Kisah & Hikmah

Pembunuhan Terhadap Ayah

Menghormati orang lain dan satu sama lainnya merupakan salah satu dari ajaran-ajaran Al-Quran. Memberikan salam, menyanyangi dan memanggilnya dengan nama yang baik adalah juga merupakan bagian-bagian dari rasa saling menghormati satu sama lain yang perbuatan ini akan menyebabkan kedekatan hati seseorang terhadap yang lainnya dan akan tercipta kasih sayang dan persatuan di dalam masyarakat, dan sebaliknya Al-Quran menolak dengan keras terhadap penghinaan dan pelecehan serta berkata kasar kepada orang lain sesuai dengan ayat yang berbunyi: (Wa laa tanaabazuu bil alqaab) “Dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”  Perbuatan ini akan menyebabkan ketidaksenangan dan kejengkelan di antara orang-orang dan api kebencian akan semakin menyala di dalam setiap hati. Cerita di bawah ini adalah sebuah contoh dari parahnya akibat yang di timbulkan dari perbuatan yang tidak terpuji ini:

Pembunuhan Terhadap Ayah

Mutawakkil Abbasi sangat memusuhi Imam Ali Kw dan selalu berusaha untuk lancang terhadap Imam Ali di dalam majelis-majelis umum dan khusus dan akan selalu mengatakan hal-hal yang tidak terpuji. Pada suatu hari seperti kebiasannya dia menghina Imam Ali. Anaknya Muntashar yang juga hadir pada waktu itu setelah mendengar perkataan ayahnya, wajahnya menjadi berubah  dan sangat geram. Mutawakkil merasakan bahwa anaknya menjadi marah dengan ucapannya, karena Muntashar pun tidak luput dari ucapan ayahnya di mana dia di hina dan diolok-olok di depan umum oleh ayahnya yang juga memusuhinya. Muntashar adalah merupakan pemegang khalifah setelah ayahnya dan dia anak muda yang baru berusia 25 tahun, dia tidak dapat menahan perbuatan tercela ayahnya dan pada saat itu juga api kebencian menyala di dalam hatinya dan berencana untuk membalas dendam terhadap ayahnya sendiri.

Atas dasar itu pada kesempatan pertama dia mengumpulkan sejumlah bawahannya di dalam kerajaan dengan janji-janji harta dan kedudukan serta bersama-sama membuat rancangan untuk membunuh ayahnya.

Pada suatu malam Mutawakkil sedang mabuk dan dia sibuk berpesta minuman keras bersama para pengawalnya. “Bagaau Shagir ” adalah kepala perayaan pesta di istana itu dengan serta merta meliburkan para tamu dan pengawal khalifah dan yang tinggal hanya Fath bin Khaqan di dekatnya yang merupakan orang terdekat dan pengawal Mutawakkil. Saat itulah para pengawal pemberani memasuki istana dengan sembunyi-sembunyi untuk menjalankan rencana pembunuhan terhadap Mutawakkil, mereka menyerbu ruangan Mutawakkil dengan pedang-pedang tajam.

Fath bin Khaqan berteriak dengan keras setelah menyaksikan peristiwa mengerikan tersebut dan berkata: Apakah kalian ingin membunuh khalifah muslimin?! Pada saat itulah dia menjatuhkan dirinya di dekat khalifah tetapi para pengawal tidak memberikan kesempatan dan keduanya pun terbunuh dan pada tengah malam itu semua pengawal kembali ke Muntashar lalu mengucapkan selamat atas derajat kekhalifaan kepadanya.

Komentari Artikel Ini

comments

%d blogger menyukai ini: