Kisah & Hikmah

Aku Telah Menjadi Seorang Muslim

Tufayl bin ammar adalah seorang penyair, yang manis tutur bahasanya dan seorang yang cerdas. Ditengah kabilahnya, dia seorang yang selalu didengar ucapannya. Suatu hari, dia berkunjung ke kota Makkah. Bagi bangsa quraysi, keislaman seorang seperti Tufayl adalah masalah yang sangat besar. Oleh karena itu, para pemuka dan pemimpin bangsa Qurays mendatangi Tufayl.

Mereka berkata kepada Tufayl, “Ketahuilah, orang yang sedang melakukan shalat di samping Ka’bah itu telah merusak persatuan bangsa kami dengan agama baru yang dibawanya, dan dengan kata-kata shirnya, dia telah meletakkan batu perpecahan diantar kami. Kami khawatir, dia pun kelak akan membuat kabilahmu terpecah menjadi dua kelompok. Alangkah baiknya bila kau tak bicara dengannya.”

Tufayl mengisahkan : setelah mendengar keterangan para pemuka Quraysi itu, muncul hatiku rasa takut. Karena khawatir terpengaruh oleh ucapan-ucapan penuh sihir orang itu, aku bertekad untuk tak berbicara dengannya, bahkan tak akan mendengarkan ucapan-ucapannya, untuk mencegah pengaruh sihirnya itu, sewaktu Thawaf, aku menyumpalkan kapas ke dalam telingaku, agar tak terdengar oleh kedua telingaku untaian ayat-ayat al-Quran yang dilantunkan dan bacaan-bacaan shalatnya.

Suatu pagi, masih dengan kedua telinga tersumpal kapas, aku memasuki masjid, tanpa sedikitpun ada keinginan untuk mendengar kata-kata orang itu. Namun tiba-tiba, itu terdengar jua oleh kedua telingaku; rangkaian kata-kata yang sangat manis dan indah. Aku benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa ketika mendengarnya. Setelah itu, aku berkata sendiri, “Duhai ibu, janganlah kau duduk dalam duka. Bukankah engkau seorang ahli retorika dan cerdas ? lantas, apa salahnya bila kau dengar kata-kata lelaki itu, jika ternyata baik, maka terimalah olehmu, sebaliknya bila itu buruk dan tidak terpuji, maka tolaklah.”

Kemudian, agar tak tampak oleh orang lain aku bertemu dengannya, dengan sedikit bersabar aku menunggu hingga lelaki itu masuk ke rumahnya setelah dia masuk, aku pun meminta izin untuk masuk ke rumahnya. Di dalam, kuceritakan semua peristiwa yang kualami dari awal hingga akhir. Aku berkata, “orang-orang Qurays telah mengatakan suatu hal yang buruk menyangkut dirimu kepadaku. Awalnya. Aku tak pernah ingin bertemu denganmu hingga akhirnya untaian ayat-ayat al-Quran yang terdengar olehku telah menarik diriku kepadamu. Kuingin engkau menjelaskan hakikat agamamu itu dan bacakanlah sebagian dari al-Quran kepadaku.”

Akhrinya, Rasulullah SAW menjelaskan Islam kepadanya dan membacakan sebagian ayat-ayat al-Quran. Tufayl melanjutkan : Aku bersumpah demi Allah, tak pernah kudengar kata-kata yang lebih indah darinya dan tak ada agama yang lebih lurus dari agamanya. Aku lalu berkata kepada Rasulullah.” Aku adalah orang yang terpandang dan berpengaruh dikabilahku, karena itu aku akan berusaha keras untuk menyebarkan agamamu ini diantara mereka.”

Ibnu Hisyam menuturkan bahwa hingga Perang Khaibar, Tufayl berada diantara kabilahnya. Dia selalu berusaha keras untuk menyebarkan agama Islam selama berada di antara mereka. Pada hari terjadinya Perang Khaibar, dia bersama 80 (delapan puluh) keluarga muslim lainnya bergabung dengan Rasulullah SAW. Dia sangat kuat memegang agamanya itu. Hingga akhirnya, sepeninggal Rasulullah SAW, pada masa pemerintahan salah seorang Khalifah Rasyidin dalam peperangan Yamamah, dia termasuk kaum muslimin yang berhasil mereguk air kesyahidan..

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: