Info Islam

Kejahatan Rezim Israel di Hari Raya Idul Adha

Buletinmitsal.com – Aparat keamanan rezim Zionis Israel menyerbu jemaah shalat Idul Adha Palestina di Kompleks Masjid al-Aqsa, Minggu, 11 Agustus 2019. Insiden ini menyebabkan satu warga Palestina gugur syahid dan puluhan lainnya terluka.

Sehari sebelumnya, pasukan rezim Zionis Israel juga membunuh empat pemuda Palestina di perbatasan timur Jalur Gaza. Ini adalah kejahatan terbaru rezim penjajah al-Quds menjelang dan di hari raya Idul Adha.

Shalat Idul Adha di Kompleks Masjid al-Aqsa diikuti oleh lebih dari 100 ribu jemaah. Hal ini menunjukkan kegagalan pasukan keamanan rezim Zionis untuk mencegah masuknya warga Palestina ke lokasi tempat suci tersebut.

Situasi di Kompleks Masjid al-Aqsa memanas ketika aparat keamanan Zionis menyerbu jemaah shalat Palestina dengan bom suara dan gas air mata. Akibatnya, seorang jemaah gugur syahid dan 65 lainnya terluka.

Penyerbuan oleh Zionis ke Kompleks Masjid al-Aqsa meningkat selama beberapa tahun terakhir pasca keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengumumkan al-Quds sebagai ibu kota baru rezim Zionis pada tahun 2017.

Selama empat tahun lalu, penyerbuan Zionis ke Kiblat Pertama Umat Islam itu meningkat 3,5 kali lipat. Penyebab utama hal ini adalah Masjid al-Aqsa dan al-Quds adalah penting dari sisi agama, politik dan geografis bagi Palestina dan Israel.

Rakyat Palestina menilai al-Quds sebagai simbol identitas agama mereka. Oleh karena itu, meski pasukan Israel melakukan kekerasan dan pembatasan berlebihan terhadap warga Palestina, mereka tetap akan mempertahankan al-Quds. Sementara itu, Israel terus melanjutkan yahudisasi di al-Quds dan merusak Masjid al-Aqsa untuk membangun kembali Kuil Sulaiman.

Bentrokan selama dua hari terakhir terjadi ketika umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha, sementara bagi Zionis, hari itu adalah bertepatan dengan hari “penghancuran Kuil Sulaiman”, di mana ini adalah “hari berkabung dan salah satu hari terburuk dalam sejarah”.

Satu hal yang perlu dicatat adalah pada tahun 586 SM, Kuil Sulaiman di Jerusalem dihancurkan oleh pasukan Romawi, tetapi mengapa hari ini, pasukan Israel justru menyerang dan membunuh warga Palestina.

Ketua Biro Politik Gerakan Muqawama Islam Palestina (Hamas) Ismail Haniyeh mereaksi kejahatan terbaru Israel di Kompleks Masjid al-Aqsa. Dia mengatakan, apa yang terjadi di Masjid al-Aqsa menekankan dimensi religius dari pertempuran dengan musuh Zionis.

Al-Quds adalah penting secara politis dan geografis bagi Palestina dan Israel. Rezim Zionis sejak Mei 2018 –pasca AS memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke al-Quds – berusaha meyakinkan negara-negara dunia agar mengakui al-Quds sebagai ibu kota baru rezim ini.

Sejalan dengan itu, rezim Zionis berusaha membatasi kehadiran warga Palestina di al-Quds, terutama di kompleks Masjid al-Aqsa dengan memberlakukan berbagai pembatasan ketat. Maka tak heran, jika kekerasan selalu menimpa jemaah shalat Palestina.

Di sisi lain, rakyat Palestina juga berusaha menggagalkan “Kesepakatan Abad” yang digagas oleh AS dan diamini oleh sekutunya di kawasan. Mereka menggelar unjuk rasa damai “Hak Kepulangan” dari sejak Maret 2018 hingga sekarang.

Meskipun hingga saat ini, lebih dari 310 warga Palestina gugur syahid dan lebih dari 30 ribu lainnya terluka, namun mereka tidak berhenti untuk terus berunjuk rasa damai menentang kesepakatan tersebut.

Berdasarkan Kesepakatan Abad, Baitul Maqdis akan diserahkan kepada Israel dan pengungsi Palestina tidak memiliki hak untuk kembali ke tanah kelahirannya. Selain itu, rakyat Palestina juga hanya bisa memiliki sebagian kecil tanah yang masih tersisa di Tepi Barat dan Jalur Gaza.

Pembatasan ketat, kekerasan dan pembunuhan yang dilakukan Israel bertujuan memadamkan perlawanan rakyat Palestina, namun bangsa Palestina alih-alih takut atau mundur, mereka justru melanjutkan Muqawama (perlawanan) mereka.

Sumber : Parstoday

Komentari Artikel Ini

comments