Kisah & Hikmah

Kata-Kata Jibril Tentang Ayah dan Ibu

Buletinmitsal.com – Ketika Rasulullah SAW berhijrah dari Mekah ke Madinah, kaum Anshar telah membangunkan mesjid untuk beliau SAW. Ketika beliau berdiri di tengah-tengah mesjid, beliau bersandar pada sebuah tiang bernama Hannanah sambil memberikan wejangan kepada kaum muslimin. Setelah itu mereka meminta izin kepada beliau untuk membangun sebuah mimbar dan beliau pun merestuinya.

Mereka membuat sebuah mimbar yang memiliki tiga anak tangga. Ketika meletakkan kakinya di anak tangga pertama, beliau mengucapkan, “Amin.” Begitu pula ketika kaki beliau menapaki anak tangga kedua dan ketiga. Pada saat beliau duduk di atas mimbar dan akan memulai khutbahnya, tiba-tiba tiang itu merintih dengan suara keras dan lebih keras dari suara beliau.

Rasulullah SAW turun dari atas mimbar dan memeluk tiang tersebut sambil menenangkannya; tak ubahnya seorang ibu yang sedang menenangkan anaknya, kemudian berkata. “Demi Allah, Tuhan yang mengutusku untuk memberi petunjuk manusia, apabila aku tidak menenangkan tiang ini, maka dia akan terus merintih karena berpisah denganku sampai hari kiamat!”

Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa Anda mengucapkan Amin, padahal tidak ada orang berdoa?”

Rasulullah SAW menjawab, “Jibril as berdoa dan saya mengaminkannya.”

Mereka bertanya, “Apa doa jibril itu?”

Rasulullah SAW menjawab, “Ketika aku melangkahkan kakiku ke anak tangga pertama, Jibril berkata, ‘Siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya atau salah seorang di antara mereka, (masih) dalam keadaan hidup, sementara dosanya (tetap) tidak terampuni, niscaya Allah akan menjauhkannya dari rahmat-Nya.’ Saya pun mengamininya. Ketika saya berada di anak tangga kedua, Jibrul berkata, ‘Siapa saja yang mendapati bulan Ramadan dan dosanya (tetap) tak terampuni, maka Allah akan membinasakannya.’ Saya juga mengamininya. Ketika saya berada di atas anak tangga ketiga, Jibril berkata, ‘Siapa saja yang mendengar namamu dan tidak bershalawat, niscaya akan terjauhkan dari rahmat Allah.’ Saya pun mengucapkan, ‘Amin’”

(sumber : Kisah Ayah & Ibu, Ahmad Mir Khalaf Zadeh & Qasim Mir Khalaf Zadeh, Penerit Qorina)

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: