Sosok

Abul – Fadhl Abbas

(Pribadi Cemerlang Pemuda Bani Hasyim)

Abul-Fadhl Abbas adalah pemuda Bani Hasyim yang paling unggul. Dialah pemegang panji-panji pasukan Imam Husain. Dialah lambang kesetiaan dan namanya akan senantiasa dikenang, dihargai dan dihormati untuk selamanya. Ibu Abbas adalah Ummul Banin, berasal dari suku yang terkenal kegigihan dan keberaniannya.

Ummul Banin menikah dengan Imam Ali dan dikarunia empat orang putra. Putra pertamanya adalah Abbas. Pada hari asyura, putra-putra Ummul Banin mempertaruhkan hidup mereka dengan cara terhormat dan mulia sehingga sampai detik hari ini pun darah mereka yang tertumpah di padang karbala memunculkan generasi-generasi pejuang islam. Nama mereka terukir indah di sepanjang sejarah Islam.

Abbas dalam bahasa arab berarti singa. Dialah singa yang membuat siapa pun terpesona. Sesuai dengan namanya, segala perilaku Abbas mengagumkan. Roman muka Abbas sangat rupawan. Tubuhnya tinggi semampai. Abbas juga memiliki kekuatan yang tak tertandingi dan spiritualitas yang tinggi. Dibandingkan pemuda Bani Hasyim lainnya, Abbas paling menonjol dan unggul. Dia tak tertandingi kecuali oleh Imam Husain.

Imam Ja’far Shadiq berkata, “Pamanku, Abbas, adalah lelaki yang berhati bersih dan memiliki keimanan kuat. Dia berjihad di jalan Allah bersama Abu Abdillah (Imam Husain) dan melewati ujian ilahi dengan keberhasilan yang utuh.”

Imam Ali Zainal Abidin berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada pamanku, Abbas, yang telah mengorbankan hidupnya demi saudaranya dengan kedua tangannya yang tertebas. Allah yang mahakuasa menganugerahkan kepadanya sepasang sayap yang memudahkannya terbang menuju surga bersama para malaikat sebagaimana Allah telah menganugerahkan hal yang sama kepada Ja’far bin Abi Thalib.”

Disebutkan bahwa pada hari Pembalasan nanti, majelis para syuhada seolah ingin bersaing agar bisa menyamai seperti Abbas. Abbas mendapatkan kehormatan karena dididik, dirawat dan dilatih oleh tiga orang imam suci, yaitu ayahnya yang mulia, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib, kedua saudaranya yang mulia, Imam Hasan dan Imam Husain. Rona wajah Abbas bercahaya bak bulan purnama dan keelokannya tiada tara. Karena segala kebaikan dan keelokan yang dimilikinya itulah Abbas diberi gelar “Rembulan Hasyimi.”

Saat terjadinya peristiwa Karbala, usia Abbas menginjak tiga puluh empat tahun. Sesuai kesepakatan para sejarahwan dengan merujuk pada riwayat dan bukti sejarah, Abbas adalah pemuda yang paling berpengaruh di Karbala. Karena itulah, dia menjadi benteng terakhir Imam Husain.

Abbas adalah pemegang panji-panji perang rombongan Imam Husain. Ketika tak ada lagi pemuda yang tersisa disamping Imam Husain kecuali dirinya, Abbas meminta izin kepada Imam Husain untuk berjihad melawan pasukan biadab Yazid. Namun Imam Husain bukannya mengizinkan Abbas untuk maju perang, melainkan meminta Abbas mencari air untuk kaum wanita dan anak-anak, putra-putri Rasulullah SAW yang nyaris mati dicekik dahaga.

Abbas adalah pemilik keahlian berperang yang hanya bisa dibandingkan dengan keahlian perang Imam Ali. Untuk mengurangi derita kehausan putrid-putri Rasulullah SAW, Abbas menerobos ribuan pasukan Yazid yang memagari Sungai Efrat bak singa mengamuk.

Sementara itu, pasukan Yazid Laknatullah yang membentengi sungai Efrat terdiri dari pasukan pemanah, pasukan tombak dan pasukan pedang. Meski mengetahui hal itu, semangat Abbas untuk mengambil air sungai Efrat demi adik-adik dan keponakannya yang kehausan berhari-hari tak surut. Abbas menerjang barisan itu dengan serangan maut dan menyungkurkan setiap orang yang menghadangnya.

Terbukalah jalan untuk mengambil air di sungai efrat. Abbas berhasil membunuh sekitar delapan puluh tentara musuh. Setelah berhasil mendekati bibir sungai, Abbas pun membawa kudanya untuk meminum air di Sungai Efrat. Kemudian Abbas mengisi penuh girbah yang dibawanya. Seketika itu terbayang di benak Abbas, Imam Husain dan wanita-wanita serta anak-anak di perkemahan yang ditinggalkannya.

Harapannya hanyalah segera kembali ke tenda, mempersembahkan air kepada ahlulbait Nabi Muhammad SAW. Dengan sisa tenaga, dia berusaha mencapai perkemahan Imam Husain. Dahaga imam Husain dan keringnya rongga leher anak-anak dan wanita-wanita Rasulullah SAW terus membayangi pikiran Abbas. Efrat berkilauan di bawah terik matahari, bak permata sinarnya menari-nari. Dia urungkan niatnya untuk meneguk air efrat meski hanya setetes. Setangkup air di tangannya dilepaskan kembali seraya berkata, “Bagaimana mungkin seorang budak akan meminum air sementara tuannya sedang dicekik dahaga? Adakah teladan yang lebih baik bagi kesetiaan, ketakwaan dan kemanusiaan ?” Abbas segera melesat membawa girbah berisi air di lengannya.

Sambil tertawa terbahak-bahak, pasukan biadab itu menghadang Abbas yang hendak menuju perkemahan Imam Husain. Yazid Laknatullah segera membentuk formasi, mengepung jawara yang kehausan itu. Para binatang buas berkepala manusia itu semakin merapat. Kini tiada cela bagi Abbas untuk menghentak kudanya, kecuali menerobos berhala-berhala yang tak pernah jera itu.

Tiba-tiba sebuah tombak meluncur bak meteor mengarah ke dada Abbas. Secepat kilat Abbas menangkalnya, dan tombak itu pun gagal mencapai sasarannya. Tata karma perang tak lagi diindahkan.

Jiwa-jiwa kerdil itu seperti kawanan serigala lapar yang memamerkan taring-taringnya dan menjulur-julurkan lidahnya seperti anjing hutan mereka menggongong mengerumuni buruannya. Rupanya padang sahara itu telah berubah menjadi rimba dan para durjana liar itu menjadi satwa buas lagi mematikan.

Namun mereka lupa, bahwa buruannya bukanlah kelinci, mereka lupa bahwa dia yang dikepung itu adalah putra singa Allah, Ali bin Abi Thalib, seolah mereka hilang ingatan bahwa yang sedang diburu itu adalah kemenakan singa Allah, Ja’far bin Abu Thalib. Karena telah lama berpaling dari Islam, mereka baru sadar bahwa yang mereka kerumuni adalah cucu singa Allah, pelapang jalan dakwah Muhammad SAW, Abu Thalib, sekali lagi, mereka lupa dia berasal dari keluarga jawara.

Formasi pertama pasukan musuh satu per satu mengerang meregang nyawa. Hal yang sama juga dialami barisan berikutnya, ada yang merekah dahinya, seperti semangka dibelah. Ada yang roboh perlahan seperti pohon pisang ditebas golok. Beberapa yang tertebas sekaligus dan terjungkal bergulingan darah diatas pasir secara berjamaah seperti reruntuhan batu gunung.

Sebuah suara mengomando agar mengubah formasi serangan mereka. Komandan biadab pemuja harta itu mulai sadar bahwa menyerang Abbas dari arah depan sama sekali tak ada gunanya. Kini mereka mengitari Abbas. Pasukan dari arah depan, samping kanan dan saming kiri mulai menyerang secara bersamaan. Tiba-tiba sebuah pedang digenggaman anjing hutan berkepala manusia menebas lengan kanan Abbas.

Kini putra Sang singa sahara itu buntung tangan kanannya. Abbas menjerit kesakitan. Otot-otot lengannya menyemburkan darah segar. “Demi Allah, sekalipun tangan kananku telah hilang, akan terus ku terjang setiap penghadang. Aku sanggahkan jiwaku demi tegaknya agama, “Abbas berseru lantang menatap tajam setiap kepala yang tampak beringas di hadapannya. Kini dia hanya punya satu tangan yang menggendong girbah (kantong air minum).

Seorang biadab tiba-tiba menyeruak dari barisannya dan mendekati pemuda Bani Hasyim yang telah kehilangan separuh ketangkasannya itu. Sekejap mata sebilah pedang yang digenggam si biadab itu menebas lengan kiri Abbas, saksikanlah, ghirbah yang berisi penuh air untuk dipersembahkan kepada putri-putri dan bocah-bocah Ahlulbait itu jatuh ke tanah bersama tangannya.

“Oh dunia, mengapa harus tunduk kepada para biadab kafir itu! Bukankah kabar gembira telah kudengar bahwa rahmat Allah sedang menyongsongku ! para biadab itu telah membuntungkan kedua lenganku, Aduhai Allah Tuhanku, jadikanlah para biadab itu merasakan api neraka, “Abbas mendengdangkan syair ukhrawi.

Sebuah anak panah melesat tepat menembuh ghirbah yang tergeletak di sebelah lengan Abbas yang terpisah dari bahuya. Air itu merembes diserap habis pasir panas Karbala. Abbas yang tersungkur dari kudanya menyaksikan tetes demi tetes air membasahi pasir yang sedianya diperuntukkan bagi adik-adik perempuan dan keponakannya itu. Hatinya luluh lantak, kini dia tak ingin kembali ke kemah Imam Husain.

Seorang tentara laknat tiba-tiba menumbukkan tongkatnya tepat di dahi Abbas. Abbas yang dibuntungkan lengannya itu. Saat itulah Abbas tak sadarkan diri. Sebuah anak panah melesat tanpa permisi menembus jantungnya Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Adakah takaran yang mampu mengukur kegigihan, ketegaran, keberanian dan kesetiaan pemuda ini ?

Abbas telah menyongsong syahadah, dikepung ribuan satwa liar. Imam Husain menghampiri jasad terkoyak itu. Imam Husain duduk di samping jasad Abbas tanpa bisa berkata-kata sejenak. Serasa sembilu menggesek-gesek sanubarinya. Sambil menyanggah dahi dengan tanggannya, Imam Husain berkata, “Duhai saudaraku, kesedihanmu telah mematahkan punggungku. Kini aku juga harus berlepas tangan dari dunia ini. Setelah kepergianmu, tibalah saatnya musuh-musuh akan menyerang kami. “ air mata beliau menitik. Sekali lagi, peristiwa ini bukan pertempuran. Tapi, pembantaian.

Sebuah syair Arab melukiskan kisah ini dengan syahdu,

Adakah pemuda yang layak engkau tangisi!

Siapakah gerangan, selain dia yang ditangisi sang Imam

Dialah Saudara Husain dan Putra Ali

Dialah Abul-Fadhl Abbas berlumur darahnya sendiri.

——————————-

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: