Perspektif

Memasyarakatkan Akhlak Nabi Muhammad SAW

(Sambungan dari Judul “Me-Muhammad-kan Diri”)

Saat kita berbicara tentang Nabi Muhammad, maka yang terbetik dalam ingatan kita adalah kesempurnaan seorang manusia. Pribadi Muhammad SAW yang sempurna ini merupakan teladan hidup tidak hanya bagi kaum Muslim tetapi bagi seluruh umat manusia. Kejujuran, keadilan, kebenaran, kebaikan dan kasih sayangnya merambah pada semua lapisan manusia. pada seorang yang tidak beragama Islam pun, Muhammad akan tetap berlaku adil dan bijaksana. Akhlak Muhammad SAW yang agung ini telah memancar bagi segenap alam. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki akhlak/budi pekerti yang luhur dan agung.”(QS. Al-Qalam : 4).

Jika kita kaum Muslimin meyakini Muhammad sebagai Rasulullah tentu kita menghadapi konsekuensi dalam mempertanggungjawabkan keyakinan itu. Ini berarti kita harus mengikuti suri teladan beliau dalam seluruh dimensi kehidupan. Karena nabi adalah uswatun hasanah, seperti yang digambarkan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kamu.”(QS. Al-Ahzab : 21), maka kepatuhan kepadanya merupakan wujud kepatuhan kepada Allah. Nabi adalah representasi dari ajaran Allah itu sendiri, seperti pula yang terdapat dalam sebuah hadis, bahwa akhlak Nabi SAW adalah Al-Quran.

Namun,untuk menjalani hidup seperti Muhammad SAW memang tidaklah mudah. Sebab kita masih terbuai dengan simbol dan aspek lahiriah dari keberagamaan kita. Kita masih terpaku melaksanakan ritual-ritual hanya sekedar untuk melaksanakan kewajiban, belum mewujud sampai mencapai derajat kebutuhan, dimana jika meninggalkannya maka akan terasa ada yang hilang dalam diri kita. Kita masih belum beranjak dari pemahaman bahwa beragama itu hanyalah aspek lahir dan belum sampai pada kedalaman batin. Kita masih menganggap bahwa beragama itu sekedar pelengkap kartu identitas, tapi tidak menjadi identitas diri. Padahal jika kita ingin beragama yang benar, kita harus memahami, menghayati dan melakoni kehidupan beragama itu. Contoh sejati bagaimana kita beragama adalah dengan melihat pembawa risalah itu sendiri. Bagaimana pembawa risalah Islam, Muhammad SAW, berjuang dengan penuh kesabaran, ketawakkalan, keikhlasan dan kesungguhan dalam menegakkan menara Islam yang mau dibangunnya. Sayangnya, pribadi agung ini termentahkan dalam kubang sekularisme. Muhammad hanya hadir dalam ruang privat, jalur vertikal Tuhan dan manusia. kesuciannya ditempatkan pada langit-langit kosong, tidak membumi, dan akhirnya jatuh pada mistifikasi. Perlahan tapi pasti, terjadilah pembunuhan karakter Muhammad yang bidimensional. Matilah Muhammad yang di bumi berbaur dengan masyarakat, sederhana, teladan bijak dan pembela kaum mustdh’afin. Tidak heran, banyaknya peringatan atas kelahiran Nabi, maulid demi maulid kita lewati setiap tahunnya, tapi seolah tidak memiliki implikasi dan pengaruh yang positif dalam kehidupan kemanusiaan kita. Ritual pengkhidmatan kepada Nabi hampa dari nilai-nilai spiritualitas. Sebab yang dipuji adalah Muhammad yang di langit, yang tidak mengenal masalah dunia, bahkan tidak bertanggung jawab dengan segala urusan manusia. Terkadang justru ada juga pihak yang menolak mengakui kebesaran Nabi Muhammad dan menolak memujanya, bahkan menganggap pelakunya sebagai bertindak berlebih-lebihan dan terjebak pada kultus yang diharamkan. Hal itu terjadi karena mereka melihat Nabi Muhammad SAW dengan kacamata materi. Mereka hanya melihat Nabi SAW sebagai makhluk biologis. Mereka lupa bahwa manusia memiliki dimensi yang jauh lebih tinggi dari sekadar dimensi biologis atau fisik. Bahkan dimensi ruhani merupakan jati diri manusia yang sesungguhnya.

Terlepas dari berbagai penilaian yang keliru tersebut, Muhammad SAW memang sebuah pribadi yang istimewa. Dalam dirinya terdapat perpaduan yang menakjubkan, sufi dan negarawan, spiritualis dan aktivis sosial. Ia tidak dapat dibandingkan dengan tokoh-tokoh besar yang pernah hadir di atlas peradaban manusia. Pribadinya telah dicatat dalam segala persoalan. Penulisan prihidup Nabi hakikatnya adalah upaya peneladanan dan manual pokok perjalanan menuju Tuhan. Maka, penampilan, ucapan dan tindakan Nabi menjadi fokus gerak umatnya. Hidup Nabi adalah refleksi total penghambaan yang darinya alam semesta mendapat rahmat. Ia mewakili seluruh nama Tuhan, penampakan langsung dari “Al-Quran yang berjalan.” Dialah lambang Islam sesungguhnya. Dialah wujud Islam yang sebenarnya, dan dari dialah mengalir sumber kebenaran sejati. Dengan kebenaran yang dibawanya dan juga dengan keteladanannya, maka sesungguhnya umat Islam sudah memiliki sumber semangat dalam menegakkan nilai-nilai yang diyakininya.

Setelah kita mengetahui kedudukan  serta bagaimana  akhlak dan kepribadian Rasulullah SAW, lantas bagaimana sikap kita selanjutnya? Apakah sejarah kehidupan Rasulullah tersebut hanya kita simpan sebatas lembaran-lembaran  yang tak bermakna? Padahal esensi ajaran Islam terletak pada bagaimana dan seberapa jauh pengenalan kita pada Tuhan (ma’rifat Allah) dan Rasul-Nya (ma’rifat ar-Rasul). Pencitraan Muhammad atau Rasulullah di hati kita, akan mengungkap siapa kita sebenarnya. Karena Muhammad yang sesungguhnya adalah sosok manusia agung yang melingkupi semua dimensi kemanusiaan dengan warna-warna Ilahiah. Dan karenanya keberadaannya sama dekatnya dengan nadi kehidupan manusia. Maka sejatinya, pembumian nilai-nilai akhlak muhammadi yang menjadi tema sentral gagasan perubahan peradaban Muhammad, akan menentukan keselamatan hidup kita nanti. Sebagai pecinta Muhammad, maka sudah sepantasnya kita semua bertekad menjadikan diri kita sebagaimana Muhammad. Mari me-MUHAMMAD-kan diri kita.

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: