Perspektif

Shalat, Ritual Samawi Terindah

Shalat merupakan ibadah yang membuka jalan kebenaran dan keselamatan bagi umat manusia. Allah swt menyebut shalat sebagai salah satu tanda orang beriman, sebagaimana yang dinyatakan Al-Quran dalam surat An-Nisa ayat 103: “…Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”.

Di mata para ahli agama, shalat memiliki tiga karakteristik utama yang berperan penting dalam membangun akhlak dan meningkatkan spiritualitas manusia. Pertama, shalat yang dilakukan dengan memperhatikan etika dan persyaratannya akan menjadikan manusia terhindar dari dosa dan maksiat. Kedua, shalat bisa menghidupkan kembali jiwa penghambaan dan ketaatan kepada Sang Khaliq. Dan Ketiga, shalat akan membuat kalbu seorang mukmin menjadi tenang dan damai, sehingga akan mudah mengantarkannya untuk memperoleh keberhasilan di pelbagai sendi kehidupan. Sebab, ketenangan hati dan jiwa merupakan kunci utama untuk memperoleh kesuksesan.

Sebagaimana kita ketahui bersama, kegundahan dan kebimbangan hati merupakan salah satu hambatan serius ketika manusia memilih jalan hidupnya. Shalat sebagai ritual keagamaan, memberikan rasa ketenangan jiwa kepada manusia. Sedemikian pentingnya peran shalat dalam praktek agama, sampai-sampai Rasulullah saw menyebut shalat sebagai tiang agama. Beliau bersabda: “Shalat bagaikan tiang kemah. Selama tiang itu tegak dan berdiri kokoh, tali, pasak, dan tenda kemah pun akan berdiri kokoh. Namun jika tiang itu patah, maka tidak pasak, tidak juga tali dan tenda bakal berguna”.

Pekan lalu, Komite Penegakan Shalat Republik Islam Iran menggelar Seminar nasional shalat ke-17 di kota suci Qom. Dalam seminar kali ini, ketertarikan generasi muda kepada agama dan meningkatnya spiritualitas di kalangan mereka mendorong para penggiat kebudayaan Islam berupaya mengaitkan semangat keagamaan kaum muda dengan masjid sebagai basis aktifitas keislaman.

Generasi muda dikenal memiliki semangat yang membara, idealis, dan optimis dalam memandang hidup. Karena itu, iklim spiritual yang terdapat di masjid, bisa berpengaruh positif terhadap mereka. Karena itu, tema utama yang dipilih dalam Seminar Nasional Shalat tahun ini adalah “Masjid, Pemuda, dan Shalat”. Seminar ini digelar untuk mencari pendekatan dan solusi yang tepat untuk menjawab tuntutan generasi muda yang kritis dan haus akan spritualitas Islam.

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyatakan, “Kalbu dan jiwa suci pemuda, merupakan lokus yang siap menerima tebaran hangat dan kebenderangan shalat sebagai pancaran cahaya dan kehadiran ilahi. Sehingga jalan suluk dan pencapaian spiritual dapat terungkapkan di tengah kesesatan yang ada. Memperkenalkan pemuda pada keceriaan yang terpancar dalam shalat dan zikir merupakan pelayanan besar terhadap mereka dan masa depan yang mesti dibangun dan diserahkan kepada kemampuan dan tekad muda mereka. Pesan saya adalah jadikanlah masjid seperti kalbu para pemuda yang suci, bersih, dan penuh dengan suka cita dan keceriaan. Masjid juga harus menjadi tempat cahaya shalat terpancar dan menyebarkan cahaya makrifat, cinta, kasih-sayang, dan keceriaan”.

Rasulullah saw dalam hadisnya mengenai gambaran orang-orang yang selamat bersabda: “Allah swt di hari kiamat nanti memberikan rahmatnya kepada beberapa golongan. Pertama, golongan para pemimpin yang adil, dan golongan lainnya adalah para pemuda yang tumbuh dewasa dengan beribadah kepada Allah swt”.

Para pakar psikologi berkeyakinan, perasaan religi sejatinya disertai dengan sebentuk rasa tenang dan kenikmatan batin. Banyak pemuda yang menyukai rasa spiritual semacam itu. Setiap pemuda yang tumbuh dan dididik di tengah lingkungan yang sehat dan bersih serta jauh dari noda dosa, akan membuat perasaan religinya mampu melapangkan jiwa dan mentalnya”. Carl Rogers, psikolog AS menyatakan, “Pemuda menginginkan lingkungan yang tenang dan bercahaya, sehingga ketika memasukinya ia mampu menundukkan pengulangan kehidupan materialis”.

Dalam Seminar Nasional Shalat ke-17 di Qom, para peserta kembali menekankan pentingnya ajaran agama seperti shalat sebagai pemenuh kebutuhan dan perasaan religi para pemuda, sekaligus sebagai penyeimbang instingnya yang lain. Jika shalat dikerjakan dengan penuh kekhusyukan dan kesungguhan, maka hati dan jiwa sang pelaku dan lingkungan di sekitarnya. Cahaya shalat akan menerangi, rumah, keluarga, lingkungan kerja, dan ruang hidup. Karena itu semakin banyak orang yang melakukan shalat dengan benar, maka lingkungan masyarakat di sekitarnya pun akan lebih tentram dan terlindung dari beragam gangguan sosial. Ibarat kata Imam Ali as, “Dengan shalat, zakat, dan puasa yang sulit, Allah swt menyucikan orang-orang mukmin dari rasa angkuh dan kesombongan, memberinya ketenangan jiwa, mendidiknya dengan rendah hati dan menjauhkannya dari sikap memuji diri.

Banyak kalangan yang menegaskan bahwa akar kegagalan manusia lantaran mereka lalai terhadap perintah dan larangan Allah swt dan tunduk terhadap keinginan hawa nafsu. Shalat akan membebaskan manusia dari kegelapan dan kesulitan hidup materialis serta akan mengaktualisasikan potensi dirinya menuju kebaikan dan keutamaan. Karena itu, di semua agama ilahi, pelaksanaan shalat merupakan ritual agama yang paling pokok dan tanda iman yang paling nyata.

Ayatollah Reza Ostadi, guru besar sekolah tinggi teologi Qom, dalam pidatonya di Seminar Nasional Shalat ke-17 menyatakan, “Dalam agama Islam, segala hal yang yang berpengaruh positif terhadap perkembangan dan penyempurnaan manusia dan masyarakat, selalu mendapat perhatian yang lebih. Oleh karena tidak ada keutamaan yang lebih mulia ketimbang mendirikan shalat setelah makrifat ilahi, maka peran keluarga dan masyarakat dalam mendorong para pemuda untuk melaksanakan shalat merupakan hal yang sangat mendasar dan penting”.

Di mata para pakar agama, shalat merupakan pengantar mendasar untuk melakukan perjalanan spiritual. Karena shalat memiliki faedah dan potensi yang sangat besar untuk membantu manusia dalam menghadapi pelbagai tantangan hidup. Dengan memperkenalkan hakikat shalat serta filosofi dan etika dari ibadah mulia itu, maka masyarakat, khususnya para pemuda pun bakal lebih tertarik untuk mengenal dan melakukan shalat secara benar. Tentu saja, makrifat mengenai shalat bakal tercapai, jika shalat dilakukan secara benar dan diiringi dengan penghayatan terhadap makna yang terkandung dalam bacaan dan gerakan shalat.

Sejatinya, ibadah seperti shalat merupakan pengantar menuju kebahagiaan sejati. Penulis asal AS, Dale Carnegie menandaskan, “Jika saya tak mampu mengungkap filosofi dan rahasia ibadah, tak ada alasan bagi saya untuk tidak memperoleh kehidupan bahagia yang dikaruniakan ibadah untuk manusia”. Dengan demikian, shalat mesti dijalani dengan sepenuh hati dan kenikmatan spiritual yang dihasilkannya harus kita manfaatkan semaksimal mungkin.

Sumber : www.indonesian.irib.ir

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: