Kisah & Hikmah

Perampok Yang Berbahagia

Barang siapa yang memandang Tuhan dalam usahanya dan mengatur rencana-rencananya berdasarkan pertimbangan Ilahi. Yakinlah bahwa dalam kondisis krisis bagaimanapun dalam detik-detik kehidupannya mereka akan memiliki tenaga pendukung yang paling kuat dan jalan  keselamatan yang paling baik. Sebagaimana janji Tuhan yang berbunyi: {Walladzina jaahadu fiina lanahdiyannahum subulana wa innallaha lama’al muhsiniin} “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Perampok Yang Berbahagia

Fadhil bin ‘Iyadhi dahulu adalah orang yang pertama mencuri dan seorang perusak. Dia begitu sangat berbangga dengan pekerjaannya sehingga dia tidak memberi keamanan pada jarak Abyurad dan Sarkhes. Tetapi dengan semua kejahatan-kejahatannya  dia masih juga memiliki zat kebaikan, dengan panggilan hati nuraninya, dia meninggalkan semua dosa-dosa yang pernah di kerjakannya, benar-benar bertobat dan dia telah menjadi salah satu dari pembesar ‘urafa dan juga berhasil mendidik sejumlah manusia saleh.

Mengenai penyebab bagaimana beliau bertobat, ditulis bahwa beliau dalam masa mudanya, telah mencintai seorang gadis dan bermaksud untuk menculiknya. Ketika dia memanjat tembok rumah gadis itu dan duduk di atas tembok tersebut, kebetulan pada saat itu juga suara Al-Quran yang menawan hati telah terdengar ke telinganya yang di dengungkan oleh tetangga rumah itu, meskipun suara Al-Quran telah terdengar di telinga Fadhil, ketika dia mencermati Al-Quran itu yang berbunyi: {Alam ya’ni lilladzina amanuu an takhsya’a qulubuhum lidzikrillah}  “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyuk mengingat Allah?”

Ketika dia mendengar kalimat ini di atas tembok, tubuhnya sedemikian bergetar seolah-olah telah turun wahyu kepadanya, dia berkata di tempat itu: Mengapa wahai Tuhanku!? Waktunya telah sampai. Sekarang juga adalah waktunya. Dia menuruni tembok dan setelah itu, dia lalu meninggalkan perbuatan mencuri, minum khamar, berjudi dan sifat-sifat buruk lainnya dan bertobat dari segala kekotoran dan segera berhijrat ke sisi Tuhan, menjauhi semua keburukan sampai batas takdir baginya, dia mengembalikan semua harta masyarakat  kepada pemiliknya dan mengerjakan hak-hak Ilahi dan bergelar dengan “As-Syaikh Al-‘Izzam.”

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: