Info Islam

Dampak Berbahaya Keputusan Trump Anti Quds

4bmv949238f66dohqc_800C450

Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) mengecam keputusan Amerika Serikat memindahkan kedubesnya dari Tel Aviv ke al-Quds pendudukan dalam waktu dekat.

Juru bicara Hamas, Abdullatif al-Qanu Jumat (23/2) malam di statemennya menyatakan, relokasi kedubes Amerika dari Tel Avi ke al-Quds tidak akan pernah memberi legalitas kepada Israel dan juga tidak akan mengubah realitas terkait Quds.

Heather Nauert, juru bicara Menteri Luar Negeri Amerika Jumat malam di statemennya membenarkan bahwa kedubes negara ini di Palestina pendudukan di kota Quds akan dibuka pada 14 Mei 2018.

 

Meski ada penentangan luas di tingkat regional dan internasional Presiden Amerika Serikat Donald Trump 6 Desember 2017 mengumumkan, Washington mengakui secara resmi Quds sebagai ibukota Israel dan ia juga menginstruksikan pemindahan kedubes negara ini dari Tel Aviv ke Jerusalem.

Kota Quds, tempat Masjid al-Aqsa kiblat pertama umat Muslim, merupakan bagian tak terpisahkan dari bangsa Palestina dan termasuk salah satu tiga tempat suci terpenting Islam.

Langkah congkak dan ilegal presiden Amerika memindahkan kedubes negara ini ke Quds menjadi bagian dari rencana besar Zionis dan Amerika melawan dunia Islam.

Akar perilaku anti Palestina dan Islam Donald Trump harus dicermati di ideologinya sebagai salah satu pendukung Kristen Zionisme. Trump sejak berkuasa, melalui langkah-langkah provokatifnya mengobarkan beragam krisis internasional dan regional termasuk Timur Tengah. Sementara krisis Palestina juga tidak terkecuali dari kaidah ini, bahkan menjadi kebijakan baru konspirasi Amerika.

Pendekatan provokatif Trump ini dapat dianalisa dalam bentuk kebijakan makro Amerika di kawasan Timur Tengah dengan kedok “Kesepakatan Abad”. Dalam pandangan opini publik dan elit politik regional, kesepakatan abad merupakan proyek untuk menghapus total isu Palestina dan dalam bentuk pembentukan koalisi dengan melibatkan Israel melawan front muqawama di kawasan. Dalam koridor rencana baru AS anti Palestina, Presiden Donald Trump pada 6 Desember 2017 mengumumkan kota Quds sebagai ibukota Israel.

Tujuan utama Trump adalah mengakui Israel sebagai sebuah pemerintahan Yahudi dan mempersiapkan pengusiran seluruh rakyat Palestina dari tanah airnya serta menghapus isu pembentukan negara independen Palestina dengan ibukota Quds serta menghilangkan total hak-hak bangsa tertindas ini.

Di kondisi seperti ini, Trump meminta bantuan para pemimpin Arab di kawasan dalam bentuk penyebaran agitasi untuk menghapus isu Quds.

Koran al-Hayat cetakan London menulis, Israel tengah memanfaatkan keputusan Amerika memindahkan kedubesnya ke Quds serta melaksanakan rencana Yahudisasi kota tersebut. Koran ini dalam sebuah artikel yang ditulis Nabil al-Sahla, penulis Palestina menyebutkan, kebijakan relokasi kedubes Amerika ke Quds semakin cepat dilaksanakan dan hal ini menguak dimensi berbahaya keputusan Trump bagi semua orang.

Robin B. Wright, jurnalis Amerika di Koran New York Times menulis, langkah Donald Trump memindahkan kedubes AS dari Tel Aviv ke Quds akan memperparah krisis di Timur Tengah.

Sikap Trump ini hanya mendorong intifada ketiga bangsa Palestina semakin luas sebagai reaksi atas keputusannya soal Quds. Mengingat sensitifitas isu Quds bagi bangsa Palestina dan dunia Islam serta opini publik dunia umumnya, setiap pergerakan Amerika menyertai pendekatan hegemoni Israel di Quds dapat berujung pada biaya besar ekonomi, politik dan diplomatik bagi Washington.

Langkah seperti ini sama halnya dengan bunuh diri politik dan tentunya juga menambah kesulitan yang dihadapi Trump akibat kebijakan dalam dan luar negeri kontroversialnya yang dikritik baik di dalam negari maupun di tingkat internasional. Ini adalah poin yang ditekankan oleh bangsa Palestina.

Sumber : Parstoday

Komentari Artikel Ini

comments