Info Islam

Vonis Mati Sheikh Nimr dan Gelombang Kecaman terhadap Al Saud

Reaksi terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Arab Saudi semakin luas dimensinya. Berlanjutnya berbagai aksi rezim Al Saudi menjatuhkan hukuman mati atau kurungan panjang terhadap aktivis politik dan hukum memicu gelombang protes warga Arab Saudi dan organisasi internasional.

Terkait masalah ini, warga Arab Saudi timur di aksinya mengecam vonis mati bagi ulama terkenal Syiah, Sheikh Nimr Baqir al-Nimr menggelar demonstrasi besar-besaran. Warga al-Awamiyah di timur Arab Saudi Kamis (29/10) malam menggelar demo mengecam hukuman mati terhadap Sheikh Nimr. Demonstran seraya meneriakkan slogan mereka, juga menuntut pencabutan vonis mati bagi Sheikh Nimr dan pembebasan segera tahanan politik.

Pengadilan tinggi Arab Saudi beberapa hari lalu merilis vonis eksekusi mati bagi Sheikh Nimr al-Nimr, ulama terkenal negara ini.

Seiring dengan eskalasi protes warga Arab Saudi atas vonis eksekusi mati yang dirilis rezim Al Saud terhadap Sheikh Nimr, ulah pemerintah Riyadh tersebut juga menuai reaksi opini publik dunia, organisasi dan tokoh internasional. Dalam hal ini, Juru bicara sekjen PBB, Stephane Dujarric mengatakan, Ban Ki moon di kontak telepon dengan Raja Salman bin Abdulaziz, pemimpin Arab Saudi, mengungkapkan kekhawatirannya atas perilisan keputusan vonis eksekusi mati bagi Shekhn Nimr dan di kesempatan tersebut ia menuntut pengampunan bagi ulama Syiah tersebut.

Dujarric menambahkan, meski ada tuntutan internasional untuk mencegah eksekusi mati bagi Sheikh Nimr, namun vonis ini Ahad lalu telah dirilis oleh pengadilan tinggi Arab Saudi. Tapi demikian menurut Dujarric, PBB menentang vonis tersebut. Sheikh Nimr Baqir al-Nimr yang tercatat tahanan politik Arab Saudi paling utama, ditangkap para Juli 2012 karena mendukung aksi protes warga di kota Qatif. Ulama pejuang ini pada 15 Oktober 2014 divonis hukuman mati dengan dakwaan memprotes pemerintah Riyadh. Vonis ini menuai reaksi luas di tingkat internasional.

Rezim Al Saud di beberapa tahun terakhir meningkatkan aksi penumpasan terhadap warga dengan tujuan membungkam protes yang terus meningkat dari penduduknya. Akibat kebijakan represif Al Saudi, jumlah tahanan politik di negara ini meningkat drastis dan mencapi 30 ribu orang. Kondisi ini menunjukkan kebijakan arogan diktator Al Saud terhadap warganya sendiri.

Disebutkan bahwa tidak ada simbol demokrasi di Arab Saudi seperti pemilu, partai politik, kebebasan pers. Kondisi seperti ini telah menorehkan protes anti pemerintah di Arab Saudi yang meletus sejak tahun 2011. Meski pemerintah Riyadh menyikapi keras kubu oposisi, namun setiap hari ide tuntutan keadilan semakin menyebar di tengah masyarakat Arab Saudi. Hal ini mengindikasikan munculnya gerakan kebangkitan di Arab Saudi berkat perjuangan tokoh-tokoh seperti Sheikh Nimr.

Transformasi Arab Saudi menunjukkan bahwa rezim Al Saud melalui kebijakan represifnya tidak mampu membungkam rakyat dan pemimpin kebangkitan di negara ini. Keteguhan Sheikh Nimr selama di penjara rezim Al Saud dan sikap pantang menyerah ulama besar ini memperjuangan ideologi kebebasan yang bersumber dari Islam serta berlanjutnya aksi demo anti pemerintah mengindikasikan tekad baja warga Arab Saudi memperjuangkan tujuan kebangkitan mereka untuk mengakhiri sistem despotik yang berkuasa di negaranya dan membentuk pemerintahan demokratis di Arab Saudi.

Di kondisi seperti ini, gerakan rezim Al Saud menjalankan hukuman eksekusi terhadap Sheikh Nimr hanya memicu kobaran api lebih besar di kebangkitan rakyat dan semakin membuat rapuh rezim despotik ini.

Sumber : www.indonesian.irib.ir

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: