Kisah & Hikmah

Filsuf dan Al-Quran

Ishaq Qandi adalah seorang cendekiawan Irak yang terkemuka. Masyarakat mengenalinya sebagai seorang filsuf papan atas. Namun dia tidak menerima agama Islam. Menurutnya, sebagian ayat Al-Quran berseberangan dengan beberapa ayat yang lain. Untuk menyuarakan pikirannya itu, ia memutuskan untuk menulis buku yang memuat pokok-pokok yang bersebarangan di antara ayat Al-Quran. Untuk menulis buku tersebut, dia duduk di rumah dan menulis.

Suatu hari, salah seorang dari muridnya, bertamu ke rumah Imam Hasan Askari dan menceritakan kegiatan gurunya. Imam berkata, ”Tidak adakah di antara kalian orang pandai yang dapat mencegah kegiatan gurumu itu menulis buku yang menentang Al-Quran, sehingga ia menyesal?”

Dia berkata, ”Kami semua adalah muridnya, bagaimana mungkin kami dapat mencegah menulis buku itu?”

”Adakah engkau bersedia untuk melakukan apa yang akan aku ajarkan kepadamu?” tanya Imam.

”Tentu saja,” Jawabnya.

Imam berkata, ”Temuilah gurumu dan bantulah dia menyusun buku itu untuk beberapa waktu sampai engkau jadi akrab dengannya. Setelah engkau sudah akrab dengannya, maka lontarkan pertanyaan kepadanya. Katakanlah bahwa hanya dialah yang layak menjawab pertanyaanmu itu”. Gurumu pasti mengatakan : ”silahkan bertanya! Saat itu utarakan pertanyaanmu sebagai berikut : ”Adakah mungkin Tuhan memiliki maksud dari ayat Al-Quran selain dari apa yang guru pahami?” Gurumu akan menjawab : ’ya, mungkin saja’. Ketika itu katakan kepadanya : ’siapa tahu maksud Tuhan dari ayat-ayat tersebut tidak sama dengan yang guru pahami. Gurumu akan mengerti apa yang engkau tanyakan.”

Pemuda itu melaksanakan saran Imam. Ketika sudah terjalin keakraban antara dia dan filsuf itu, maka terciptalah kondisi yang sesuai untuk melontarkan pertanyaan.

”Adakah mungkin Tuhan memiliki maksud berbeda dari apa yang engkau tangkap mengenai ayat-ayat Al-Quran?” tanya pemuda itu.

Filsuf itu mendengarkan pertanyaan muridnya dengan teliti. ”Ulangilah pertanyaanmu sekali lagi!” Pintanya. Si murid mengulangi pertanyaan dengan jelas.

Setelah beberapa saat merenung, filsuf berkata, ”Ya, mungkin saja, Allah SWT memiliki maksud berbeda dari lahiriah ayat yang kita pahami. Karena istilah dan kalimat memiliki banyak alternatif arti, dan pertanyaan kamu itu cukup teliti dan logis!” Namun filsuf itu meragukan pertanyaan itu keluar dari pikiran si muridnya, oleh sebab itu, dia bertanya kepada pemuda itu, ”Demi Tuhan, siapakah yang mengajarkan kepada anda pertanyaan hebat itu?”

Pada mulanya, si murid membantah dan mengatakan bahwa pertanyaan itu keluar dari pikirannya sendiri, Filsuf tetap tidak percaya dan mendesak agar si murid mengatakan yang sebenarnya. Akhirnya, muridnya membuka mulut dan berkata, ”Sebenarnya Imam Hasan Askari lah yang mengajarkan kepadaku!”.

Filsuf berkata, ”Sudah aku duga, bahwa kamu sendiri tidak memiliki kemampuan mengeluarkan pertanyaan itu, hanya keluarga Nabi yang berpikiran tinggi seperti itu”

Kemudian sang filsuf menyadari kesalahannya dan bertaubat, bahkan ia membakar semua kertas tulisannya.

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: