Kisah & Hikmah

Pemuda Berambisi Tinggi

Sewaktu manusia melihat dirinya tertinggal dan tidak mampu melakukan sesuatu dari segala dimensi, maka pada saat-saat genting itu, doa bagaikan suatu cahaya pengharapan yang bersinar di dalam hati manusia dan disamping itu sang pendoa akan menemukan ketenangan batin, percaya diri, kelembutan ruh, cinta dia juga akan menampakkan makrifatnya.

Allah subhanahu wata’ala menghitung doa dan permohonan kepada-Nya sebagai salah satu nilai-nilai penting keinsanian dan kemaknawian dan mengatakan: {Qul ma ya’bau bikum rabbi lawla du’aaukum}  “Katakanlah (Muhammad, kepada orang-orang musyrik),” Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak karena ibadahmu}.

Pemuda Berambisi Tinggi

Telah tujuh tahun kemarau melanda di tengah kaum Bani Israil.Masyarakat memohon kepada Nabi Musa as agar beliau meminta dari Tuhannya untuk menurunkan hujan. Dengan dalil ini Nabi Musa as bersama sejumlah dari masyarakat pergi ke padang pasir untuk meminta hujan. Tuhan memberi wahyu kepada Nabi Musa as dan berkata: “Wahai Musa! Bagaimana Saya akan mengijabah doa mereka padahal mereka banyak melakukan dosa dan maksiat sehingga batinnya telah kotor dan hati-hati mereka telah gelap, mereka menyeru Aku tetapi tidak yakin kepada Kami. Wahai Musa! Saya mempunyai hamba bernama Barakh, jika dia datang dan berdoa Kami akan menerima doanya.

Suatu hari Nabi Musa as mencari dia dan menemukannya tatkala beliau sedang melewati jalan, dan melihat seorang yang berjidat hitam  karena bekas sujud, Nabi Musa as mengenali dia dengan cahaya Tuhan dan memberikan salam kepadanya lalu menanyakan namanya. Dia berkata: Barakh. Nabi Musa as menginginkan darinya untuk mengikutinya dan memohon minta hujan kepada Tuhan. Ketika mereka telah sampai di padang pasir lelaki berjidat hitam itu menengadahkan tangannya ke langit dan dengan khusyu dan perasaan cinta memulai munajatnya: “Ilahi padamkanlah kemarau yang panjang nan berat ini sebab perkara ini sangat jauh dari kelembutan-Mu, jikalau Kamu mengazab kami, apakah awan-awan tidak patuh atas perintah-Mu? Apakah angin-angin telah menyimpang dari perintah-Mu?Ataukah cadangan rahmat-Mu telah habis bagi kami?Ataukah kemurkaan-Mu telah dahsyat atas para pendosa?Apakah sebelumnya ini Kau adalah Pengasih dan Pemurah?Tuhanku, dahulu Kau adalah pencipta rahmat sebelum teciptanya orang-orang yang berbuat kesalahan?Dan Kau berkata dengan kasih sayang dan kelembutan, bukankah hamba-hamba-Mu tidak dapat berlari di bawah perintah-Mu yang Kau segerakan mereka dalam azab-Mu? “

Barakh masih belum juga beranjak dari tempatnya, tiba-tiba hujan turun dan mengalir sedemikian rupa, akhirnya Bani Israil telah kenyang air dari kehausannya. Barakh lalu memasuki kota dan berkata kepada Nabi Musa as: Wahai Musa! Kamu lihat bagaimana saya berdebat dengan Tuhan dan Tuhan berbuat adil kepada kita! Nabi Musa as marah melihat kepongahan dia terhadap Tuhan dan ingin mengadukannya. Dan telah tiba panggilan dari sisi Tuhan: Wahai Musa janganlah kamu mengurusi lelaki hitam ini, karena dia setiap harinya tiga kali membahagiakan Kami.

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: