Info Islam

Rencana Aneksasi Tepi Barat Bagian Dari Prakarsa Kesepakatan Abad

Buletinmitsal.com – Aksi protes dan peringatan yang disuarakan oleh berbagai pihak, memaksa Perdana Menteri rezim Zionis Benjamin Netanyahu untuk menunda rencana aneksasi beberapa bagian dari wilayah Tepi Barat, Palestina.

Netanyahu dari Partai Likud dan Benny Gantz dari koalisi Blue and White, mencapai kesepakatan pada April 2020 untuk mencaplok 30 persen dari Tepi Barat, Palestina. Aneksasi ini rencananya dilaksanakan pada 1 Juli, tetapi terpaksa ditunda meskipun Netanyahu bersikeras untuk memulainya.

Israel saat ini menghadapi tekanan besar dari rakyat Palestina dan masyarakat internasional. Faksi-faksi perlawanan menyerukan unjuk rasa yang disebut “Hari Kemarahan” untuk menentang penjajahan Israel dan seruan ini juga disambut oleh organisasi-organisasi internasional.

16 organisasi internasional dan rakyat Palestina mengajak semua pihak untuk berpartisipasi dalam unjuk rasa “Hari Kemarahan.” Para netizen menggaungkan tagar “tidak untuk aneksasi” sebagai bentuk protes mereka terhadap rencana rezim Zionis.

Faksi-faksi Palestina memperingatkan potensi pecahnya perang baru jika Israel nekat mencaplok Tepi Barat. Juru bicara sayap militer Hamas, Abu Obeida menganggap aneksasi Tepi Barat oleh Israel sebagai deklarasi perang.

“Jika aneksasi beberapa bagian dari Tepi Barat dilakukan, kubu perlawanan akan mengambil tindakan yang membuat musuh Zionis mengigit jarinya sebagai tanda penyesalan,” tegasnya.

Netanyahu sekarang menyadari bahwa ia tidak mungkin mewujudkan ambisinya itu tanpa dukungan Amerika Serikat. Dengan dukungan Presiden Donald Trump sejak 2017, Israel melakukan kejahatan besar-besaran terhadap rakyat Palestina dan memperluas aksi pendudukannya.

Rencana aneksasi Tepi Barat merupakan bagian dari prakarsa Kesepakatan Abad yang diperkenalkan oleh AS, tetapi Washington dengan berbagai alasan memandang periode sekarang bukan waktu yang tepat untuk melaksanakan prakarsa tersebut.

Netanyahu baru-baru ini menyampaikan kepada para anggota Partai Likud bahwa pembicaraan positif telah dilakukan dengan AS, tetapi belum mencapai hasil yang diharapkan.

Kendala lain Netanyahu adalah tidak adanya dukungan internal di tanah pendudukan terhadap rencana aneksasi Tepi Barat. Beberapa tokoh dan kelompok-kelompok Israel menentang rencana tersebut dan memperingatkan tentang dampaknya.

Di internal kabinet, Menteri Pertanian Israel Alon Schuster mengatakan rencana aneksasi Tepi Barat akan memiliki implikasi yang berat terutama menyangkut hubungan Israel dengan negara-negara regional. Schuster menegaskan bahwa ia akan menentang pelaksanaan aneksasi seperti yang direncanakan Netanyahu.

Netanyahu, Menteri Peperangan Israel Benny Gantz, dan Menteri Luar Negeri Gabi Ashkenazi, belum mencapai kesepahaman mengenai rencana aneksasi. Gantz dan Ashkenazi percaya bahwa Netanyahu masih belum move on dari pertarungan pemilu lalu dan memandang pencaplokan Tepi Barat sebagai sebuah prestasi politik miliknya.

Beberapa sumber di Israel mengatakan bahwa Gantz dan Partai Blue and White tidak dilibatkan dalam pembicaraan dengan Washington mengenai rencana aneksasi.

Semua kendala itu memaksa Netanyahu untuk sementara menunda pelaksanaan rencana aneksasi Tepi Barat, Palestina.

sumber: Parstoday

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: