Sosok

Umar Khayyam: Penyair yang merintis Geometri Analitik

Buletinmitsal.com – Umar Khayyam adalah salah seorang di antara ilmuwan dan sarjana muslim klasik yang memiliki penguasaan terhadap berbagai disiplin ilmu, termasuk pada bidang ilmu yang terlihat tidak saling berhubungan. Bahkan, Nasr memasukkan Umar Khayyam sebagai salah seorang tokoh Islam yang universal lantaran luasnya penguasaan Umar Khayyam terhadap berbagai cabang ilmu pengetahuan. Dia adalah seorang penyair, filsuf, sufi, penulis sains matematika, fisika, dan astronomi.

Ilmuwan yang lahir di Nisyapur, provinsi Khurasan, Iran pada 1040 dan meninggal pada 1124 ini terkenal sebagai penyair Persia yang masyhur. Meskipun di zamannya, dia lebih dikenal sebagai ahli metafisika dan saintis (matematikawan dan astronom). Umar Khayyam melahirkan banyak karya dalam berbagai disiplin ilmu. Melalui terjemahan syair-syairnya yang disebut ruba’iyyat dan quatrain, namanya tersohor hingga Barat.

Kalender Surya Jalali yang digunakan Persia sejak waktu ini merupakan hasil rancangannya. Menurut Welty (Human Ekspression: A History of the World), kalender Umar Khayyam lebih tepat dibanding dengan kalender Gregoria yang dipakai sampai sekarang di dunia internasional. Tambahnya lagi, bahwa kesalahan (ketidakcermatan) kalender Gregoria selama satu hari terjadi dalam kurun waktu 3300 tahun, sedangkan kalender Jalali mencatat ketidakcermatan perhitungan satu hari terjadi dalam kurun waktu 5000 tahun.

Nasr menyebut bahwa pada diri Umar Khayyam berbagai perspektif Islam bersatu. Lebih lanjut dia menulis,

Dia seorang sufi dan penyair sekaligus filsuf, astronom, dan ahli matematika. Sayangnya, sejumlah karyanya telah hilang. Meskipun begitu, karya yang masih bertahan – yang meliputi syair-syair, naskah tentang eksistensi, kejadian (generation) dan kemusnahan (corruption), fisika, totalitas dari sains, neraca, astronomi, metafisika, sebagaimana juga karya-karya matematika yang terdiri dari riset tentang aksioma Euclid, aritmatika, dan aljabar – adalah bukti yang memadai akan keuniversalan Khayyam.

Karya al-Jabar oleh Umar Khayyam merupakan satu dari teks matematika terpenting Abad Pertengahan. Karya ini telah diterjemahkan dan diedit oleh F.Woepcke ke dalam bahasa Prancis yang merupakan sumbangan berarti bagi pengembangan telaah matematika di Prancis.

Dalam bidang aljabar, Umar Khayyam bahkan dianggap jauh lebih maju dari al-Khawarizmi sang Bapak Aljabar. Kemampuannya memecahkan masalah persamaan-persamaan matematika yang kompleks membuat prestasinya tak tertandingi oleh matematika modern sekali pun.

Menurut Howard F. Fehr, pada abad ke-11, aljabar dan geometri dipelajari sebagai subjek yang terpisah. Namun pada abad ke-12, Umar Khayyam adalah orang yang pertama mengkombinasikan aljabar dan geometri. Hasil dari usaha ini, ‘Umar Khayyam berhasil memberi sumbangan tersebar dan orisinil terhadap perkembangan ilmu matematika melalui penemuannya untuk mensintesiskan ilmu aljabar dengan geometri. Penemuan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya ilmu geometric analitik (ilmu-ilmu ukur analitik) yang pada abad ke-17 dikembangkan oleh seorang filsuf dan matematikawan ternama, Rene Descartes.

Adapun penemuan lain Umar Khayyam yang membuka babat baru dalam bidang telaah geometrik adalah kritikannya terhadap geometrik Euclides yang selama 13 abad menjadi rujukan utama geometri. Yang kemudian disebut sebagai geometri non-euclidian. Penemuan ini merupakan penemuan revolusioner dalam sejarah perkembangan geometri.

Penemuan spektakuler ini kemudian dikembangkan secara detail oleh Lobachevsky-Bolyai pada abad ke-19. Yang selanjutnya dalam naskah-naskah modern, geometri non-euclidian disebut sebagai hasil penemuan Lobachevsky-Bolyai tanpa sama sekali menyebut Umar Khayyam sebagai pencetus awal. Ini merupakan satu dari banyak karya-karya ilmuwan muslim yang jejaknya dihapuskan secara sistematis. Pihak-pihak Barat demi menjaga image – yaitu klaim sebagai Dunia Pertama yang membangun peradaban modern secara langsung dari tangan yunani-Romawi untuk melegitimasi hegemoni mereka terhadap dunia global sekarang – sangat berkepentingan untuk melakukan distorsi historis berupa pemalsuan dan pelencengan data sejarah. Padahal, faktanya adalah kekayaan khazanah ilmu pengetahuan Islam klasik lah yang telah memberi kontribusi yang tak dapat dihitung dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Seorang sejarawan Amerika Serikat yang jujur mengatakan, bahwa tanpa peradaban Islam sebelumnya, peradaban modern tidak akan dapat dimengerti (latar belakang kemunculannya).

*Disadur dari Menggali Nalar Saintifik Peradaban Islam, Husain Heriyanto (2011)

Komentari Artikel Ini

comments

https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js
%d blogger menyukai ini: