Irfan & Akhlak

Nilai Akhlak dan Amalan Praktis (2)

Petunjuk Imam Khomenei untuk Menghadirkan Hati

Imam Khomenei dalam kitab Sirr al-Shalat menukil pernyataan gurunya, Ayatullah Mirza Muhammad Ali Syahabadi, seorang arif yang sempurna, sebagai berikut:

Seorang manusia ketika berzikir seharusnya mendikte jiwanya seperti seorang yang mendikte anak kecil supaya bisa meniru mengucapkannya. Ketika seseorang mengucapkan zikir dengan lisan, bersamaan dengan itu dia harus menyibukkan diri dengan menuntun hatinya, (yakni) zahir memberikan bantuan terhadap batin. Selama mengeluarkan ucapan di lisannya, dia membantu hatinya. Seperti itulah dia melafazkan zikir dengan lisannya. Selanjutnya, lahirlah semangat dalam diri, dan lelah yang dirasa sebelumnya pun menghilang. Artinya, langkah pertama ialah guru yang menolongnya; dan selanjutnya pertolongan itu muncul dari dalam dirinya sendiri seperti guru.

Jika manusia secara teratur menjaga zikir dan doanya dalam setiap shalat, tentu selanjutnya akan jadi terbiasa. Amalan penghambaan—yang sebelumnya terasa sulit dan berat—lalu berubah seperti amalan biasa yang—untuk menghadirkan hati dalam setiap amalan itu—tidak membutuhkan upaya ekstra lagi (dalam penghayatan). Jadi semua amalan itu kini menjadi perkara alami yang biasa baginya.

Penjelasan yang lebih sederhana berdasarkan petunjuk ini ialah: Seorang pelaku shalat (mushalli) yang ingin meraih kehadiran hati, maka dia harus mendikte makna zikir ke dalam hati setiap megucapkannya. Sebagaimana mengajarkan lafaz “ma-ma” atau “a-yah” kepada anak-anak, seorang  mushalli juga harus mendiktekan makna takbir, tahmid, tasbih, dan seluruh zikir tersebut ke dalam hatinya, sehingga membentuk kondisi konsentrasi terhadap makna shalat, yang selanjutnya akan menjadi kebiasaan bagi jiwa dan rohnya. Setelah makna-makna shalat itu kokoh dalam hati, maka zikir hati akan menjadi penjaga bagi zikir lisan.

 

  1. Mengukuhkan Penghambaan dalam Berkhidmat

Salah satu poin penting yang sering ditekankan dalam setiap hadis Ahlul Bait adalah melakukan ibadah secara sembunyi-sembunyi dan menjauhi setiap riya. Dalam sebuah hadis Nabi SAW bersabda, “Ibadah yang teragung ganjarannya adalah ibadah yang paling disembunyikan.”

Sebagian wali Allah merasakan lezatnya berhubungan dengan Allah SWT selama beribadah dalam keadaan khalwat. Bagi orang-orang yang  tidak mengetahui kenikmatan spiritual, hal ini sulit sekali dipahami.

 

  1. Memberikan Kelezatan yang Melebihi Surga

Ayatullah Sayyid Ahmad Fihri (w.1385 HS), yang pernah berjumpa Ayatullah Ali Qadhi, menukilkan cerita ini : Aku mendengar dari Ayatullah Qadhi, yang berkata, “Dua sampai tiga hari aku berpikir, ‘Seandainya di surga kita tidak diberikan kesempatan untuk shalat, (lalu) apa yang akan kita kerjakan?’”Ayatullah Fihri menambahkan bahwa Ayatullah Qadhi menyampaikan pernyataan yang diingatnya itu dengan logat Turki yang sangat indah.

 

 

Lebih Tinggi dari Kelezatan Material

Ayatullah Bahjat juga menjelaskan tentang kenikmatan yang dirasakan para wali Allah ketika shalat. Di antaranya seperti ini: Guru akhlak kami di Najaf (Almarhum Agha Qadhi) berkata, “Seandainya kenikmatan shalat itu dapat mereka ketahui, tentu mereka akan menyadari bahwa tiada kenikmatan di dunia ini yang sedemikian lezat selain shalat.’”

Putra Syeikh Bahjat—setelah menukil pernyataan dari ayahnya—menambahkan: Selepas melaksanakan shalat subuh Syeikh Bahjat selalu menjadi lemah, berlawanan sekali dengan ativitas ziarahnya di haram Ahlul Bait yang membuatnya bersemangat dan kekuatannya bertambah. Karena itulah, kami mendatanginya dan menyarankan supaya ayah mengurangi shalat sunnahnya. Tetapi, ia menanggapi saran itu dengan berkata, “Apabila para raja dunia mengetahui kondisi manusia yang merasakan kenikmatan shalat, tentu mereka tidak akan pernah mengejar kelezatan material sama sekali.”

 

Sebuah Gambaran Indah tentang Rahasia Salat

Ayatullah Bahjat menggambarkan shalat sebagai berikut:

 

Shalat itu memiliki kedudukan seperti Ka’bah. Takbiratul Ihram merupakan perilaku meninggalkan segalanya selain Allah dan memasuki “tempat suci” (haram) Ilahi. Qiyam berkedudukan bagi dua orang teman yang saling berbicara; rukuk adalah menunduknya hamba di hadapan Tuan-nya, sujud adalah tingkatan akhir ketenangan dan menganggap diri sebagai tanah di hadapan-Nya. Dan, ketika seorang hamba berada di akhir shalatnya, itu menandakan dia kembali dari sisi Yang Mahasuci; dan oleh-oleh pertama yang dibawahnya adalah sebuah salam dari-Nya.

Syeikh Bahjat adalah sosok yang sangat menikmati hubungan rohani dan perasaannya dengan Allah SWT. Menurut pengakuan putranya, ibadahnya selama sehari semalam sebanyak 11 atau 12 jam.

Jawaban Praktis terhadap Satu Syubhat

Ayatullah Fahri menukilkan cerita ini: Sayyid Ali Akbar A’ma berkata, “Selama sepuluh hari keadaanku tak biasa. Ada satu masalah yang terasa menggangguku, tapi kemudian terpecahkan. Sebuah syubhat menghampiriku di saat aku shalat (sunnah), yakni bagaimana mungkin seorang pribadi seperti Uways Qarni … bisa melakukan sujud dari malam hingga subuh?” Selanjutnya, aku rukuk sambil membaca, “Subhana rabbiyal ‘azhimi wa bi hamdihi,” dan tiba-tiba aku merasakan kelezatan yang hebat. Dua kali mengucapkannya, kelezatan yang aku rasakan kian meningkat. Semakin banyak mengucapkan zikir, kelezatan yang kurasakan semakin bertambah pula.

Pertanyaan yang menjadi syubhat bagiku akhirnya terjawab dengan sendirinya. Para ahli makrifat yang memiliki ikatan kuat dengan Allah SWT tidak akan merasa kelelahan ketika beribadah, karena jiwa dan dimensi spiritualnya dilumuri kelezatan.

Syeikh Bahjat juga menukil kisah berikut: Agha Mirza Husain Khalili Tehrani pada usia 19 tahun berkata, “Aktivitas makan bagiku seperti sedang memenuhi tas kulit. Ketika makan, aku tidak merasakan hal yang lezat. Kelezatan yang bisa aku nikmati ialah ketika mengerjakan shalat.” Seorang lain menambahkan cerita, “Setelah melakukan shalat subuh, beliau selalu duduk di mushallah dekat makam Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan meyibukkan diri dengan shalat hingga terbit matahari.”

Syeikh Bahjat memberi penjelasan tentang riwayat Nabi SAW yang berbunyi, “Disukakan kepadaku wanita, dan wewangian dan dijadikan shalat sebagai kesenanganku,” sebagai berikut: Dua hal itu sama-sama dicintai dan memiliki kelezatan takwini, tetapi shalat memiliki kelezatan yang berbeda dari keduanya. Tapi apa yang telah kita lakukan? Sehingga kelezatan itu terasa asin dan pahit sehingga kita selalu ingin cepat-cepat menyelesaikan shalat dan serasa ingin terbebas dari penunaiannya! Sebagian kupu-kupu dan lebah selalu mencari wewangian. Mengambil keuntungan dari spesies yang berbeda merupakan sifat khusus setiap hewan, tetapi bisa menikmati kelezatan shalat merupakan kelebihan dan kriteria khusus bagi manusia.

 

Tentu, menikmati kelezatan dalam shalat adalah sifat khusus yang hanya dimiliki manusia sempurna dan ini merupakan formula para ahli makrifat dan seni mereka dalam melaksanakan ibadah yang memakan waktu lama.

 

Praktik Ibadah yang Berkelas

Salah seorang alim yang bisa menikmati “seni” beribadah hingga waktu yang lama adalah Ayatullah Bahjat, Ayatullah Haji Syekh Muhammad Husain Isfahani—yang dikenal dengan Syekh Kumpani.

 

Syeikh Bahjat berkisah: Agha Khomeini bertanya padaku, “Apa yang engkau ketahui tentang karamah Syeikh Muhammad Husain Isfahani?” Aku jawab, “Karamah beliau sangat terkenal dan sering dinukil ulang; (yakni) selepas melaksanakan shalat magrib dan isya selalu melakukan sujud hingga menjelang waktu sahur!”

Agha Khomeini berkata, “Amalan ini mengandung “cita rasa seni” tinggi dan keindahan.”

Hal penting yang harus diperhatikan bahwa aktivitas “seni berkelas” seperti itu jelas harus dilakukan dalam keadaan berkhalwat, seperti dilakukan oleh alim mulia ini (Ayatullah Muhammad Husain Isfahani). Dituturkan, pernah sekali dia melakukannya di tengah keramaian, yang akhirnya dia mendapat teguran di alam makna, agar tidak mengulanginya.

 

Pertemuan dengan Imam Husain dalam Suasana “Di Atas” Sadar!

Ayatullah Bahjat menukil karamah Ayatullah Muhammad Husain Isfahani yang lain, yaitu melakukan sujud begitu lama di haram Imam Husain. Dituturkan, saat itu Ayatullah Isfahani melihat Imam Husain dan berkata kepadanya, “Amalan seperti ini seharusnya dilakukan dalam situasi khalwat.”

Seseorang bertanya kepada Ayatullah Muhammad Isfahani, “Ketika melihat Imam Husain itu, Apakah anda dalam keadaan mimpi atau sadar?”Syeikh Ishafani berkata, “Dalam keadaan yang lebih baik dari sadar!”

 

  1. Peran Cinta dalam Ubudiyah

Kecintaan Allah SWT merupakan senyawa untuk menyucikan diri dan merangkai kehidupan. Syeikh Bahjat pada kesempatan ini berkata, “Dasar penghambaan (ubudiyah) adalah cinta. Allah SWT berfirman, Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya… (QS. Al-Maidah [5]: 54); dan, Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah… (QS. Al-Baqarah [2]: 165); juga, Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi…” (QS. Ali-Imran [3]: 31).

Ada sebagian kalangan Ahlussunnah yang mengingkari cinta seorang hamba kepada Allah SWT. Cinta hamba kepada Allah bermakna menaati berbagai perintah-Nya dan cinta Allah kepada hamba dimaknai dengan kemurahan-Nya yang memberikan balasan berbagai amalan dan pahala.

Sebuah riwayat menuturkan: Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah SWT adalah hamba yang selalu dibantu-Nya; hamba yang menjadikan kesedihan sebagai baju pelindung dan ketakutan sebagai penutupnya.

Dalam pernyataan lain, Syeikh Bahjat menjelaskan tentang sebuah kalimat dalam Doa Kumail, “wa qalbi bihubbika mutayyamaa.” Kalimat tersebut mengandung pelajaran penting, yakni: Penafian pada “penglihatan diri”. Seorang (pesuluk) harus menjadi laron, bergerak menuju cahaya dan menjadi cahaya. Kita memohon kepada Allah dengan segala daya tarik-Nya, agar kita melepaskan diri (dari seluruh ikatan lain dan diri—peny.). Buatlah kita tak sadar sehingga kita tidak mengerti dan melenyapkan diri di hadapan keagungan-Nya.

Ia melanjutkan penjelasan riwayat di atas dengan menukil sebuah riwayat tentang Munajat Amirul Mukmini Ali kepada Allah SWT, yang menyatakan, “Ya Allah, aku telah menemukan bahwa Engkau sangat layak disembah, maka aku pun menyembah-Mu.”

Ayatullah Bahjat berkata, “Apakah riwayat di atas merupakan bagian dari cerita yang berhubungan dengan laron dan lampu?! Kalian tentu mengatakan, ‘Laron itu melihat dan merasakan cahaya yang terpencar dari lampu.’Kami mengatakan, ‘Ini merupakan cahaya makhluk yang dapat dideteksi dengan inderawi, dan berasal dari cahaya yang tidak dapat dirasa.’ Apakah bisa dikatakan, ‘Aku suka satu lira dan aku senang memilikinya, tetapi aku tidak menyukai 1000 lira?!’”

 

 (Sumber: Buku “Mata Air Kearifan” oleh Muhammad Reysyahri)

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: