Perspektif

Haji, Simbol Keagungan Umat Islam

haji ibadah yang agung

Ibadah haji memiliki sejarah sepanjang kisah penciptaan umat manusia. Sejumlah riwayat mencatat bahwa Nabi Adam as adalah manusia pertama yang membangun Ka’bah dan melaksanakan haji. Ada banyak riwayat dalam Islam yang berbicara tentang pelaksanaan haji oleh para utusan Allah Swt seperti, Nabi Nuh, Musa, Yunus, Daud, Sulaiman, Ibrahim, dan Isa as. Haji juga termasuk salah satu kewajiban utama dalam Islam. Perkumpulan besar kaum Muslim di Tanah Suci setiap tahunnya telah menampilkan keagungan agama Islam dan kebesaran umatnya di mata dunia.Mengenai keagungan ibadah haji itu sendiri, Imam Ali as berkata, “Demi Allah! Perhatikanlah Baitullah selama kalian hidup dan jangan biarkan ia sepi, karena jika haji mulai ditinggalkan, rahmat Allah akan terputus dari kalian.”

Setiap tahunnya menjelang pemberangkatan jamaah haji Iran, Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatullah Sayid Ali Khamenei pada Sabtu (22/8/2015), bertemudengan para petugas penyelenggaraan ibadah haji di Tehran dan mengingatkan poin-poin penting kepada mereka. Rahbar mengapresiasi kerja keras para petugas Lembaga Haji dan Ziarah Iran dan menilai upaya untuk mengoptimalkan pelayanan para jamaah sebagai salah satu tugas yang paling besar. Ayatullah Khamenei menyebut ibadah haji sebagai penjamin keberlangsungan Islam serta simbol persatuan dan keagungan umat.

Menurut Rahbar, Allah Swt memuliakan bulan haji untuk menunjukkan betapa agungnya pelaksanaan ibadah itu, ini adalah bukti bahwa kewajiban haji memiliki karakteristik istimewa bagi umat Islam, di mana tidak dimiliki oleh kewajiban-kewajiban lain. Beliau kemudian menerangkan tentang dua dimensi individual dan sosial haji dan mengatakan, “Dimensi individual haji berhubungan dengan setiap pribadi jamaah, masing-masing jamaah sepanjang pelaksanaan ibadah haji membangun hubungan dengan Allah Swt, beristighfar, bermunajat, dan mengumpulkan bekal untuk dirinya… mereka memohon ampunan, bertaubat, berdoa, mereka berjanji kepada Allah untuk masa depannya, kehidupannya, dan aktivitasnya… semua ini adalah pekerjaan individu.”

Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa melakukan thawaf tujuh kali mengitari Ka’bah dan menunaikan dua rakaat shalat thawaf dengan sempurna, maka dosa-dosanya akan terampuni.”

Ayatullah Khamenei menjelaskan bahwa salah satu dimensi sosial haji adalah masalah persatuan.Haji adalah simbol persatuan Islam, berbagai etnis dan beragam warna kulit, suku bangsa, dan mazhab bersatu padu dan berbaur bersama. Mereka semua bergerak seirama dalam thawaf, berpadu langkah menunaikan sa’i, berduyun-duyun melaksanakan wukuf di Arafah dan Mahsyar. Persatuan ini adalah sesuatu yang sangat penting. Menurut Rahbar, haji merupakan sebuah kesempatan emas untuk pertalian dan persaudaraan serta momentum untuk menunjukkan rasa simpati kaum Muslim dunia.

Di era permulaan Islam, hal yang menyebabkan kekuatan dan keagungan kaum Muslim adalah memelihara persatuan. Mereka di bawah panji persatuan dan kesolidan, berhasil mengalahkan musuh dan menorehkan prestasi-prestasi gemilang. Allah Swt berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya.” (QS; Ali Imran, ayat 103).

Menjaga persatuan memiliki nilai yang sangat tinggi, di mana Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya as menyeru kita ke arah sana. Sebaliknya, para penebar perpecahan memikul dosa yang sangat besar dan kaum Muslim harus menunjukkan kebenciannya terhadap segala upaya untuk mengadu domba dan mereka juga harus menghapus faktor-faktor perselisihan dari masyarakat. Kaum Muslim perlu berusaha maksimal untuk mempertahankan persatuan umat. Kongres besar haji merupakan sebuah kesempatan emas untuk melatih dan menampilkan persatuan kaum Muslim.

Pada kesempatan itu, Ayatullah Khamenei mengatakan, transfer pengalaman persatuan bangsa Iran di kongres agung haji akan menyebabkan meningkatnya persatuan, persaudaraan, dan kekuatan umat Islam. Beliau menambahkan, rakyat Iran memahami bahwa arogansi dunia dan Zionisme adalah musuh hakiki umat Islam dan untuk itu, mereka meneriakkan slogan anti-Amerika Serikat dan Zionis di semua kongres besar nasional dan Islam. Rahbar juga mengkritik pihak-pihak yang menggunakan berbagai metode termasuk membesar-besarkan aspek kesukuan untuk memudarkan hakikat dan keagungan umat Islam.

Rahbar menandaskan bahwa bangsa Iran sepanjang perlawanannya sama sekali tidak melupakan musuh utama yakni, arogansi dunia dan Zionis. Beliau menuturkan, “Musuh utama tersebut kadang menyampaikan pandangannya lewat lisan orang lain (melalui kanal beberapa negara Islam), tapi kita belum terjebak dalam kesalahan ini dan kita selalu menegaskan bahwa musuh adalah arogansi dunia dan Zionis.”

Menyoroti kegagalan sejumlah kelompok Islam di beberapa negara, Ayatullah Khamenei mengatakan, mereka – berbeda dengan bangsa Iran – keliru dalam memilah antara teman dan musuh dan akhirnya harus menerima pukulan.“Dengan dukungan dana kubu arogansi, puluhan lembaga dan pusat pemikiran dan politik di Amerika, Eropa, Palestina pendudukan dan negara-negara boneka, sedang mempelajari dan mengkaji Islam dan Syiah sehingga bisa mengetahui cara-cara untuk melawan faktor-faktor kebangkitan dan kekuatan umat Islam,” tambahnya.

Ayatullah Khamenei mengatakan, pengalaman lain yang bisa ditularkan oleh bangsa Iran adalah masalah menciptakan dan memelihara persatuan. Rakyat Iran mampu menjaga persatuanmeski adanya perbedaan pandangan dalam masalah politik, pemikiran, akidah, dan meski terdapat beragam suku dan etnis di negara ini. Rahbar menerangkan, “Kami telah memiliki pengalaman itu selama 36 tahun, di mana persatuan dan kesolidan tercipta disetiap anggota masyarakat. Berkat persatuan dan kesolidanini pula, kami meraih sejumlah kesuksesan besar dan hal ini tidak diketahui oleh beberapa negara lain. Akibat sebuah keributan kecil atau perselisihan mazhab atau etnis atau bahkan partai, yang terjadi di negara-negara mereka, mereka saling membunuh dan memperlakukan saudaranya seperti musuh. Tindakan ini jelas akan membuat Allah mencabut nikmatnya dari mereka.”

Masyarakat Iran terbentuk dari berbagai etnis seperti,Persia, Kurdi, Turki, Lor, Baluch, Arab, Turkman dan suku-suku lainnya. Mereka hidup damai berdampingan meski memiliki perbedaan agama dan mazhab seperti Syiah dan Sunni.Dalam kemenangan Revolusi Islam dan perang yang dipaksakan selama delapan tahun, semua lapisan masyarakat Iran bahu-membahu untuk melawan agresi musuh dan negara-negara arogan. Saat ini, mereka juga kompak untuk terlibat dalam berbagai event negara seperti, pemilu dan pawai akbar perayaan kemenangan Revolusi Islam serta peringatan Hari Quds Sedunia.

Rahbar menuturkan bahwa negara-negara Islam saat ini menghadapi konspirasi dan konspirasi itu bukan terhadap Syiah dan juga bukan terhadap Iran, tapi untuk menyerang Islam secara keseluruhan. Beliau menjelaskan, “Karena al-Quran milik Islam dan poros yang meneriakkan, ‘Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.’ (QS; An-Nisa, ayat 141) adalah agama Islam. Oleh sebab itu mereka memusuhi Islam, mereka menentang setiap poros dan seruan untuk menyadarkan bangsa-bangsa, dan mereka juga menentang setiap kelompok yang melawan arogansi. Untuk itu mereka menentang Islam.”

Allah Swt dalam ajaran Islam telah menutup semua jalan untuk menembus dan menguasai kaum Muslim. Dia telah menutup segala bentuk hegemoni kaum kafir terhadap umat Islam. Ayatullah Khamenei kemudian menyinggung tentang upaya terarah musuh-musuh Islam khususnya Amerika Serikat dan rezim Zonis Israel untuk menghantam umat Islam dan mengatakan, “Tujuan musuh dari upaya tersebut adalah mencari cara untuk menguasai umat Islam, menciptakan perpecahan, membagi wilayah negara-negara Islam, dan mencoreng citra Islam.”

Menurutnya, kehadiran kelompok teroris ISIS di Suriah dan Irak juga merupakan salah satu intrik kubu arogansi untuk melumpuhkan kekuatan umat Islam.

Di bagian akhir pidatonya, Ayatullah Khamenei meminta para calon jamaah haji Iran untuk memperhatikan dimensi individual dan sosial ibadah haji. Beliau mengingatkan para jamaah agar tidak menghabiskan waktu untuk berbelanja di pasar-pasar dan meminta mereka untuk memanfaatkan kesempatan haji dengan maksimal, termasuk melakukan amalan-amalan yang tidak bisa dikerjakan di tempat lain, seperti shalat di Masjidil Haram, memandang Ka’bah, dan berdoa di Masjid Nabawi.

Sumber : www.indonesian.irib.ir

Komentari Artikel Ini

comments