Info Islam

Motif Dibalik Eksekusi Mati Sheikh Nimr

Kejahatan rezim Al Saud mengeksekusi Sheikh Nimr Baqir al-Nimr, ulama terkemuka dan pejuang Arab Saudi meninggalkan banyak pertanyaan yang berusaha menguak inti masalah ini.

Pertanyaan ini berusaha untuk menganalisa kasus tersebut, mengapa Sheikh Nimr dieksekusi di kondisi sensitif saat ini? Dan apakah kritik dan protes Sheikh Nimr atas kebijakan diskriminatif pemimpin Saudi menjadi ancaman serius bagi Riyadh, sehingga mereka tidak memiliki solusi kecuali membunuh ulama pejuang ini?

Selama dua hari lalu, elit politik dan jaringan televisi Arab milik Saudi fokus menganalisa kasus ini bahwa apa yang terjadi di Arab Saudi memiliki akar di Iran. Pejabat Arab Saudi menunggangi berita serangan ke kedubes dan konsuler mereka di Tehran dan Mashad serta menggiring berita ke arah tensi yang telah mereka rencanakan antara Riyadh dan Tehran.

Departemen Luar Negeri Arab Saudi mengabaikan sikap yang ditunjukkan Republik Islam Iran terkait peristiwa serangan ke kedubes Riyadh di Tehran dan janji Tehran menindak tegas pelakunya. Dalam hal ini Arab Saudi berupaya mengubah esensi masalah dan mendiktekan kepada dunia bahwa Republik Islam merampok kedutaan besarnya dan kekebalan seorang diplomat tidak ada lagi artinya. Deplu Arab Saudi dengan mengobarkan agitasi ini dan memanggil diplomatnya dari Tehran kemudian menyempurnakan misinya dengan memutus hubungannya dengan Iran.

Menurut kaca mata Arab Saudi perisitiwa serangan ke kedubesnya di Tehran menjadi peluang untuk menebar propaganda. Sikap seperti ini mengindikasikan bahwa langkah Arab Saudi dengan berbagai dalih dapat diyakini telah dikoordinasi sejak beberapa waktu lalu. Pertama bahwa pejabat Arab Saudi dengan kesadaran penuh atas reaksi eksekusi Sheikh Nimr dan sensitifitas di masalah ini, secara sengaja kejahatan ini dijadikan alat politik.

Tak diragukan lagi bahwa Iran mengutuk eksekusi Sheikh Nimr dengan alasan mengkritik pemerintah dan menjalankan amar makruf nahi munkar. Iran juga meminta dunia Islam serta seluruh dunia untuk menjalankan tanggung jawabnya.

Namun Arab Saudi mengejar tujuan lain dan menggulirkan isu sebenarnya dengan bentuk lain. Prediksi Riyadh di kasus ini adalah melalui konspirasi tersebut dan dengan menuding Iran, mampu meraih dua tujuan. Tujuan pertama merusak kredibilitas politik Iran. Hal ini dapat disaksikan di langkah lembaga diplomasi Arab Saudi yang terkesan tergesa-gesa dan sabotase mereka di tingkat PBB, Liga Arab dan OKI serta pemanggilan diplomatnya dari Tehran.

Sementara tujuan kedua dan yang lebih penting adalah membebaskan Riyadh dari represi internasinal dan opini publik. Eksekusi mati Sheikh Nimr, ulama terkemuka Arab Saudi dilaksanakan Riyadh tepat di saat negara ini menyerang Yaman, membantai ribuan warga tak berdosa, menumpas aksi demo warga Bahrain, dukungan terhadap kelompok teroris Takfiri serta ketika negara ini dililit protes dalam negeri. Tentu saja kondisi ini membuat posisi Riyadh sangat sulit.

Kasus eksekusi mati Sheikh Nimr juga dapat dicermati dari langkah Arab Saudi yang mencantumkan 47 anasir ISIS ke dalam list terpidana yang bakal di hukum mati bersama ulama besar ini. Indikasi ini menunjukkan bahwa Riyadh membutuhkan sebuah krisis palsu baru untuk keluar dari kebuntuan yang ada. Arab Saudi dalam hal ini telah memulai permainan sangat berbahaya di mana apapun hasilnya dari permainan ini pastinya tidak akan menguntungkan Riyadh.

Di balik pergerakan ini adalah Israel dan sekutunya yang berusaha memulai petualangan baru di kawasan dan Arab Saudi menjadi bagian dari salah satu mata rantai konspirasi ini. Menurut perhitungan Arab Saudi, mungkin tuntutan warga dan protes yang terus meningkat atas diskriminasi serta pelanggaran nyata hak warga sipil dan tidak adanya pemerintahan demokratis bukan sesuatu yang penting, namun pastinya kasus ini tidak akan tuntas hanya dengan penumpasan terhadap aksi protes warga dan langkah-langkah licik lainnya. Realitanya adalah Arab Saudi sampai saat ini telah melakukan banyak kesalahan.

Arab Saudi telah meletakkan kakinya di jalan yang penuh bahaya dan negara ini tidak mengetahui akhir dari jalan tersebut. Arab Saudi mungkin menyangka bahwa pergerakan politik seperti ini dan hadiah minyak murah kepada pendukungnya mampu mengubah konstelasi regional demi keuntungannya,namun pengalaman menunjukkan bahwa nasib diktator dan pemerintahan yang tidak memiliki dukungan rakyat bahwa strategi seperti ini tidak efisien. Arab Saudi dengan perilakunya ini hanya membuat dirinya berada dalam posisi yang sulit dan tidak ada jalan untuk kembali.

Sumber : www.indonesian.irib.ir

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: