palestina membayar dua kali lipat untuk setiap satu meter kubik air di banding dengan warga Zionis. Kondisi ini berlaku di saat rata-rata penghasilan warga Zionis 26 kali lipat dari penghasilan warga Palestina.

Selama dua dekade lalu, ketika perundingan damai Palestina-Israel berlangsung, petinggi Zionis dengan memanfaatkan waktu, bukan saja merampas sumber air di Tepi Barat, namun juga dengan membangun serta memperluas tembok pemisah di bumi Palestina, menempatkan sumber-sumber air di bumi penjajahan di zona hijau dan wilayah rampasan mereka.

Menyusul kebijakan arogan Israel, kini desa, kota dan kamp-kamp pengungsi Palestina di Tepi Barat mengalami kekurangan air, khususnya air bersih dan layak konsumsi. Kondisi ini kian memperbesar kemungkinan merebaknya penyakit menular di bumi pendudukan.

90 persen air industri dan air minum Israel disuplai dari bumi pendudukan Palestina, Dataran Tinggi Golan dan Yordania. Hingga tahun 2000, dan pembebasan wilayah Lebanon selatan oleh Gerakan Perlawanan Islam Lebanon (Hizbullah), daerah selatan Lebanon dan tiga danau penting yang mengalir di wilayah ini merupakan sumber air bagi Israel. Rezim Zionis memasang pompa raksasa dan menyedot air tawar di tiga danau tersebut.

Oleh karena itu, pengamat menilai minimnya air di Israel menjadi salah satu faktor utama rezim ini menjajah wilayah negara-negara tetangga rezim ilegal ini. Kondisi ini terjadi di saat warga Palestina menghadapi kekurangan air dan mereka tidak memiliki solusi lain kecuali menjatah air bagi pertanian dan air minum.

Hingga perang pada Juni 1967, terdapat 140 mata rantai sumur di lembah Yordania (Jordan Valley). Namun pasca pendudukan kawasan ini oleh militer Israel, sumur-sumur tersebut dihancurkan dan sesuai dengan proyek aliran air Israel, air sumur tersebut dialirkan ke kawasan yang ditentukan oleh rezim Tel Aviv.

Di sisi lain, pemukim Zionis merampas sejumlah besar mata air di Tepi Barat yang menjadi sumber vital kebutukan air bagi pertanian warga Palestina, dan menjadikannya obyek wisata.

Pemukim Zionis juga mencegah warga Palestina memasuki kawasan sekitar mata air ini, karena di berbagai obyek wisata di sekitar mata air ini dibangun kolam renang dan restoran padang sahara.

Menurut para pengamat, minimnya air telah menghambat pembangunan permanen bagi bangsa Palestina, dan kian mempersulit kondisi dua juta populasi Tepi Barat. Kini dunia mulai mengkhawatirkan krisis air di bumi Palestina yang disebabkan oleh berlanjutnya penjajahan rezim Zionis.

Sumber : www.indonesian.irib.ir

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: