Info Islam

Kejahatan Israel dan Tindakan Anti-Aktivis Perdamaian

Militer rezim Zionis Israel telah menghentikan Kapal Zaytouna yang bergerak untuk mematahkan blokade Jalur Gaza pada Rabu, 5 Oktober 2016. Para aktivis perempuan yang ada di dalam kapal tersebut juga digiring ke pelabuhan Ashdod.

Menurut keterangan para aktivis pedamaian di kapal tersebut, kapal patroli pasukan AL Israel melepaskan tembakan ke arah Kapal Zaytouna dengan tujuan menghalangi perjalanan mereka ke pantai Gaza.

Departemen Urusan Internal rezim Zionis pada Jumat, 7 Oktober 2016 mengumumkan bahwa Tel Aviv telah mendeportasi semua anggota aktivis perempuan yang mencoba menerobos blokade keamanan Gaza dengan Kapal Zaytouna pekan ini, kecuali satu orang dari mereka.

“Semua penumpang kapal ini telah meninggalkan Israel kecuali seorang wanita yang akan terbang ke Oslo sore ini,” kata Sabin Haddad, juru bicara Departemen Urusan Internal rezim Zionis kepada AFP, Jumat.

13 aktivis perempuan, termasuk Mairead Maguire, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian dari Irlandia Utara ditangkap pada Rabu setelah kapal mereka dihentikan pasukan Israel sekitar 35 mil laut di lepas pantai Gaza.

Serangan pasukan Israel terhadap Kapal Zaytouna dan penggunaan cara-cara buruk untuk memperlakukan para aktivis perempuan pendukung Palestina di kapal tersebut menunjukkan parahnya kejahatan rezim Zionis terhadap bangsa Palestina dan para pendukung bangsa ini.

Deportasi para aktivitis HAM yang ingin mematahkan blokade keji Gaza dan pendekatan anti-hukum rezim Zionis juga menunjukkan fakta bahwa pondasi hukum apapun tidak memiliki tempat di sisi rezim anti-kemanusiaan ini.

Kapal Zaytouna-Oliva yang mengangkut para aktivis perempuan dari berbagai negara berlayar dari Barcelona pada bulan September. Menurut penyelenggara misi kapal ini, di antara para wanita yang ditahan adalah Samira Douaifia, anggota parlemen Aljazair, Jeannette Escanilla, politisi Swedia dan Ann Wright, mantan kolonel Angkatan Darat AS dan pejabat Departemen Luar Negeri negara ini yang mengundurkan diri selama perang Irak tahun 2003.

Para aktivis lainnya berasal dari Australia, Malaysia, Norwegia, Rusia, Spanyol, Afrika Selatan, Swedia dan Inggris. Kapal yang dijuluki “Perahu Perempuan ke Gaza” adalah bagian dari Koalisi Armada Kebebasan yang terdiri dari kapal-kapal pro-Palestina yang secara teratur berusaha mematahkan blokade Gaza.

Rezim Zionis memiliki catatan mengenai penyerangan terhadap kapal-kapal yang membawa para aktivis pedamaian dan bantuan kemasuaan ke Gaza. Pasukan AL Israel pada tahun 2010 menyerang konvoi Freedom Flotilla yang terdiri dari enam kapal dan mengangkut 663 aktivis perdamaian dari 37 negara di perairan bebas internasional. Penyerbuan ini menyebabkan sembilan aktivis tewas dan 60 lainnya terluka.

Para pejabat PBB menuntut pencabutan blokade Gaza dan menyebutkan bahwa kondisi di Gaza saat ini memburuk. Rezim Zionis khawatir jika kejahatan-kejahatannya terhadap warga Palestina terungkap sehingga masyarakat internasional mengisolasinya. Oleh karena itu, rezim penjajah al-Quds ini berusaha mencegah tersebarnya informasi mengenai buruknya kondisi warga Palestina dengan cara menghalangi konvoi-konvoi bantuan kemanusiaan ke Gaza.

Tak diragukan lagi, respon opini publik sebagai kekuatan efektif di arena hubungan internasional akan menjadi peran penentu dalam mengisolasi Israel. Dalam kondisi seperti ini, kejahatan-kejahatan rezim Zionis dalam beberapa hari terakhir termasuk penangkapan terhadap anak-anak dan perluasan distrik-distrik Zionis serta langkah rezim ini untuk menganeksasi lebih tanah-tanah Palestina ke wilayah pendudukan tahun 1948 akan memunculkan gelombang besar protes terhadap Israel. Oleh karena itu, Tel Aviv berusaha mencegah hal itu dengan berbagai cara.

Namun satu hal yang penting di sini adalah langkah terbaru Israel yang menyerang dan menghalangi para aktivis perempuan ke Gaza akan menjadi bumerang bagi Tel Aviv, sebab, tindakan ini akan semakin menunjukkan hakikat rezim Zionis di mata masyarakat internasional.

Selain itu, transformasi internasional menunjukkan peningkatan pendekatan masyarakat internasional terkait isu Palestina. Pengiriman konvoi-konvoi bantuan kemanusiaan ke Gaza membuktikan bahwa tindakan keras rezim Zionis tidak mampu membuat takut masyarakat internasional. Israel juga tidak mampu untuk  mencegah kelanjutan dukungan dunia kepada rakyat Palestina.

Namun apa yang membuat rezim Zionis semakin berani untuk melanjutkan tindakan anti-hak dan hukum terhadap para aktivis perdamaian adalah sikap pasif dan lambat lembaga-lembaga internasional. Penyerangan dan penangkapan terhadap para aktivis perdamaian internasional serta deportasi terhadap mereka merupakan tindakan congkak di arena internasional. Dengan demikian, di bawah kebungkaman lembaga-lembaga dunia, maka perilaku anti-kemanusiaan rezim Zionis akan memiliki dimensi yang lebih luas.

Sumber : www.parstoday.com

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: