Info Islam

Sidang Darurat Parlemen Irak Sahkan Resolusi Pengusiran Pasukan AS

Buletinmitsal.com – Parlemen Irak dalam sidang darurat pada hari Ahad (5/01/2020), mensahkan sebuah resolusi untuk mengusir pasukan Amerika Serikat dari negara itu.

Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrallah dalam sebuah acara mengenang Letnan Jenderal Qasem Soleimani yang digelar di Beirut pada Ahad malam, mengatakan 3 Januari 2020 hari syahidnya Letjen Soleimani akan menjadi awal dimulainya sejarah baru Asia Barat (Timur Tengah).

Parlemen Irak telah membuka lembaran baru sejarah Asia Barat. Parlemen memutuskan mengusir pasukan AS dan melarang pasukan asing menggunakan zona udara Irak. Ini merupakan salah satu konsekuensi langsung dari meneror Letjen Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis.

Dengan keputusan itu, Pakta Keamanan Baghdad-Washington yang ditandatangani pada 2008 secara praktis akan berakhir. Selama ini, AS bukan hanya tidak bergerak untuk memperkuat keamanan Irak, tetapi justru melanggar kedaulatan negara itu. Washington memanfaatkan pakta keamanan untuk mempertahankan kekacauan di Irak serta membunuh para pemuda dan pemimpin negara tersebut.

Serangan terhadap basis pasukan Hashd al-Shaabi di daerah al-Qaim dan teror terhadap Mahdi al-Muhandis, adalah tindakan yang merusak keamanan dan melanggar kedaulatan Irak.

Perdana Menteri Irak, Adil Abdul Mahdi dalam pertemuan kemarin, mengecam kebijakan AS terhadap Iran dan Hashd al-Shaabi. Dia mengatakan, “Iran telah memerangi terorisme dan mendukung pasukan keamanan Irak. Hashd al-Shaabi adalah bagian dari struktur keamanan Irak.”

Kejahatan dan pelanggaran kedaulatan oleh AS telah membangkitkan kemarahan rakyat Irak. Keputusan parlemen mengindikasikan besarnya kemarahan dan kebencian rakyat dan partai-partai politik Irak terhadap terorisme negara yang dijalankan oleh AS. Di awal pertemuan, anggota parlemen Irak secara serentak meneriakkan slogan-slogan “Mampus Amerika.”

Resolusi parlemen Irak bermakna kegagalan kebijakan Washington di negara itu. Seorang pengamat Asia Barat, Hamidreza Moghadamfard menuturkan, “Pemerintah teroris AS telah melakukan banyak upaya untuk mencegah keluarnya resolusi seperti itu, bahkan dengan mengancam para pejabat Baghdad, namun ia tetap diloloskan oleh parlemen Irak.”

Dapat dikatakan bahwa pembunuhan Letjen Soleimani dan Mahdi al-Muhandis, telah memperkuat independensi Irak dalam waktu yang sangat singkat.

Memuncaknya kemarahan dan kebencian terhadap AS tidak hanya terjadi di Irak. Rakyat Iran juga turun ke jalan-jalan untuk menunjukkan kemarahan mereka terhadap AS dan mereka menganggap AS sebagai pemerintahan teroris.

Warga di Kashmir, Bahrain, Pakistan, India, dan Nigeria serta demonstran di Inggris dan Jerman, menggelar aksi protes anti-Amerika, dan sekarang penentangan dunia terhadap kebijakan pemerintah AS terus meningkat.

Iran juga belum melakukan pembalasan yang berat, seperti yang dijanjikan oleh Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Sayid Ali Khamenei. Pembalasan ini bisa memaksa AS mengakhiri kehadirannya di kawasan.

sumber: parstoday

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: