Info Islam

Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia dan Tantangannya

Sejarah manusia penuh dengan perang besar yang menelan banyak korban dan betapa banyak perang besar yang tercatat dalam sejarah yang menghancurkan masyarakat dan peradaban. Berbagai dimensi destruktif perang, sejak dulu telah memaksa para cendikiawan di seluruh belahan dunia untuk melawan perang dan berupaya menciptakan perdamaian yang konstan dan langgeng.

Para cendikiawan dan mereka yang peduli dengan berbagai peradaban pada tahap awal berupaya mencegah perang dengan menekankan keuntungan perdamaian dan buruknya perang. Kemudian pada tahap berikutnya jika perang tidak dapat dihindari dengan berbagai alasan, mereka berusaha agar seluruh ketentuan kemanusiaan tetap dijaga dalam perang. Dengan demikian dampak dan penderitaan korban perang dapat direduksi, kehormatan manusia dapat terjaga dan agar masyarakat sipil tidak menjadi korban perang.

Sebab itu, upaya untuk menciptakan perdamaian dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam perang sebagai nilai-nilai kemanusiaan, merupakan contoh menarik yang dapat dipelajari dari peradaban-peradaban kuno. Terlepas dari nilai-nilai kemanusiaan di masa lalu, dalam milenium terakhir, para cendikiawan dan ahli hukum dunia berusaha menetapkan sebuah kaidah moderen dan global dalam masalah kemanusiaan. Upaya-upaya tersebut dimulai pada pembentukan Komite Palang Merah Internasional (ICRC) pada 17 Februari 1863, serta dengan penyusunan konvensi Den Haag dan Jenewa, maka prinsip-prinsip global kemanusiaan telah ditetapkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, menyusul pembentukan Dewan Pidana Internasional (1998) dan juga Mahkamah Pidana Internasional, serta dengan memperhatikan kinerja lembaga-lembaga seperti Dewan Hukum Internasional dan Dewan Keamanan PBB, hak asasi manusia (HAM) semakin meluas dan terjadi perkembangan dalam prinsip serta ketentuan moderen terkait hal ini.

Sayang sekali di era sekarang yang disebut-sebut dengan era kemajuan HAM dunia, masyarakat global masih menyaksikan pembantaian massal dan pembunuhan warga sipil termasuk anak-anak, perempuan dan manula. Pembunuhan warga sipil tidak berdosa, perusakan sekolah-sekolah, rumah sakit dan wilayah permukiman, semuanya adalah bagian dari kenyataan pahit politik yang berlandaskan pada prinsip barbarisme. Politik yang hingga kini dipaksakan terhadap bangsa Palestina, Yaman, Afghanistan, Sudan Selatan, Irak, Suriah dan di banyak lagi negara dunia.

Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia juga tidak akan bermakna tanpa memperhatikan krisis yang dihadapi warga sipil dan tim-tim relawan di berbagai belahan dunia. Dimensi genosida yang dilakukan rezim Zionis Israel terhadap warga Palestina sedemikian meluas sehingga dapat dikatakan sebagai tragedi kemanusiaan yang bertentangan dengan seluruh prinsip dan ketentuan HAM apapun. Dalam agresi ke Yaman, sejak 25 Maret 2015 oleh Arab Saudi dan sekutu regionalnya, target yang diacu Riyadh bukan saja tidak tercapai melainkan juga pada kenyataannya warga sipil yang menjadi korban serangan udara mereka.

Terlepas dari legalitas dan mengapa serangan Arab Saudi ke Yaman terjadi, di mana semua pihak menilainya tidak rasional dan ilegal, jenis dan metode serangan yang digunakan oleh rezim Saudi dan sekutunya, telah dilarang dari perspektif hak asasi manusia internasional. Menurut HAM internasional, serangan kesengajaan terhadap warga sipil, serangan membabi-buta, penghancuran infrastruktur sipil vital, perompakan, perampasan, dan lain-lainnya, merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip HAM dunia. Besarnya jumlah korban sipil di Yaman dengan sendirinya menjelaskan kepada kita kejahatan perang yang sedang berlangsung di Yaman.

Selain itu, dalam beberapa dekade terakhir, kita sedang dihadapkan dengan tantangan baru yaitu pertumbuhan dan perluasan kelompok-kelompok teroris dalam kedok dan penampilan baru di dunia. Kelompok teroris ISIS misalnya, terbentuk dari sebuah keyakinan dan ideologi. Selain mengklaim akan menegakkan pemerintahan Islam, juga memiliki pemikiran yang berlandaskan pada fatwa-fatwa Takfiri dan sebagian pemikiran Salafi-Takfiri.

Pembunuhan dan pemenggalan, pemerkosaan, dan perusakan tempat-tempat suci milik umat Islam maupun non-Muslim, adalah di antara kejahatan kelompok teroirs ISIS yang dilakukan berdasarkan keyakinan dan ideologinya. Kelompok Boko Haram yang beraliran Salafi-Takfiri juga semakin meningkatkan aktivitas mereka di timur laut Nigeria. Sama seperti ISIS, Boko Haram juga mengklaim akan membentuk sebuah negara Islam.

Selain Boko Haram, bermunculan kelompok-kelompok berpemikiran Salafi-Takfiri di seluruh negara Afrika. Kelompok-kelompok itu bermunculan seperti jamur. Al-Shabab di Somalia, Ansar Bait al-Maqdis di Mesir, al-Qaeda di Maroko, Ansar al-Syariah di Libya dan masih banyak lagi. Semuanya melancarkan berbagai aksi teror dengan cara-cara paling sadis.

Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia ini pada hakikatnya adalah sebuah gerakan untuk memuliakan dan meningkatkan semangat cinta sesama ke seluruh penjuru dunia. Peringatan ini adalah upaya mewujudkan dunia yang terbebas dari kekerasan dan ekstrimisme yang menjadi acuan dalam resolusi Majelis Umum PBB, berkat usulan Presiden ketujuh Iran, Hassan Rouhani. Masyarakat dunia harus menunjukkan reaksi tegas di hadapan fenomena kekerasan dan ekstrimisme dalam rangka menghentikan genosida di wilayah-wilayah perang, dan juga kejahatan terhadap upaya penyaluran bantuan kemanusiaan kepada para korban perang.

Dunia kita saat ini membutuhkan peran masyarakat dunia dari seluruh lapisan guna menciptakan dunia yang damai dan tenteram. Makna kemanusiaan harus diartikan dengan cinta sesama. Dengan demikian ketika kemanusiaan atau cinta sesama dipraktikkan secara faktual, maka cakupannya bukan hanya keluarga atau warga sekampung, sekota dan senegara saja, melainkan semua manusia di manapun mereka berada akan menjadi bagian dari masing-masing individu.

Manusia yang mencintai sesama, akan tersayat hatinya ketika mendengar penderitaan yang dialami oleh masyarakat di belahan dunia lain dan akan bergegas membantu. Salah satu bangsa yang sangat mencintai sesama adalah bangsa Iran. Sejarah bangsa besar Iran membuktikan bahwa hal itu bukan sekedar klaim. Islam adalah agama kasih sayang, perdamaian dan ketenangan. Dalam al-Quran, sebagai kitab samawi paling utama yang diturunkan kepada Rasulullah Saw, disebutkan bahwa manusia memiliki kemuliaan yang luar biasa besar dan manusia lebih unggul dari semua makhluk.

Bukti-bukti nyata dari nilai-nilai kemanusiaan adalah seperti sikap terhadap para tawanan perang, memperhatikan batasan-batasan etika dalam metode perang, larangan tindakan kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan, dan larangan perusakan lingkungan hidup, semuanya adalah poin-poin yang ditekankan dalam Islam.

Atas dasar ajaran luhur Islam, Republik Islam Iran juga selalu menyatakan kesiapannya dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat yang menjadi korban perang atau bencana. Oleh karena itu, Republik Islam tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk bekerjasama dengan Komite Palang Merah Internasional dalam hal ini.

Sumber : www.indonesian.irib.ir

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: