Irfan & Akhlak

Adab Maknawi dalam Membaca dan Mengambil Pelajaran dari Al-Quran

learning_quran5_43Isti’adzah dan Isti’anah dalam Membaca Al-Quran3675109

Oleh : Syaikh Jawadi Amuli

 

Isti’adzah dan Isti’anah dalam Membaca Al-Quran

Al-Quran adalah qawlan tsaqilan. Allah SWT mengatakan, “Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu qawlan tsaqila,” (QS. Al-Muzammil : 1). Ahli suluk yang ingin mencapai hakikat makrifat, maka ia harus suci. Allah SWT memerintahkan kepada para pembaca Al-Quran agar menyucikan dirinya. Ketika membaca Al-Quran Allah menyuruh setiap manusia untuk memulainya dengan mengucapkan, a’udzubillah minasy syaitanirrajim (Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Quran, mohonlah perlindungan dari Allah SWT dari setan yang terkutuk). (QS. An-Nahl : 98)

Seorang manusia selama tidak membebaskan diri dari was-was dari luar dan dari dalam seperti dari tradisi jahiliah atau ia belum bisa membersihkan pikirannya dari ikatan-ikatan kesukuan, maka ia tidak akan bisa memanfaatkan Al-Quran. Sebab was-was itu menghalangi dirinya untuk mencerap makna-makna yang benar tentang Al-Quran.

Manusia-manusia yang mengunci hatinya dengan bias-bias lama kemudian berusaha mendekati Al-Quran, maka Al-Quran tidak mungkin bisa didekati dengan cara itu. Orang macam itu seperti mengatakan lafaz-lafaz Al-Quran tetapi tidak bisa menggenggam maknanya. Inilah gambaran dari sinyalemen Nabi SAW yang mengatakan, “Celakalah yang membaca ayat Al-Quran tetapi tidak mau merenungkannya (tadabur).”

Rasulullah SAW terlindung dari segala was-was, sebab ia adalah manusia mukhlis dan tidak bisa dikuasai oleh setan. Ketika Rasulullah SAW mengucapkan isti’adzah, artinya beliau melakukan perlindungan (preventif), tetapi yang lain ketika mengucapkan isti’adzah karena memang terancam bahaya.

Isti’adzah adalah etika (adab) maknawi Al-Quran. Kapan saja seseorang sibuk dengan Al-Quran maka dia harus melindungi dirinya dari setan, lantaran setan selalu mengintai para pembaca Al-Quran untuk menjebaknya. Makna isti’adzah adalah meminta perlindungan diri kepada Allah SWT. Isti’adzah yang paling minimal adalah dengan mengucapkan a’udzubillah minasy syaitanirrajim. Allah SWT mengatakan, Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunganlah kepada Allah. Sungguh Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (QS. Al-A’raf : 200)

Artinya, berlindunglah diri dengan berpegang teguh pada Al-Quran dan itrahnya, atau berlindung diri kepada benteng tauhid. Dan, bukan hanya sekedar mengucapkan, “Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk!” pasalnya, ketika seseorang terancam bahaya ia tidak bisa menyelesaikannya dengan hanya mengucapkan “Aku berlindung dari bahaya!”

Hawa nafsu (nafs) dan setan adalah dua waswas yang membahayakan. Allah membicarakan nafsu itu dengan mengatakan, Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, (QS. Qaf : 16). Adapun tentang setannya, Allah SWT mengatakan, Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. (QS. An-Nas : 5)

Setan mendatangi manusia-manusia yang pasif, tidak aktif, atau menyendiri. Sebab, ia itu ada dalam jeratannya. Ia datang kepada manusia-manusia yang suka membaca Al-Quran. Pada saat yang sama, ia juga menggunakan jerat-jeratnya. Seorang pembaca Al-Quran hendaknya berlindung dari setan, baik dalam posisi awal (huduts) atau posisi konsistensinya (baqa). Karena, seperti yang telah dijelaskan, setan itu di awal dan di tengah-tengah terus menyerang dengan virus-virusnya.

 

Mengikis kotoran-kotoran adalah bagian dari isti’adzah. Allah SWT menyuruh Nabi SAW mengucapkan, Bismillah, Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, (QS. Al-Alaq : 1). Karena ia harus mengucapkan dengan nama al-Haq, maka Allah selalu hidup baik dalam huduts atau dalam baqa.

Seseorang ketika mengucapkan ayat-ayat Al-Quran bukan hanya harus berlindung di awalnya saja dan kemudian melupakan Allah, namun seorang pembaca Al-Quran harus terus mengingat Allah di awal dan sampai akhir. Allah harus selalu menggetarkan hatinya. Hati harus selalu melakukan tajalli dan tahalli dengan nama al-Haq diikuti oleh ucapan-ucapan lafzi.

Asma-asma Allah yang diucapkan oleh seorang pembaca hanyalah nama-nama saja karena nama hakiki ada pada derajat emanasi Ilahi. Seorang manusia harus menyucikan menakdiskan nama-nama tersebut, “Sucikanlah nama Tuhanmu yang paling agung,” (QS. Al-A’la : 1). Al-Haq harus disucikan. Demikian pula dengan nama-nama-Nya. Asmaulhusna adalah wasilah bagi al-Haq untuk mengatur semua alam. Allah menjamin manusia dengan asmaulhusna. Seorang manusia yang berkhidmat pada Al-Quran, maka Allah juga melindunginya dengan mengajarkan isti’adzah dan juga jalan untuk memperoleh hidayah. Baik dari dalam diri (inward) atau luar diri (outward).

Orang-Orang Kafir Terhalang untuk Mendengar dan Menyaksikan Al-Quran.

Membaca Al-Quran disingkapkan untuk Rasulullah SAW tetapi ditutupi untuk orang lain. Karena itu, Allah SWT mengatakan, “Dan apabila kamu membaca Al-Quran niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu hijab yang tidak terlihat.” (QS. Al-Isra : 45)

Hijab itu bisa bersifat fisik bisa juga maknawi. Hijab maknawi seperti dosa atau lalai, yang tidak terlihat oleh si pelaku tapi jelas ia menjadi penghalang antara dirinya dan Allah SWT. Imam Zainal Abidin mengatakan tidak ada hijab antara Tuhan dan manusia kecuali dosa. Al-Quran juga mengatakan, “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhijab dari (melihat) Tuhan mereka.” (QS. Muthaffifin : 15)

Mereka bisa berkata, “Tuhan kami, berilah kami pendengaran dan berilah kami penglihatan,” (QS. As-Sajdah : 12) tetapi mereka akan melihat jilatan-jilatan api neraka saja.

Orang-orang kafir tidak dapat mencerap Al-Quran. Mereka tidak dapat memahami ayat-ayat yang dibacakan oleh Nabi SAW karena setan telah menguasai mereka, “Pasti aku (iblis) akan selalu menghalangi mereka dari jalan yang lurus.” (QS. Al-A’raf : 16) Membaca Al-Quran dan mendengarnya adalah simbol dari jalan lurus dan setan selalu berusaha menghalangi siapa pun di jalan ini.

Komentari Artikel Ini

comments