Kisah & Hikmah

Drama Di Sudut Ka’bah

Dulu 1.400 tahun silam, ada drama kemanusiaan yang terjadi di sudut Ka’bah. Sayyid Ibn’ Thawus meriwayatkannya : “Malam sudah larut dan subuh hampir menjelang. Angin gurun pasir berembus menusuk tulang. Bukit-bukit batu, hamparan tanah yang tak berujung, dan pepohonan kurma tertunduk kaku dalam rangkaian siluet. Aku sedang mengaji sendiri di Masjidil Haram ketika aku menyaksikan pemuda yang telah berjam-jam mengitari Ka’bah. Tak henti-hentinya dia menangis, sesekali diiringi jeritan tasbih dan shalawat kepada Nabi dan keluarganya. Tak seorang pun mengamatinya. Tiba-tiba wajahnya menatap langit yang sunyi sambil berdoa: “Tuhanku, kini gemintang di langit-Mu sudah beringsut dan mata hamba-hamba-Mu sudah terpejam. Namun, pintu-Mu terbuka lebar bagi mereka yang memohon. Aku datang kepada-Mu agar Engkau mengampuniku dan merahmatiku.”

Hatiku terdorong untuk menghampirinya. Kini, aku mendengar rangkaian munajatnya dengan lebih jernih.

Demi keagungan dan kemuliaan-Mu, aku tidak bermaksud menentang-Mu dengan kemaksiatanku. Bukan pula aku meragukan (janji)-Mu, meremehkan azab (akhirat)-Mu, atau menantang siksa-Mu. Semua itu sungguh karena tipuan nafsuku. Berilah aku pertolongan dengan ampunan-Mu yang memberi ketentraman. Siapakah yang dapat menyelematkanku dari siksa-Mu? Dengan tali apa aku harus berpegang bila Engkau putuskan tali-Mu? Duhai, alangkah buruk nasibku kelak saat aku berdiri di hadapan-Mu dengan umur panjang yang hanya berisi tumpukan dosa yang menghadang jika Kau tak memberiku kesempatan bertobat kepada-Mu. Aku sangat malu pada-Mu oh Tuhanku!’.

Tangis pemuda itu semakin memecah keheningan malam mengiringi lantunan bait-bait syair ini : “Apakah Engkau akan membakarku dengan api neraka, Wahai Puncak segala harapan / Lalu, apalagi sumber harapanku/ dan siapa lagi yang mau menjadi kekasihku?, aku datang (kepada-Mu) dengan amal yang buruk dan timbun dosa, di persada ini tak ada yang begitu berdosa seperti diriku.”

Kembali dia menangis tersedu-sedu, bersimpuh dengan kepala menatap tirai Ka’bah dan berteriak, “Mahasuci Engkau, Tuhanku! Engkau dimaksiati seakan-akan Engkau tidak terlihat. Sedangkan Engkau menyayangi mahluk-Mu dengan perbuatan baik seakan-akan Engkau tidak pernah dimaksiati, seakan-akan Engkau-lah yang membutuhkan mereka. Padahal, Engkau, wahai junjunganku, sama sekali tidak butuh pada mereka.”

Pemuda itu lalu merapatkan dahinya di tanah dalam zikir dan munajat yang tidak berhenti. Pada saat itu, aku mendekatinya dan mengangkat kepalanya untuk aku rebahkan di pangkuanku. Sadarlah aku bahwa pemuda itu tak lain adalah Ali Zainal Abidin, putra Husein cucu Nabi.

Aku tak kuasa menahan tangis. Air mataku bercucuran deras hingga membasahi pipinya. Kemudian, dia menatapku dan bertanya, “Siapakah kau?”. Aku Thawus, wahai putra Rasul. Duhai, apakah gerangan yang membuat Tuan demikian bersedih dan menangis seperti ini ? padahal, akulah orang yang banyak maksiat dan dosa sedangkan Tuan, ayah Tuan adalah Husein, Ibu Tuan adalah Fathimah Az-Zahra, dan kakek Tuan adalah Rasulullah SAW.”

Beliau menatapku lemah dan berkata, “Sudahlah Thawus, sudahlah. Jangan kau berbicara tentang Ayah, Ibu, dan Kakekku. Sebab, Allah menciptakan surga untuk orang-orang yang taat dan berbuat baik, sekalipun dia orang-orang negro Ethiopia, dan menciptakan neraka bagi mereka yang bermaksiat, sekalipun dia bangsawan Quraisy. Tidakkah kau pernah mendengar Firman Allah yang berbunyi, “Apabila sangkakala ditiup, tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak pula mereka saling bertanya.” (QS. Al-Mu’minun (23):101). “Demi Allah, kelak tidak bermanfaat bagimu, kecuali kau datang dengan membawa amal saleh.”

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: