Irfan & Akhlak

Kemestian Memahami Rahasia Haji

Oleh : Syeikh Jawadi Amuli

Dengan perkenan Tuhan yang Mahasuci, kami akan memaparkan kajian singkat tentang rahasia-rahasia ibadah haji. Meskipun topik kajian ini adalah ‘paparan tentang rahasia-rahasia haji’. Namun intisari pembahasan ini sebenarnya mengacu pada “analisis tentang rahasia-rahasia ibadah (secara umum).” Sebab, semua ibadah memiliki rahasia, baik rahasia yang bersifat umum maupun khusus. Oleh karena itu, manusia harus memahami kedua jenis rahasia ibadah ini (yang umum maupun khusus), sehingga ia dapat memahami rahasia selain ibadah haji pula.

Keagungan haji banyak disebutkan dalam doa-doa bulan suci Ramadhan. Ini menandakan bahwa Allah SWT ingin menyempurnakan jamuan di bulan Ramadhan bagi tamu-tamu-Nya, dalam beberapa bulan (setelah itu).

Jamuan Allah

Pembukaan jamuan Allah bagi tetamu-Nya di mulai pada bulan suci Ramadhan, sementara penutupnya adalah bulan Dzulhijjah, yang merupakan akhir dari bulan-bulan suci dan bulan haji. Benar, haji adalah jamuan Allah dan orang-orang yang berhaji adalah para tamu undangan al-Rahman. Kata jamuan yang berhubungan dengan ibadah puasa dan haji diambil dari riwayat-riwayat Islam (hadis). Dalam Islam, tekadang digunakan kata ibadah adakalanya digunakan kata jamuan (untuk menggantikannya). Ibadah sering dipaparkan dalam kajian tentang fikih (bentuk-bentuk lahiriahnya), sementara jamuan sering dianalisis dalam pembahasan tentang rahasia-rahasia ibadah.

Salah satu doa paling agung di bulan suci Ramadhan adalah permohonan (agar seseorang dapat) menunaikan ibadah haji, Doa ini biasanya dibaca berulang-ulang di bulan suci Ramadhan, dalam doa siang dan malam bulan suci Ramadhan, misalnya, terdapat kalimat, “Dan anugerahkanlah kepadaku (kesempatan untuk) menunaikan ibadah haji di rumah suci-Mu, di tahun ini dan di setiap tahun.”

Doa tersebut merupakan doa teragung di bulan suci Ramadhan, dimana, dalam bulan ini, orang yang berpuasa menjadi tamu Allah. Jamuan itu sendiri memiliki dua tahapan. Pertama, sang penjamu berkata kepada tamu-tamu-Nya: Mintalah sesuatu! Dan, Kedua, sang penjamu memberikan apa yang diinginkan tetamu-Nya.

Di bulan suci Ramadhan, Sang penjamu -Allah SWT- memberikan perintah kepada hamba-hamba-Nya yang berpuasa : mohonlah kepada-Ku kesempatan untuk menunaikan ibadah haji. Benar, upacara dan manasik haji merupakan jamuan dari Allah, namun jamuan itu bukan lantaran adanya permintaan, itu merupakan pemberian (dari Allah). Dalam hal haji, Allah tidak berfirman : Mintalah dari-Ku, namun, Dia menyatakan : Allah (senantiasa) mengabulkan permohonan. Sebab, permohonan dan pemberian saling berkaitan. Maksudnya, setiap pemberian (Sang Tuan) akan selalu dibarengi dengan permohonan (Sang Hamba). (dalam doa kita sering membaca), “Wahai Tuhan yang pemberian-Nya tidak menambah, kecuali kedermawanan dan kemuliaan-Nya.”

Setiap kali manusia mengenal Allah, ia akan menjadi lebih “haus” (akan Allah). Mulanya, ia tak tahu apa yang (harus) ia minta dari Allah, sebab, ia tidak tahu kenikmatan-kenikmatan apa yang tersaji dalam jamuan Allah. Namun, ketika ia mengalami perubahan spiritual dan mulai melihat sesuatu dibalik tirai, muncullah permohonannya. Setiap tahap pemberian dan anugerah akan menghidupkan tingkat keinginan dan kemauan dalam diri manusia. Melalui permintaan dan permohonan, ia akan mengharapkan tahapan yang lebih baru dari Allah SWT.

Dalam beberapa keadaan, sifat “tamak” justru sangat baik. Yakni tamak akan pengetahuan dan ilmu keagamaan. Tamak akan hal-hal yang bersifat materi adalah sifat yang buruk, sementara merasa puas terhadap kehidupan materi adalah sifat yang buruk, sementara merasa puas terhadap kehidupan materi adalah sifat yang bijak, Ya, merasa puas terhadap ilmu pengetahuan merupakan sifat buruk, sama halnya seperti tamak terhadap kekayaan duniawi. Sungguh memalukan bila manusia merasa puas dalam hal pengetahuan. Seharusnya, ia mengharapkan yang lebih banyak lagi dari yang diperolehnya itu. Sebab, Allah SWT memberikan dorongan dan semangat kepada hamba-hamba-Nya untuk memohon: Mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap. (As-sajadah: 16)

Setiap kali rasa takut, harapan, doa, dan permohonan bertambah, maka keikhlasan dan kedekatan akan lebih meninggi lagi. Benar, setiap kali Allah memberikan kasih sayang kepada hamba yang menempuh perjalanan spiritual, maka dalam dirinya akan muncul permintaan (kebutuhan). Dalam menanggapi permintaan ini, Allah akan memberikan jawaban baru kepadanya. Jawaban baru ini merupakan “tambahan pemberian”.

Doa yang selalu kita baca dibulan suci ramadhan, “Wahai Tuhan yang pemberian-Nya tidak menambah, kecuali kedermawanan dan kemuliaan,” menjelaskan pengertian diatas. Adakalanya dalam berdoa kita mengucapkan, “Ya Allah, apapun yang Engkau berikan, kekayaan-Mu tidak akan berkurang.” Doa ini sangat jelas pengertiannya. Terkadang pula kita berseru, “Setiap kali Engaku memberi, kekayaan-Mu bertambah banyak”.

Benar, setiap kali Allah memberi, maka sifat lapang dada, keinginan, dan permintaan hamba akan bertambah. Ketika permintaan bertambah, maka pemberian yang diperolehnya akan lebih banyak pula. Dan ketika pemberian lebih banyak lagi, maka permintaan akan lebih bermunculan. Dihadapan permintaan yang lebih baik dan lebih banyak ini, seorang hamba akan mendapatkan pemberian tambahan yang lebih banyak lagi. Atas dasar ini, dengan memberi, Kekayaan Allah tidak akan berkurang, bahkan malah akan bertambah. Sebab kekayaan Allah terjaga dengan kehendak-Nya yang benar, dan kehendak Allah tidak terbatas.

Oleh karena itu, dalam tahap jamuan di bulan suci Ramadhan, Allah memerintahkan kita agar meminta dan memohon kesempatan untuk mengunjungi dua tempat suci (Kabah al-Musyarrafah dan makam Rasulullah SAW) serta tempat-tempat suci lainnya. Dalam doa bulan suci Ramadhan, disebutkan permohonan untuk dapat mengunjungi rumah suci Allah (Kabah), makam suci Rasulullah SAW, dan makam-makam suci para imam. Dalam doa Abu Hamzah al-Tsimali, misalnya, disebutkan, “Wahai Tuhanku, janganlah Engkau menjauhkanku dari (kesempatan) berziarah ke tempat-tempat suci!”

Dalam jamuan biasa, tidak mungkin tuan rumah bertanya kepada tamunya, “Apa yang anda inginkan dari saya?” Sebab, apapun yang disuguhkan oleh tuan rumah, para tamu pasti menerimanya. Ya, tamu akan menerima hidangan jamuan dari tuan rumah. Akan tetapi, disini, Tuan rumah berkata kepada tamu-Nya, “Apa yang anda inginkan dari saya? Apapun yang Anda inginkan, Saya akan memenuhinya. Mintalah kepada Saya untuk berziarah ke rumah Saya. Mintalah kesempatan untuk berziarah ke (makam) Rasul Saya, mohonlah kepada Saya (kesempatan) untk berziarah ke tempat-tempat suci.”

Itulah jamuan di bulan Suci Ramadhan. Dan salah satu diantara hidangannya adalah kesempatan untuk menunaikan ibadah haji.

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: