Kisah & Hikmah

Imam Ali dan Penjual Kurma

Seorang budak perempuan meletakkan kurma dihadapan tuannya. Si tuan melihat kurma tersebut dan kemudian memandang budak tersebut dengan rasa marah. Budak perempuan itu menundukkan kepalannya. Tiba-tiba kedengaran suara sang tuan bergema diudara: Ini kurma apa yang kamu beli? Segera kembalikan kurma ini dan ambil uangnya semula.

Tangan budak perempuan itu mengeletar dan hati kecilnya hancur. Bakul berisi kurma itu diambilnya dan dibawa berjalan. Diperjalanan dia berpikir sendirian, mungkinkah lelaki si penjual kurma itu kasihan padanya dan mengambil kurma ini semula. Tetapi ketika wajah garang si penjual itu terbayang, kekecewaan melanda jiwanya. Budak perempuan itu berdoa meminta bantuan dari Tuhan semoga kurma itu bisa dikembalikan.

Dia melewati lorong-lorong dan jalan-jalan kecil sehingga tiba di pasar. Kata-kata yang ingin diungkap kepada si penjual berulang kali dihafalkan dan dia memperlahankan langkahnya ketika berhampiran dengan toko penjual kurma.Si penjual sedang bercakap dengan seorang lelaki. Budak perempuan itu mengusap peluh yang keluar dari dahinya dengan tangan bajunya, dia melangkah beberapa tapak menghampiri sang penjual dan memberi salam. Lelaki penjual kurma itu yang mendengar suara budak perempuan itu, melihat kepadanya. Si budak perempuan merasa akan pandangan tajam sipenjual kurma. Si penjual kurma berkata: Apa yang engkau mau?

Budak perempuan itu berkata: Saya minta maaf, tuan saya tidak menginginkan kurma ini dan meminta saya memulangkannya.

Lelaki penjual kurma yang mendengar kata-kata ini, mengerutkan wajahnya dan suaranya seperti panah yang menusuk hati budak perempuan itu. Penjual itu berkata: Apa maksud mu tuanmu tidak menginginkan kurma ini? Aku tidak akan mengambil kurma ini. Jika dia ingin, dia sendiri harus datang ke sini untuk mendapatkan kurma yang diingininya.

Budak perempuan itu tidak dapat memberi sebarang jawaban. Bagaimanapun juga dia harus memulangkan kurma tersebut. Sekali lagi dia meminta kepada si penjual: Tuan, aku meminta supaya engkau ambillah kurma ini dari ku dan jika aku pulang ke rumah dengan kurma ini, tuan ku akan menghukum aku. Si penjual dengan suara yang lebih kuat berkata: Masalah ini tidak ada urusan dengan ku. Jika engkau tidak ingin, engkau tidak perlu membelinya dariku, jika sampai malampun engkau meminta dan merayu kepada ku, tidak ada faedahnya. Seperti yang telah aku katakan barang yang telah dijual tidak akan aku ambil kembali.

Budak perempuan yang mendengar ucapan si penjual merasa kecewa. Dia melangkah dua tapak ke belakang. Dia duduk di satu sudut dan kepalanya diletakkan di atas lututnya yang kurus. Ketika itu air matanya mengalir deras. Pada masa yang sama dia merasakan ada bayang seseorang di atas kepalanya. Dia mengangkatkan kepalanya dan matanya memandang seorang lelaki yang dikenali. Dia memiliki wajah yang baik. Pandangannya dipenuhi dengan kasih sayang. Dengan melihat kepada lelaki itu, cahaya harapan kembali ke jiwanya. Lelaki itu berkata: Anakku, mengapa, apa yang telah terjadi?

Budak perempuan itu dengan tangannya menunjuk ke arah toko kurma berkata: Orang ini, tempat aku membeli kurma enggan mengambilnya semula. Tuanku tidak menginginkan kurma ini. Lelaki baik itu mengambil bakul kurma dari tangan budak perempuan tersebut dan dibawanya ke arah toko kurma. Ketika itu si lelaki itu berkata kepada penjual kurma: Wahai lelaki! budak perempuan ini tidak bersalah, ambil kembali kurma ini dan pulangkan uangnya.

Si penjual yang melihat lelaki ini, menarik mukanya dan dengan suara yang kuat berkata: Masalah ini tidak ada kaitannya dengan mu. Mengapa engkau turut campur dalam urusan orang lain? Lebih baik engkau tinggalkan perkara ini dan pergilah.

Orang-orang yang lalu dan sebagian pemilik toko yang mendengar suara lelaki penjual kurma itu, pergi ke arah toko tersebut. Ramai dari rakyat mengenali lelaki baik itu dan dengan hormat melihat ke arahnya. Pada ketika itu seorang dari kalangan rakyat berkata kepada penjual kurma: Diamlah, engkau tidak kenalkah lelaki ini? Dia adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Dengan mendengar nama Ali, lelaki penjual kurma merasa terkejut dan bimbang. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan dan apa yang harus dilakukannya.

Lelaki penjual kurma dengan suara tersekat-sekat dan ucapan yang terpotong-potong meminta maaf dari Imam Ali dan tidak mengambil hati dengan perilaku buruknya. Imam Ali ketika melihat akan kesan penyesalan di wajah penjual kurma berkata: Jika engkau mengubah perilakumu, aku akan memaafkan mu.

Dengan cara ini si penjual kurma itu memulangkan uang kepada budak perempuan tersebut dan mengambil kembali kurmanya. Kebaikan Imam Ali menyentuh perasaan budak perempuan itu dan mengucapkan kesyukuran kepada Tuhan atas segala karunia-Nya.

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: