Kisah & Hikmah

Tubuh yang Menggelembung di Neraka

Syaikh Bahai adalah seorang Ruhaniawan Islam abad ke-15 Masehi yang lahir di Jabal Amil, Lebanon Selatan. Dalam Kasykul, sebuah kitab akhlak, dia mengutip cerita ini, “Suatu saat di pinggiran Kota Basrah Irak, seorang yang tenar dengan keburukannya meninggal dunia. Istrinya lalu berusaha mencari pedesa setempat untuk memandikan, mengafani, dan menguburkan jasad suaminya ini sesuai dengan cara Islam. Tapi tak ada yang mau mengulurkan tangan. Semua orang tahu betapa bejatnya si mayat saat masih hidup. Ini waktunya dendam terbalaskan. Tak tahu harus bagaimana, perempuan ini akhirnya menyewa gerobak untuk mengangkut jenazah itu ke masjid desa. Dia masih punya harapan ada yang sudi membacakan doa atau menshalatkan jenazah suaminya. Tapi lagi-lagi tak ada yang peduli, lalu, dia meminta pemilik gerobak membawa jenazah ke padang pasir. Tekadnya sudah bulat: dia akan tetap menguburkan suaminya meski tak dimandikan, dikafankan, atau dishalati.

Di padang pasir, janda itu terkejut mendapati seorang ulama yang siap membantu. Ulama itu memandikan, mengafani jenazah tersebut. Dia bahkan menyuruh murid-muridnya yang juga hadir di padang pasir itu untuk segera mengabarkan kepada penduduk desa bahwa sang mayit telah dimandikan dan dishalatkan. Banyak yang heran. Sebagian bahkan segera bergegas menemui sang abid yang masih berdiri di samping jenazah. Mereka ingin tahu alasan di balik keputusan memandikan dan mengafani seorang pendosa seperti suami janda itu.

“Semalam”, kata sang ulama, “Aku bermimpi mendapat perintah menguburkan mayat ini. Dalam mimpiku, almarhum disebut sebagai orang yang telah bertobat dan mendapat ampunan Allah.”

Lebih banyak lagi orang yang kaget. Sebagian mulai bertanya-tanya kebaikan apa kiranya yang telah diperbuat almarhum semasa hidupnya.

“Sejauh yang aku tahu,” kata sang janda saat didesak orang banyak, “Suamiku adalah tukang mabuk dan gemar bersenang-senang. Tapi, dia punya tiga kebiasaan baik. Pertama, jika dia terbangun di waktu subuh, dia biasa berwudhu, mandi, mengenakan pakaian suci dan shalat subuh. Kedua, saban hari dia selalu mempunyai waktu untuk berderma kepada yatim piatu. Dia tidak pernah mau makan kecuali ditemani dua atau tiga anak yatim dan dia biasa berbaik hati kepada mereka melebihi kebaikannya kepada anak-anaknya sendiri. Ketiga, jika dia sekali-kali bangun tengah malam, dia biasa berdoa begini, “Tuhanku! Mungkinkah tubuhku ini membesar sedemikian rupa sehingga memenuhi seluruh neraka supaya tiada tersisa lagi tempat bagi makhluk lain di sana. Junjunganku! Aku rasanya masih bisa menahan siksa neraka-Mu, tapi aku pasti tidak sanggup melihat penderitaan makhluk-makhluk lain yang tersiksa dalam neraka-Mu.”

Orang menangis sesegukan mendegar penuturan itu. “Sungguh,” kata sang ulama, “kita beruntung telah bersama-sama mendirikan shalat bagi pengasih anak-anak yatim dan manusia berhati lembut sepertinya.” Pemakaman segera dilakukan setelahnya. Orang berlomba-lomba menurunkan jenazah ke lubang dan menguburkannya dengan khidmat.

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: