Irfan & Akhlak

Haji, Kembali kepada Allah

Syeikh Jawadi Amuli

Meskipun manusia dapat beribadah dan mengunjungi Allah di sembarang tempat dan menjadi tamu al-Rahman (Tuhan yang Mahakasih), namun Zat Allah yang Mahasuci telah menyiapkan dan menentukan beberapa tempat dan waktu (tertentu) untuk menyambut dan menjamu tamu-Nya. Ayat : Maka segeralah kembali (menaati) Allah, maksudnya adalah perjalanan haji. Yakni, meninggalkan selain Allah dan kembali menuju Allah. Sementara, Allah ada di semua tempat. Benar, pengertian perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan dari sisi ruang atau waktu. Sebab, Allah ada disetiap zaman, setiap tanah, dan disemua tempat : Dan Dia-lah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi (al-Zukhruf : 84)

Ya, haji adalah perjalanan khusus, sehingga kembali kepada Allah (harus) ditafsirkan sebagai Ibadah haji. Disini, kembali kepada Allah maksudnya adalah bahwa manusia harus meninggalkan selain Allah dan mencari-Nya. Jadi, salah satu rahasia haji adalah meninggalkan selain Allah dan mencari-Nya. Apabila sesorang menunaikan haji (tetapi) dengan tujuan berdagang, mencari popularitas, atau niat dan tujuan lain (selain ridha Allah), maka ini adalah perjalanan meninggalkan Allah, bukan kembali kepada Allah, dengan demikian, disitu terdapat dua jenis jihad, yaitu Jihad mencari selain Allah dan Jihad mencari keridhaan Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran :

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami (Al-Ankabut:69)

Akan tetapi, sekelompok manusia melakukan jihad untuk mencari keridhaan selain Allah, bukan keridhaan Allah. Orang-orang yang berbuat untuk diri sendiri, mempertahankan kedudukan, mencari popularitas dan sebagainya, jihad mereka adalah untuk selain Allah. Secara otomatis, mereka tersesat dari jalan (Allah), karena : Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. (Al-Ankabut : 69) adapun : orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan selain Allah), pada akhirnya akan : maka mereka tersesat dari jalan Allah.

Begitu juga dengan kembali. Adakalanya kembali kepada Allah dan terkadang kembali kepada selain Allah. Dalam Al-Quran, haji diartikan sebagai kembali kepada Allah. Maksudnya, perjalanan orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah adalah menuju kepada Allah. Sementara, perjalanan menuju Allah memiliki arti bergantung kepada-Nya dan tidak bergantung kepada selain-Nya.

Apabila seseorang menyandarkan diri pada perbekalan dan perlengkapan, usaha dan pekerjaan, serta (bergantung) pada teman seperjalanan, maka ia kembali kepada teman seperjalanannya itu, bukan kembali kepada Allah. Ia melakukan perjalanan menuju hidangannya sendiri, bukan hidangan dan jamuan Allah SWT.

Jadi, salah satu rahasia haji adalah memutuskan kebergantungan kepada selain Allah dan menjalin hubungan dengan-Nya. Ini dimulai dari persiapan penunaian ibadah haji. Siapa saja yang menyiapkan pakaian ihram di kotanya, menyucikan harta, menuliskan surat wasiat, dan berpamitan kepada keluarganya, semua ini, sejak langkah pertama, adalah kembali kepada Allah, ini juga merupakan salah satu rahasia haji.

Dalam semua kondisi tersebut, seseorang selalu bersama Allah. Makna perjalanan (disini) adalah bahwa seseorang berjalan menuju Allah, dalam ridha Allah, bersama Allah dan semata-mata karena Allah. Pengertian ini disebutkan dalam beberapa doa, diantaranya, “Dengan (menyebut) nama Allah, di jalan Allah, dan di atas ajaran Rasulullah.” Barangkali, maksudnya adalah bahwa pebuatan ini dimulai dengan menyebut nama Allah, di jalan Allah, di atas ajaran Allah, dan di atas sunnah Rasulullah SAW.

Ada sebuah riwayat lain dari Imam Ali Zainal Abidin al-Sajjad. Setelah menunaikan ibadah haji, Imam al-Sajjad bertemu (dengan sahabatnya yang bernama) Syibli. Al-Sajjad kemudian bertanya kepadanya, “Apa yang telah anda lakukan ?”

Syibli menjawab, “Saya (baru saja) pulang dari (menunaikan ibadah) haji.”

Al-Sajjad bertanya, “Apakah anda telah ke Miqat? (apakah anda telah menanggalkan pakaian berjahit dan mengenakan pakaian yang tak berjahit (baju ihram)? (apakah) anda (juga) telah melakukan mandi ihram ?” Syibli menjawab, “ya”

Al-Sajjad bertanya, “Apakah ketika mengenakan pakaian tak berjahit (baju ihram), Anda berniat mengenakan jubah ketaaatan?” Syibli menjawab, “tidak”

Al-Sajjad bertanya, “Apakah ketika melakukan mandi ihram, Anda berniat membersihkan diri dari dosa-dosa?”

Syibli berkata, “Tidak, saya hanya menanggalkan pakaian berjahit dan mengenakan baju ihram, mandi, dan berniat. Seperti itulah saya melakukannya, sebagaimana orang-orang (lain) melakukannya.”

Al-Sajjad berkata, “kalau begitu, Anda tidak melakukan ihram.”

Ya, ihram mengandung perintah lahiriah yang dilakukan oleh semua orang dan mengandungi perintah batin yang hanya dilakukan oleh penempuh jalan spiritual dan orang-orang yang memahami rahasia-rahasia haji. Mengenakan pakaian ihram mengandungi sebuah rahasia. Pengertian bahwa anda harus menanggalkan pakaian berjahit adalah bahwa anda harus menanggalkan pakaian dosa. Benar, pakaian dosa yang anda rajut, jahit dan kenakan, harus anda tanggalkan. Pabila anda tidak menanggalkannya, maka tidak ada bedanya antara pakaian berjahit dan pakaian tak berjahit (baju ihram). Inilah tanda-tanda rahasia-rahasia tersebut.

Seseorang, selama satu tahun penuh, mungkin melakukan shalat dan beribadah dengan pakaian berjahit. Ini tidaklah berarti bahwa ibadah dengn menggunakan pakaian dijahit tidak akan diterima Allah. Namun, dalam ibadah haji, ini tidak diterima. Rasulullah SAW hendak mengajarkan kepada manusia tentang rahasia-rahasia haji. Yakni, akan datang suatu hari di mana manusia memasuki hari tersebut dengan mengenakan pakaian tak berjahit, hari kematian ketika manusia hanya mengenakan kain kafan. Dan manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan kain kafan tersebut. Benar, Rasulullah SAW hendak menampakkan kejadian-kejadian tersebut dalam manasik haji dan menjelaskan secara nyata rahasia-rahasia kiamat dalam manasik dan ritual haji.

Benar, anda mengenakan pakaian sederhana yang akan menyingkirkan segala macam bentuk kesombongan dan keangkuhan. (Saat haji), anda mengenakan pakaian tak berjahit (baju ihram) dan perjalanan kematian menjelma di mata anda. Sungguh, kematian dan kiamat akan nampak dan hadir di hadapan anda.

Al-Sajjad berkata kepada Syibli, “Pengertian mengenakan pakaian tak berjahit (baju ihram) adalah, “Tuhanku! Aku menanggalkan pakaian dosa dan aku bertobat atas semua dosa-dosa (ku).”

Hanya tidak melakukan dosa bukanlah perkara penting, yang penting adalah mematuhi (perintah Allah). Oleh karena itu, seseorang mengenakan baju ihram, yaitu pakaian yang tidak dijahit, yang tidak berwarna (bercorak), yang halal dan suci, dengan kata lain, mengenakan baju ketaatan.

Sehubungan dengan pengertian mandi ihram, Al-Sajjad berkata, “Tuhanku! Aku membersihkan segala dosa-dosaku.” Jadi, dalam mandi ihram terkandung tiga hal. Pertama, tidak akan melakukan dosa lagi. Kedua, bertekad untuk selalu mematuhi Allah. Ketiga, menebus dosa-dosa yang telah lalu.

Adakalanya, seseorang mengenakan pakaian kotor nan usang selama beberapa waktu dan kemudian menanggalkannya serta menggantikannya dengan pakaian baru. Dengan demikian, manusia memiliki tiga tugas, yaitu menanggalkan pakaian usang, mengenakan pakaian baru, dan membersihkan serta menyucikan badan.

Ya, dalam ibadah haji, anda harus menanggalkan pakaian berjahit (pakaian maksiat dan dosa). Anda mesti mencuci maksiat-maksiat yang telah lalu dengan air tobat. Maksudnya, “Ya Allah, aku tidak akan melakukan dosa lagi dan aku juga akan mencuci dosa-dosa yang telah lalu.”

Adalah sangat penting bagi manusia untuk melumatkan perbuatan dosa. Inilah yang diharapkan dari pelaku haji, ketika melakukan ihram dan mandi di Miqat. Rahasia yang terkandung adalah, “Ya Allah, aku bersihkan diriku dari perbuatan maksiat dengan cara bertobat (kembali) kepada-Mu. Dengan hati yang suci, aku mengenakan jubah ketaatan.” Inilah rahasia dari ibadah haji.

Kami berharap, kaum muslimin sedunia, setelah mengetahui rahasia-rahasia haji, dapat berziarah ke Baitullah, makam Rasulullah SAW, dan makam para Imam dari keluarga Nabi di Baqi’, dengan hati yang dipenuhi cinta dan rindu.

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: